Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 63 : Lambaian tangan kerinduan


__ADS_3

Lambaian tangan pun diberikan oleh Sultan kepada mereka, yang tengah berada di dalam gerbong kereta tersebut itu di sana. Sultan pun tak langsung pulang pada saat itu, namun ia di sana hanya menunggu kereta yang mereka sedang naiki itu berjalan terlebih dahulu, dan maka dari itu barulah Sultan akan pergi meninggalkan stasiun tersebut kembali.


Keberangkatan kereta dari stasiun Sukabumi ke stasiun Cianjur, memang selalu mengalami kendala, bukan karena kereta yang mereka naiki itu bermasalah, melainkan petugas-petugas yang lain sedang memeriksa mesin serta bagian kereta yang lain, supaya keberangkatan untuk para penumpang bisa berjalan mulus, tanpa sedikit pun ada suatu hal yang akan bisa membuat keselamatan mereka terancam.


"Sebentar lagi kereta mau berangkat, kenapa kamu belum masuk ke dalam gerbong kereta? ayo kita masuk," ucap petugas Kondektur kepada Sultan.


"Saya engga ikut Pak, saya cuma lagi nunggu kereta ini berangkat karena di dalam gerbong kereta ada keluarga saya yang mau berangkat ke Cianjur," ucap Sultan.


"Kalau begitu, saya pergi masuk duluan ya."


"Siap Pak, saya nitip keluarga saya ya, semoga perjalanan bapak lancar tanpa adanya kendala."


"Siap, itu udah tugas kita menjaga mereka, terima kasih atas doanya ya, Kang."


Setelah Sultan berbincang dengannya di sana, petugas Kondektur itu pun lalu masuk ke dalam gerbong kereta, dan sebelum itu, Kondektur masih akan mengecek jumlah penumpang, apakah masih ada yang tertinggal, ataupun sudah lengkap, dan bilamana penumpang di dalam gerbong kereta sudah lengkap, maka kereta pun akan segera diberangkatkan.


Tutt, tutt, tutt ... bunyi suara klakson kereta api sudah dinyalakan, yang artinya penumpang yang berada di dalam gerbong kereta harus segera tertib, dikarenakan kereta api akan segera melaju.


Sultan pun kembali melambaikan tangannya itu kepada mereka, dan setelah kereta itu melewati Sultan yang tengah berdiri itu di sana, ia pun lalu pergi keluar kembali dari stasiun tersebut itu di sana.


Grungg, grungg, grungg ... suara motor tua dinyalakan kembali oleh Sultan di sana. Sultan pun lalu pergi meninggalkan tempat itu, dan terlebih Rere juga masih belum membalas pesan chat Whatsapp darinya, dan tentunya Sultan mengerti, kenapa Rere hanya mengread pesan Whatsappnya saja di sana, dan ya, karena pastinya Rere sedang sibuk, ataupun jaringan di sana memang tidak memadai untuk Rere mengabari Sultan kembali di stasiun sana.


"Diread aja ni si Rere! awas aja lu ya! gue kerjain elu nanti, bisa-bisanya ya, dia menjadikan gue tempat pelampiasan saja! gue itu pacar rese elu Re, dan elu harus tahu? kalau gue udah mengira pastinya elu akan sibuk-sibuk sendiri di sana, pokonya elu jangan kaget kalau tiba-tiba gue marah, walaupun marah gue hanya candaan saja, yang terpenting gue bisa membuat elu panik, hingga mana elu engga betah lagi diam di sana lama-lama," ucap Sultan dalam hati sembari tersenyum-senyum sendiri.


"Ayo, terus-terus Kang, oke, sip," ucap tukang parkir.

__ADS_1


"Makasih Kang, hati-hati di jalan," ucap Sultan sembari memberikan uang parkir kepada beliau.


"Terbalik Kang, seharusnya Akang yang harus hati-hati di jalan mah, bukan melainkan saya hehe," ucap tukang parkir itu sembari tertawa kepada Sultan di sana.


"Ohh, salah ya, yaudah maaf Kang, saya pamit duluan ya, makasih Akang ganteng."


"Ini Kang kembaliannya?".


"Ambil aja Kang, buat beli rokok."


"Makasih Kang, hati-hati di jalan ya."


....


Dan tentunya, ia masih mempunyai teman, yang di mana mereka pun juga bisa membuat Sultan tertawa kembali dengan sangat lepas bersama dengan mereka di sana. Dan tentunya itu adalah kosan, tempat satu-satunya yang sering mereka singgahi di sana.


Dan ada pun juga jalan Odeon, yang di mana tempat itu adalah tempat bagi para supir angkutan umum berbagai jurusan menunggu penumpang di sana, dan penumpang itu kebanyakan dari kalangan ibu-ibu yang baru saja selesai berbelanja, untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka masing-masing di sana.


Bukan hanya ibu-ibu saja, melainkan siswa-siswi pun juga banyak yang menaiki angkutan umum di sana, dikarenakan tempat tersebut memang pusatnya bagi para siswa-siswi itu untuk pergi berangkat menuju ke sekolahannya itu di sana.


Alasan teman-teman Sultan berdiam diri di tempat itu sehabis pulang sekolah, bukan melainkan untuk berkelahi, namun mereka hanya ingin menikmati indahnya permandangan para siswi-siswi wanita dari sekolah lain melintas di jalanan tersebut itu di sana.


Dan tentunya, tempat itu bukanlah tempat yang sering mereka singgahi saja di sana, dan masih banyak siswa-siswa dari sekolah lain juga ada di sana, seperti hal nya sekolah tetangga, yang di mana sekolah itu memang benar-benar dekat dengan sekolah Sultan, dan maupun sekolah yang bermusuhan dengan sekolahan Sultan pun juga ada di sana.


Dan sebenarnya, mereka semua tak takut akan yang namanya berkelahi, hanya saja yang mereka takutkan itu adalah mencoreng nama baik sekolahannya itu di sana, dan terlebih sekolah SMK 4 sudah di kenal oleh berbagai pihak dari kalangan sekolah besar, yang berada di luar kota pun juga ada.

__ADS_1


"Di mana lu Bro?" ucap Sultan kepada Iman.


"Gue di Odeon Tan, elu di mana?" ucap Iman.


"Gue mau ke kosan Men, gue jemput elu ke sana."


"Oke, gue tunggu Tan."


Percakapan Iman bersama Sultan, memang menggerakan jiwa mereka berdua di sana, yang di mana rasa kebersamaan dan kekeluargaan itu pun juga ada dan hadir, sehingga mana mereka merasakan ikatan yang terlintas di dalam hatinya itu sungguh besar, dan terlebih mereka semua paling tahu arti dari kata kebersamaan hidup yang sebenarnya itu seperti apa.


Tak lama setelah itu, Sultan pun tiba di sana, yang di mana Iman tengah duduk sembari merokok, dan dengan manisnya dia tersenyum ke arah Sultan di sana.


"Ngapain elu senyum-senyum sama gue bego! gue jadi geli ngeliatnya!" ucap Sultan sembari bersalaman dengan gaya yang mereka buat sendiri.


"Bayarin rokok gue Tan, hehe."


"Udah tahu elu engga punya duit! masih aja sempat-sempatnya beli udud, dasar bego lu!".


"Sekali-kali nyusahin teman boleh lah, hehe."


"Palamu sekali-sekali! elu udah sering nyusahin gue, tapi gue masih tetap sabar sama elu! ya, karena elu udah gue anggap seperti saudara gue sendiri di sini."


"Gue suka ni hehe, thanks Bro."


Setelah Sultan mebayarkan rokok yang Iman beli tadi, mereka berdua pun lalu pergi dari tempat itu untuk pergi kembali bersinggah di dalam kosan, dikarenakan hanya kosan lah, salah satu tempat yang paling aman untuk mereka diami di sana.

__ADS_1


__ADS_2