Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 58 : Tuhan adalah tempat curhatmu


__ADS_3

Hari itu, dan tepatnya pada jam setengah delapan pagi, yang di mana Sultan tengah menunggu kekasihnya tersebut tiba di stasiun Cianjur.


Dan kala itu ia menunggu di luar gerbang pintu masuk stasiun kereta Cianjur, dikarenakan Sultan merasa bimbang akan Rere mengetahui keberadaannya di sana, dan terlebih Sultan pergi menyusulnya ke Cianjur atas dasar kemauannya sendiri, dan bukan melainkan Rere yang menyuruhnya untuk datang menemuinya di sana sendiri.


Tak lama setelah Sultan menunggu Rere di sana, dan hingga pada akhirnya Rere pun telah tiba di stasiun Cianjur tersebut, dan maka dari itu, Sultan pun lalu bergegas pergi menuju lokasi yang nantinya akan Rere kunjungi itu di sana.


"Akhirnya Re, kamu sampai juga di sini, aku duluan ya, sampai bertemu di sana ya, Re, walaupun nanti aku takan menghampirimu di sana, namun akan tetapi aku bakalan terus selalu memperhatikanmu tanpa lelah, karena bilamana aku lengah sedikit saja! maka aku harus siap bermusuhan dengan diriku sendiri ini Re," ucap Sultan dalam hati sembari melirik Rere sekejap, ketika mana Rere pergi ke luar dari stasiun Cianjur tersebut itu.


Motor tua pun dinyalakan kembali oleh Sultan, dan rencananya ia akan pergi terlebih dahulu ke alun-alun Cianjur, dan hingga pada akhirnya Sultan tak perlu merasa khawatir kembali karena Rere pasti takan bisa menemukannya di sana, dan terlebih orang-orang yang mengunjungi tempat itu bukanlah hanya Rere dan Dini saja, melainkan orang-orang dari luar kota jauh pun pada berdatangan mengunjungi tempat tersebut, dikarenakan tempat tersebut memang begitu indah dan nyaman bilamana kita menginjakan kaki kita untuk pertama kalinya di sana.


Sultan sudah mengira dari awal, bahwa ia akan sampai ketempat tujuan lebih dulu dari pada mereka berdua di sana, dikarenakan Rere bersama dengan Dini, hanya menaiki angkutan umum saja, dan tentunya itu akan menguras waktu yang lebih lama lagi bilamana dibandingkan dengan Sultan yang menaiki motor itu di sana, dan tentunya waktu yang Sultan butuhkan untuk sampai kelokasi tersebut, tidak akan selama menaiki angkutan umum.


Sebelum itu, yang di mana Sultan tengah memarkirkan motor tuanya tersebut diparkiran yang telah disediakan di sana, dan dengan seketika pundak Sultan ditepuk oleh seseorang wanita, yang di mana wanita itu adalah Mega.


Mega adalah teman keluh kesal Sultan, yang di mana Mega adalah teman satu Organisasi di Pramuka juga, namun sekolah mereka tentunya berbeda, dan sedangkan Mega bersekolah di SMK yang berada di Cianjur.


"Sultan," ucap Mega sembari menepuk pundak Sultan.


"Ehh, haii, sampai kaget gue Ga! gimana lu? sehat kan di sini? udah punya calon belum lu?" ucap Sultan kepada Mega.


"Idihh, kenapa lu Tan? biasanya kalau kita ketemu tanpa kabar, elu engga pernah sekaget ini sama gue, ada apa nih?".

__ADS_1


"Ciee, pantesan dari tadi Mega ngebet banget pengen kita temenin ke sini ya, dan ternyata dia ada janji sama teman lamanya yang hendsome boy ini," ucap teman wanita Mega, yang di mana waktu itu Sultan sedang dikerumuni oleh mereka, yang sekitaran berjumlah 5 orang wanita cantik.


"Engga ihh, kita engga janjian kan Tan?" ucap Mega.


"Yap, benar ... kita berdua engga sengaja bertemu kok."


"Yaudah ya, kita tinggal dulu sebentar, entar kalian berdua tinggal samperin kita di sana aja oke," ucap teman-teman Mega kembali sembari menunjuk ke arah tempat, yang di mana mereka akan duduki di sana.


....


Setelah perbincangan Sultan itu, kemudian teman-teman Mega semua meninggalkan mereka berdua untuk berbincang sebentar karena waktu itu, adalah waktu yang di mana takan pernah bisa terulang kembali.


Sultan dan Mega pun di sana berbincang seperti layaknya seorang saudara yang telah lama dipisahkan. Mereka tertawa-tawa kerena pertemuannya ini memang benar-benar tidak mereka rencanakan sebelumnya, dan ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak terduga-duga saja.


"Sebenarnya gue cuma iseng-iseng aja sih Ga, ketambah gue udah mulai sumpek diem dirumah seorang diri mulu, dan udah itu gue juga sebenarnya lagi nunggu seseorang di sini Ga."


"Pacar elu bukan Tan? kenalin gue dong sama dia."


"Itu masalahnya Ga! gue engga bisa ketemu sama dia karena gue di sini hanya ingin memastikan dia sampai ke sini dengan selamat aja, dan niat gue datang ke sini hanya mau memperhatikannya saja dalam kejauhan."


"Perhatian banget sih elu Tan, sama dia, gue jadi iri nih! andai saja laki-laki sepertimu masih ada di dunia ini, gue hanya ingin bersanding bersamanya nanti."

__ADS_1


"Banyak Ga, dan bahkan ada yang lebih baik dari sikap gue ini juga, namun hanya saja kamu belum bisa membukakan hati elu sendiri pada pria lain."


"Gue trauma Tan, jadi sekarang mah gue lebih baik sendiri aja, dan terlebih memikirkan sekolah lebih penting, daripada memikirkan luka."


"Luka dan duka itu memang selalu ada Ga, dalam setiap hubungan, namun akan tapi elu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, kalau soal merubah-ubah sikap kita sendiri ... itu mudah kok, Ga, asalkan kita juga harus bisa mengerti, bahwa proses takan pernah menghasilkan impian dengan begitu cepat, dikarenakan proses itu adalah inti kesabaran yang kita miliki sekarang ini."


"Kalau soal curhat, gue selalu menemukan tempat terbaik, yaitu elu Tan, tempat curhat terbaik gue di sini."


"Gue hanya perantara saja Ga, yang datang disaat lagi bisa saja untuk menemanimu, namun sejujurnya ya, Ga, tempat paling baik untuk elu curhat itu adalah Allah."


"Iya Tan, gue paham, tapi maksud gue bukan mau menduakan Allah sama elu kok, gue cuma berpikir bahwa pemikiran elu lebih dewasa kalau soal ini, daripada dibandingkan dengan teman-teman gue yang lain di sana."


"Perasaan begitu banyak orang yang curhat sama gue dah, gue heran sama elu dan juga sama orang-orang yang pernah curhat sama gue! kenapa juga mereka mau mendengarkan perkataan gue, dan sedangkan gue bukan Tuhan mereka, dan sejujurnya yang lebih pantas mereka jadikan tempat curhat itu adalah Allah, ataupun orang tuanya sendiri."


Mega pun lalu tersenyum, yang di mana tadinya Mega datang ke sini hanya ingin melampiaskan rasa kekecewaannya itu, dan sementara itu Sultan datang, dengan memberikan sejuta perhatian kepada Mega karena Mega itu sudah Sultan anggap seperti adiknya sendiri.


Sultan pun lalu mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Mega tersebut dengan lembut, dan penuh perhatian, karena sejujurnya Mega memang dulu dekat sama Sultan, dan bahkan juga Mega menganggap Sultan itu adalah kakak tertuanya.


Bila soal urusan hati, Sultan selalu paham, dan ia selalu bisa meminimalisasikan sedikit demi sedikit segala kerusakan apapun, yang dilapisi dengan kebencian, yang di mana kebencian itu diakibatkan oleh rasa cinta.


"Yaudah ya, Tan, aku mau nyamperin mereka dulu ya, makasih sebelumnya karena elu sudah mau menjadi kakak gue di sini, dan gue harap, gue bisa bertemu bersama elu kembali, dan mungkin nanti gue ingin menceritakan, seberapa jauh gue bisa menahan rasa sabar."

__ADS_1


"Sekuat-kuatnya hati, mungkin hati juga memiliki titik terlemahnya sendiri juga Ga, kalau kamu ingin menangis, menangislah dibarengi dengan doa kepada Tuhan, dan mintalah sesuatu kepadanya, mintalah yang ingin elu mau untuk saat ini, dan jangan lupa! elu jangan pernah bilang kepada Tuhan kalau ia tidak mendengarkan doamu karena kebaikan Allah datangnya takan pernah terduga Ga, oke.


"Oke abang gue," ucap Mega sembari tertawa.


__ADS_2