Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 197 : Taktik licik


__ADS_3

Para preman itu masih mengejar Sultan, tapi untung saja dia cerdas. Sultan bersembunyi di belakang pohon besar sambil memegang batu yang cukup besar. Ia melihat para preman gila itu tengah mencari-cari keberadaan Sultan.


Mereka semua dibuat bingung olehnya lantaran dia tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak. Mereka sekarang berdiri tepat membelakangi Sultan, di mana ia sudah siap untuk melemparkan batunya ke arah pundak para preman itu di depan sana.


"Elu yakin kalau dia itu manusia Bang? kalau emang benar dia itu manusia masa tiba-tiba dia ngilang gitu aja," ucap salah satu rekan sepremannya.


"Banyak omong lu ya! mendingan lu semua cari dia, gue yakin seratus persen dia masih ada di sekitaran sini," ucap pimpinan preman.


"Ternyata dia pintar juga ya, gue kira mereka semua bodoh! tapi ternyata mereka semua beneran bodoh! mulai dari sekarang giliran gue, pokonya gue akan pulang ke rumah tanpa luka goresan sedikit pun," ucap Sultan dengan tawa tipisnya.


Sultan mengepalkan tangan kanannya sembari tertawa jahat kepada mereka di balik pohon rindang itu. Ia berniat ingin menyusul para preman yang tertinggal di belakang sana, ia pun ingin memberikan sedikit pelajaran kepada mereka bagaimana caranya menggunakan taktik licik untuk berkelahi.


Sultan berjalan sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh musuhnya, dan terlebih sekarang dia tengah menggunakan baju kameja cargo berwarna hitamnya, jadi baju itu kini sangat menyatu dengan alam di malam hari ini.


Dengan seketika Sultan menutup mulut dari salah satu preman yang sedang lengah. Ia pun lalu menyeret tubuhnya dan lalu menjatuhkan tubuhnya agar preman tersebut bersandar dipohon yang sekarang ada di hadapannya.


Sultan menendang perut dia hanya sekali saja, tapi preman itu sudah jatuh pingsan. Sementara temannya memanggil-manggil nama rekannya yang Sultan tendang itu, namun yang datang malah Sultan.


Ia menatap tajam raut wajah preman tersebut dengan tatapan yang sangat menyeramkan, wajahnya sangat datar seperti layaknya seorang singa yang sudah siap menerkam mangsanya.


Sultan berlari seperti singa, ia pun meloncat dan langsung menghantam wajah dari preman tersebut menggunakan lutut kakinya sampai preman itu terkapar.


"Ingat dan dengarkan baik-baik ucapan saya! jangan pernah meremehkan lawan hanya dengan melihat tubuh kecilnya saja, tapi lihatlah kemampuannya lebih dalam lagi, ini hanya sebagai contoh saja, kalau saya benar-benar ingin menghabisi kalian semua, dari awal juga untuk apa saya berlari-lari seperti orang ketakutan," ucap Sultan sembari menatap raut wajah preman yang malang itu.


Sultan kembali kepohon yang sebelumnya dia diami, ternyata mereka masih belum bisa menemukan dirinya. Sultan pun mengambil batu dan melemparkannya tepat mengenai salah satu pundak dari preman gila itu.


Sekarang tinggal sisa tiga orang lagi, lantas Sultan pun mulai mengambil langkah sigapnya. Ia menghampiri para preman gila tersebut dari arah belakang ketika mana mereka semua sedang lengah.

__ADS_1


Temannya yang terjatuh membuat semua rekannya berpisah, sehingga pimpinannya sendiri mereka tinggalkan hanya untuk mencari keberadaan Sultan.


Sultan datang dari arah belakang, sampai-sampai pimipinan preman pun terkejut. Pimpinan preman berusaha memanggil semua rekannya, namun panggilan itu sama sekali tak dapat mereka dengarkan.


"Surprice ... ," ucap Sultan dengan tatapan tajamnya.


....


Sultan berjalan perlahan menggampiri preman tersebut sembari memengang ranting pohon yang cukup besar. Agar dirinya terlihat lebih menyeramkan lagi, Sultan pun mencoba untuk menyandarkan ranting pohon itu di atas bahu kanannya.


Sementara preman itu berusaha menjauh dari Sultan, tapi Sultan takan pernah membirakan dia lolos begitu saja dengan mudahnya.


Whuss ....


Suara hembusan angin yang berasal dari lemparan ranting pohon milik Sultan itu terbang menghantam punggung pimpinan preman.


Tinggal sisa satu preman lagi, Sultan sengaja mengulur waktunya, dikarenakan dia ingin bermain-main bersama dengannya di sana.


"Huhh ... siap-siap ya! gue datang kawan," Sultan berlari setelah dia menghembuskan napas panjangnya.


Dengan seketika satu preman itu terkapar di samping pimpinannya. Sultan merasa sangat puas karena mereka telah mengembalikan rasa semangatnya di sana.


Pada saat Sultan akan pergi meninggalkan mereka semua, tanpa dia sadari dirinya baru saja melihat ponsel milik Rere ada pada saku celana pimpinan preman.


"Oyy, elu dapet handphone ini dari mana hah? perasaan gue mengenal dekat handphone ini milik siapa," ucap Sultan sembari mengambil handphone tersebut dari dalam saku celana pimpinan preman.


Pada saat Sultan menyalakan handphone tersebut, dengan seketika dia terkejut, dan ternyata Sultan benar, handphone yang tengah dia genggam itu adalah milik Rere.

__ADS_1


Sultan menampar wajah pimpinan preman itu dengan keras, dia meminta jawaban yang jelas darinya, bagaimana bisa handphone Rere ada padanya.


"Gila lu! ini handphone pacar gue, elu ngapain dia aja hah? pokonya kalau elu sampai berani nyentuh kulit lembutnya, gue habisin lu sekarang!" ucap Sultan sembari menarik kaos yang tengah digunakan oleh pimpinan preman itu.


"Ampun Kang! saya minta maaf, saya juga engga tahu kalau handphone ini punya pacar akang," ucap preman tersebut terlihat tengah menahan rasa sakitnya di sana.


"Gue nanyanya elu macem-macemin dia kagak!".


"Engga Kang, engga, setelah saya ngambil handphonenya, saya juga langsung pergi ninggalin dia gitu aja, bahkan saya sama sekali engga nyentuh kulitnya."


Nada suara pimpinan preman tersebut terdengar agak sedikit patah-patah, mungkin karena Sultan telah melemparkan ranting pohon ke arah punggungnya, serta memberikan tendangan kerasnya itu juga ke arah perutnya, jadi nada suara dia tidak terdengar jelas ditelinga Sultan.


"Kerja bagus anak-anak, yaudah kalau begitu saya mau berterima kasih kepada kalian semua karena kalian sudah mau mengembalikan handphone pacar saya," ucap Sultan yang langsung pergi meninggalkan mereka semua di sana.


Akhirnya ia sadar ternyata alasan Rere tidak mengabarinya itu di sana karena dia kehilangan handphonenya, bukan sebab karena Rere jatuh sakit.


Esok adalah hari Sabtu, yang di mana Rere pastinya akan berdiam diri di dalam rumahnya, dan mungkin besok pagi Sultan akan mengembalikan handphone milik Rere kepadanya langsung sambil sekalian dia juga ingin mengajak Rere pergi bermain.


Pada saat Sultan tengah asik berjalan kaki, tiba-tiba ada angkot yang melintas di hadapannya. Sultan pun memberhentikan angkot tersebut dan meminta amang sopir mengantarkannya sampai ke rumah.


Setelah Sultan lama menunggu, hingga pada akhirnya dia pun tiba di dalam rumah. Seperti biasa ibunya pasti akan selalu menyiapkan Sultan makanan untuk dia santap.


Dan setelah itu Sultan pun lalu membersihkan tubuhnya, dikarenakan malam ini keringat mengucur deras membasahi semua bajunya.


Tak lama kemudian ponsel Sultan menyala, ia benar-benar terkejut karena kakak Rere yang ada di Jepang menelepon dirinya di sana.


"Assalamu'alaikum, maaf kalau A'a ganggu Sultan malam-malam, A'a cuma mau bilang kalau Rere ditodong sama preman, Rere juga sempat bilang sama A'a agar A'a engga ngasih tahu Sultan dulu, dia cuma takut nanti Sultan jadi kepikiran sama dia di sana," ucap kakak Rere kepada Sultan.

__ADS_1


"A'a tenang aja, handphone Rere udah ada ditangan Sultan, pokonya A'a engga usah khawatir, besok Sultan pasti ke rumah mamah, sekalian Sultan juga mau ngasih handphone adik A'a ini," ucap Sultan membuat kakak Rere tercengang.


__ADS_2