Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 353 : Ia dan dia


__ADS_3

"Sakit engga sih Tan? maafin aku ya, makanya nanti kalau mau ngomong itu harus dipikir-pikir dulu, akhirnya jadi begini kan endingnya," ucap Rere yang tak henti-henti mengucapkan kata maaf kepada Sultan sambil mengobati luka prianya juga.


"Kurang sakit malahan Re, lagian ini bukan salahmu, dan sebenarnya orang-orang itu sempat memukul wajah pacarmu ini juga di sana," ujar Sultan sembari mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan lembutnya.


"Kenapa kamu engga bilang sama aku dari awal sih Tan, kalau berandalan itu sempat memukul wajahmu juga di sana."


"Aku engga mau membuatmu khawatir Re, yaudah jangan dibahas lagi ya, Re, lagian kejadiannya juga udah berlalu ini."


Setelah Rere selesai mengompres luka Sultan menggunakan es batu, kemudian dia pun tak lupa untuk mengoleskan beberapa salep luka memar juga dibagian pipi kanan Sultan.


Rere menyuruh Sultan menyantap makanan buatan ibunya terlebih dahulu, sementara dia masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan alat-alat medis yang sengaja Rere siapkan memang untuk Sultan seorang.


Sultan merespon ucapan Rere hanya dengan anggukannya saja, namun ia tetap ingin menyantap makanan itu bersama dengan Rere, dikarenakan ia merasa tak enak hati bilamana pribuminya tak ada yang menemaninya makan di sana.


Tak lama kemudian Rere pun kembali menghampiri Sultan di meja makan ruang tamu. Rere duduk di samping Sultan sambil menatap makanan yang belum dia makan.


"Kok, masih belum dimakan-makan juga sih Be, ayo makan lah, nanti mamah marah loh kalau makanan buatannya ini masih belum kamu makan," ucap Rere sambil menuangkan makanan untuk Sultan.


"Gini kan enak Re, pribuminya juga ikut makan, abisnya aku merasa engga enak hati aja kalau harus makan sendiri, apalagi aku hanya sekedar tamu saja di sini," ucap Sultan dengan lembutnya sembari menatap raut wajah Rere yang tengah menuangkan makan untuk dirinya di sana.

__ADS_1


"Manja banget sih lu Tan! padahal tinggal makan aja ribet amat dah! lagian mamah gue udah menganggap elu sebagai anaknya sendiri ini."


Sultan hanya bisa tersenyum tanpa mau membalas ucapan dari Rere sedikit pun. Entah berapa kali dirinya mengalami hal yang seperti ini, namun hal ini sama sekali tak membuat diri Sultan merasa bosan, bahkan ia merasa nyaman bila terus-menerus berada di dekat Rere.


Mereka berdua telah menyantap habis makanan lezat buatan tangan ibunya itu di sana, lantas Rere pun pergi meninggalkan Sultan, dikarenakan dia harus membereskan semua piring serta makanan yang masih tersisa banyak di atas meja makan.


Pada saat Sultan menunggu Rere hadir kembali, tanpa ia sadari handphone milik wanitanya itu berdering. Sultan mendiamkannya hingga panggilan telepon suara tersebut mati dengan sendirinya.


Namun, tak lama Sultan diamkan, panggilan telepon suara tersebut berdering kembali di handphone wanitanya. Sultan pun semakin penasaran siapakah yang menelepon Rere berkali-kali itu.


Sultan menjawab panggilan telepon suara tersebut, dan ternyata itu adalah Elsa. Sepertinya Elsa hanya ingin memastikan kalau Sultan dan Rere telah tiba di rumahnya masing-masing.


"Kita berdua baik-baik aja kok, Sa, di sini, kamu engga usah khawatir, lagipula kita berdua udah ada di kawasan kita sendiri, jadi mana mungkin para berandalan itu ngejar kita sampai ke sini," ucap Sultan membuat Elsa bingung, kenapa bukan Rere yang menjawab panggilan telepon suaranya.


....


"Gue kira ini Rere Tan, maafin gue ya, abisnya gue engga tahu kalau kamu lagi ada di rumah Rere, yaudah kalau begitu, gue matiin lagi panggilan telepon suaranya ini ya," ucap Elsa, di mana sekarang nada suara keraguannya itu telah berubah.


"Dihh ... engga jelas ini si Elsa! datang tak diundang, pulang pun tiba-tiba ngilang begitu aja," ujar Sultan membuat Elsa tertawa, dan Sultan pun sama, seperti Elsa, di mana ia pun tertawa juga, namun tawanya lebih tipis bila dibandingkan dengan tawa Elsa.

__ADS_1


Setelah Elsa tertawa, dia pun lalu mematikan panggilan telepon suaranya itu kembali. Sultan pun menyimpan handphone Rere diposisi semula agar wanitanya itu tidak curiga kepadanya, apalagi kedekatan Sultan bersama dengan semua temannya itu dapat membuat Rere semakin lepas menuduh Sultan yang tidak-tidak.


Sudah sekian lama Sultan menunggu Rere, hingga pada akhirnya dia pun kembali menghampiri Sultan di ruang tamu. Pantas saja kenapa Rere begitu lama sekali, dan ternyata dia baru saja selesai melaksanakan ibadah salat asarnya di dalam kamarnya.


"Abis dari mana kamu Re? kok, lama bener dah, udah itu engga ngabarin pacarmu ini dulu lagi kalau kamu mau datang selama ini," tanya Sultan penasaran.


"Gue baru selesai salat ini Tan, lagian engga sabaran amat dah jadi cowok! peka sedikit kenapa sih Tan, kalau pacarmu ini baru selesai melaksanakan ibadah salat wajibnya di sini," ucap Rere sembari mencubit pipi kanan Sultan yang masih terasa sakit itu.


"Ini pipi masih sakit ya! jangan kamu tambah-tambahin lagi rasa sakitnya dengan cubitanmu itu Re, segini juga udah cukup bagi aku untuk merasakan betapa sakitnya luka memar ini," ucap Sultan dengan memberikan raut wajah tersenyum-senyum tipisnya kepada Rere sambil sesekali memiringkan kepalanya, serta menujuk-nunjuk pipi kanannya sendiri.


Rere tertawa, dia hanya memberikan kata-kata maaf saja kepada Sultan sambil mengucapkan kalimat bahwa dia melakukan itu tanpa disengaja.


Tanpa Sultan sadari hari sudah semakin larut saja, ia pun lalu meminta izin kepada Rere untuk pergi pulang ke rumahnya.


Rere mengizinkan Sultan pulang, lantas dia pun mengantarkan Sultan ke depan gang rumahnya setelah Sultan berpamitan dengan ibu Rere.


"Yaudah kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, Re, dan jangan lupa jaga dirimu dengan sebaik mungkin di sini, sama sekalian aku juga mau minta maaf, dikarenakan besok pagi aku mau berangkat pergi ke Tangerang lagi, jadi ini adalah pertemuan kita yang terakhir ya, semoga waktu singkat ini cukup untuk membayar semua rindumu itu," kata Sultan, di mana setelah ia mencubit kedua pipi Rere, ia pun langsung pergi meninggalkannya di belakang sana.


"Rasanya hari ini begitu cepat berlalu ya, Tan, semoga nanti kamu bisa menemani gue seutuhnya kembali seperti awal kita bertemu dan saling mengenal dekat satu sama lain," ucap Rere di belakang sana sembari menatap kepergian Sultan tanpa henti hingga mana dia benar-benar pergi meninggalkan Rere seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2