Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 57 : Mencintaimu dalam diam dalam doa


__ADS_3

Bintang serta rembulan malam di atas sana, sungguh menghiasi perjalanan Sultan bersama dengan Rere, yang di mana perjalanan itu terhenti disuatu rumah, dan tepatnya itu adalah rumah Dini.


"Kalau ada apa-apa, bilang sama gue ya, Re, rumah gue engga begitu jauh dari rumah Dini ini, elu juga pasti tahu kan?".


"Aku bingung Tan! kalau aku bilang makasih sama kamu di sini, udah itu elu pasti langsung pulang lagi kan? gue engga enak nih Tan, sama mamah kamu."


"Justru mamah gue sering bilang sama gue Re, bahwa gue harus selalu melindungi elu dari segala macam mara bahaya, jadi Re, elu engga usah bimbang lagi karena mamah gue juga sayang sama elu, maka dari itu elu harus ketemu sama dia."


"Kapan aku boleh ketemu sama dia Tan?".


"Setiap saat, setiap waktu, mau kapan pun itu harinya, pintu rumah gue akan selalu terbuka lebar untukmu Re, gue akan selalu tulus membiarkanmu duduk di sana, dan bahkan elu juga boleh ikut berdoa di dalam rumahku itu juga Re, di sana."


Tatapannya seketika tertuju kepada Sultan, bukan melainkan ia ingin menampar prianya itu kembali, namun di sana ia merasa bahwa Sultan sungguh laki-laki yang selalu ia dambakan disetiap harinya waktu berjalan, dan bahkan Rere berharap Sultan itu adalah pacar pertamanya, namun takdir tak mempertemukannya lebih dulu kala itu.


Rere hanya bisa menatap Sultan dengan tajam, namun malam itu Sultan sempat menutupi wajah wanitanya itu dengan menggunakan kedua tangannya tersebut karena Sultan tidak ingin melihat Rere semakin terbawa masuk ke dalam suasana hati, yang di mana Rere akan semakin Sulit untuk melepas Sultan di jalan sana kembali.


"Jangan Re! tatapanmu akan membuat rinduku semakin membelenggu, besok aja ya, yang di mana hangatnya mentari akan menggantikan dinginnya udara di malam hari ini."


"Kamu masuk kerumah Dini dulu sana, dan aku di sini akan menunggumu terlebih dahulu karena aku hanya ingin memastikan, bahwa dirimu aman."


Senyuman Rere adalah sebuah kata, yang di mana kata itu adalah kata-kata terakhir bagi dirinya untuk diberikan kepada Sultan disaat ia sudah tak bisa berbicara apa-apa lagi kepadanya di sana.

__ADS_1


"Aku sayang kamu," ucap Rere dalam hati.


"Aku juga sayang kamu Re," ucap Sultan yang hanya menggertakan bibirnya itu saja tanpa bersuara.


Itu adalah langkah terakhir Rere, yang di mana Sultan masih memandanginya di sana dengan perlahan. Dan setelah Rere benar-benar masuk ke dalam rumah Dini itu di sana, Sultan pun lalu menyalakan kembali motor tuanya tersebut dengan meninggalkan sedikit ucapan yang ia bisikan tadi kepada Rere, yang di mana bisikan itu adalah kata-kata sayang.


"Motor gue terasa sepi tanpa adanya dirimu yang duduk di belakannya Re, kapan-kapan aku ingin membawamu pergi berkeliling jauh dari kota ini, namun nyatanya kota kecil ini lebih menyenangkan bilamana aku bayangkan kembali Re," ucap Sultan malam itu berbicara sendiri di jalan sana.


Malam itu, tak cukup banyak membuang waktu Sultan untuk pergi kembali masuk ke dalam rumahnya tersebut di sana, dikarenakan rumah Dini dengan rumah Sultan, jaraknya tidak terlalu jauh, dan sehingga ia bisa kembali berbincang dengan Rere lewat telepon suara di rumahnya tersebut itu di sana.


....


Sebelum malam hari berganti, Sultan sempat berbicara kepada Rere bahwa bilamana nanti Rere melihat Sultan di sana, berarti itu adalah bayangannya, yang di mana bayangan itu akan selalu mengawasinya dalam diam dan dalam doa.


"Boleh lah Tan, silahkan aja."


"Besok aku akan ada di Cianjur Re, tapi kamu engga usah khawatir karena itu bukan wujud asliku, melainkan bayanganku yang akan selalu melindungimu," ucap Sultan penuh perhatian.


"Masa sih Tan? engga percaya aku ah."


"Percayamu harus kepada Tuhan, dan Tuhan pasti akan memberitahuimu bahwa Sultan takan pernah melepasmu begitu saja karena rasa sayang Sultan terhadapmu begitu besar."

__ADS_1


"Mulai deh kamu mah Tan."


"Yaudah, kamu tidur sana, besok kamu harus bangun pagi-pagi karena aku engga mau melihat kamu kenapa-kenapa, dan apalagi ini menyangkut pautkan tentang kesehatan dirimu sendiri Re, bukan hanya dirimu saja, melainkan hati dan kesenangan diriku di sini juga Re."


"Bawel amat sih elu Be! iya, iya gue tidur sekarang."


Tutt, tutt ... suara telepon dimatikan. Lantas Rere pun lalu tertidur bersama dengan Sultan ditempat yang berbeda. Malam itu, Sultan juga tertidur lebih dulu karena esok ia akan pergi menyusul Rere di sana.


Kesunyian hati, takan pernah terasa bilamana ia menjaganya di manapun itu tempatnya, dalam kejauhan, maupun itu dalam kedekatan, Sultan pasti akan selalu siap mengikutinya ke manapun ia bisa dan sanggup.


Mimpi itu hadir kembali, yang di mana mimpi buruk Sultan tentang Rere selalu datang, namun ia belum pernah menceritakannya kepada Rere karena ia takut akan membuat wanitanya itu pergi menjauhinya lebih dulu.


"Aku mau putus Tan," ucap Rere dalam mimpi itu.


"Setiap perpisahan pasti ada Re, namun aku takan pernah memberatkanmu di sini karena aku hanya mengikuti kebahagiaanmu saja, dan bilamana kamu ingin pergi, aku takan melarangmu untuk tetap bersamaku, dan aku hanya berpesan kepadamu bahwa suatu saat nanti, aku ingin memelukmu kembali dan aku ingin mencintaimu kembali, bilamana kamu mulai merindukanku di sini lagi. Tetap tersenyum ya, Re, aku akan selalu mencintaimu dalam diam, dan dalam doa," ucap Sultan dalam mimpinya itu.


Dengan seketika, Sultan pun terbangun dari tidurnya, dan lantas ia pun lalu melihat ke arah jam, yang di mana pagi itu azan salat subuh telah memanggilnya di sana. Sultan pun segera bergegas pergi menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam sana.


Setelah itu, Sultan lalu mengeluarkan motornya tersebut, dan ia berniat ingin mendahului Rere sampai di sana terlebih dahulu. Seberapa cepat motor tua itu bisa berlari, ia tak ingin banyak tahu tentang fisik dari motornya tersebut seperti apa, yang ia pikirkan hanyalah sampai di sana, dengan mendahului Rere di sana.


Alun-alun Cianjur, itu adalah tujuan Rere bersama dengan Dini, dan tentunya Sultan memiliki suatu insting yang kuat, dan bahkan lebih kuat dibandingkan dengan orang tuanya sendiri, dan maka dari itu Rere tidak bisa menebak hati Sultan dengan mudah karena orang tuanya pun juga sama, takan pernah bisa menebak hati anaknya sendiri dengan mudah.

__ADS_1


Setelah selesai salat subuh, kemungkinan pada jam 5 pagi, Sultan berangkat dari rumahnya, dan tentunya jarak tempuh dari Sukabumi ke Cianjur bukanlah suatu jarak yang cukup lama untuk ia tempuh. Sekitar jam setengah tujuh, Sultan pun sudah sampai mendahului Rere di sana, dan tentunya kereta yang Rere naiki bersama dengan Dini, jadwal keberangkatannya agak sedikit terlambat, dan jadi Sultan bisa bersantai di sana terlebih dahulu.


Keberangkatan kereta yang Rere naiki, kebetulan berangkat jam setengah enam pagi, dan itu hanya membutuhkan perjalanan dalam tempo waktu yang singkat, dan kemungkinan Rere akan sampai pada jam tujuh pagi, ataupun itu jam setengah delapan pagi, Sultan takan pernah tahu, dan ia hanya bisa menunggunya saja dengan rasa sabar.


__ADS_2