Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 151: Menyesal


__ADS_3

"Re, kamu masih ada di sana kan?" tanya Sultan memanggil nama Rere.


"Iya Tan, gue masih ada di sini," ucap Rere dengan nada suara rendahnya itu.


Sultan merasa sangat menyesal dengan ucapan yang telah ia lontarkan kepada Rere pada saat itu, dan sejujurnya hal tersebut dapat membuat semangat dari wanitanya itu memudar.


Dan sebenarnya ia pun tak kuasa mendengar suara dari Rere berubah secepat itu, yang di mana tadinya dia sanggup untuk tertawa bersama dengan Sultan, tapi sekarang dia sama sekali terdiam dan tak sanggup untuk tertawa lagi.


Mungkin Sultan selalu menganggap Rere itu adalah sosok wanita yang sangat kuat, namun tentunya untuk sekarang ini waktunya belum tepat, sehingga ia pun harus bisa mengembalikan senyuman dari wanitanya itu secepat mungkin.


Seberapa cepat Sultan bisa melakukan hal yang semacam itu kepadanya? secepat mungkin, dan itu harus bisa, dikarenakan ini adalah surat peringatan untuknya karena dia sudah berani membuat Rere merasa sangat terpukul atas ulahnya sendiri.


"Gue minta maaf Re, Sabtu nanti gue pasti akan datang ke rumahmu secepat mungkin. Tenang aja Re, gue pasti akan menjemput rindumu yang sekarang tengah mengganggu kehidupanmu itu," ucap Sultan dengan manis kepada Rere, sehingga dia bisa mengembalikan senyumannya kepada Sultan.


Rere tercengang, dia merasa Sultan hanya sedang menghiburnya saja saat ini, dan mungkin dia memang tak sungguh melontarkan ucapan tersebut kepadanya.


Kembali lagi kepada Sultan, yang di mana sosok seperti dirinya itu hanya akan mementingkan kebahagiaan orang lain, apalagi orang itu adalah pacarnya sendiri.


Cengangan Rere hanya sebatas reaksinya saja, dia mencoba bersikap tenang, agar dia tak merasakan kembali ucapan kosong dari Sultan itu.


"Banyakin istirahat aja ya, Tan, mungkin nanti juga kita masih bisa bertemu dilain hari, tentunya bukan Sabtu nanti ya," Rere mulai menguji kesabaran prianya itu dengan menggunakan nada suara seperti layaknya seseorang yang sedang terlamun melamuni kesedihannya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura sedih seperti itu ah Re, gue udah tahu kok, kalau elu itu lagi tersenyum-senyum sendiri engga jelas di sana," ucap Sultan dengan santainya mencerna ucapan dari Rere itu.


Sultan mencoba menghibur Rere dengan caranya tersendiri, yang di mana ia sepertinya sudah melupakan masalah ucapannya itu tadi.


Namun, sebenarnya masalah tadi itu masih saja mengganjal di dalam hatinya, apalagi ucapan yang sebelumnya ia lontarkan kepada Rere itu, memang terdengar agak sedikit kelewatan.


Maka dari itu kenapa Sultan masih saja mengingatnya hingga sampai saat ini, dikarenakan ia sangat perduli, ia sangat takut, dan ia tak sanggup menahan kebahagiaan Rere yang hilang itu karena ulahnya sendiri.


"Hmm ... ," gumam Rere singkat, seolah-olah dia ingin membuat Sultan paham, bahwa dia hanya ingin diperhatikan lebih olehnya.


"Kata-kata itu adalah kata yang dapat membuat semua orang terdiam, dan bahkan orang itu pun akan membalas kembali ucapan yang sama persisnya dengan apa yang telah dia ucapkan itu, namun gue tidak akan pernah dibuat bingung oleh suatu kata seruan yang tidak jelas itu, dikarenakan gue dapat membuat kata yang lebih menarik dari itu."


Sultan tersenyum, dan Rere pun tersenyum juga, mungkin kali ini wanita pemarah itu akan menanyakan kata apa yang menarik untuk dia dengarkan itu.


....


"Apa pun demi melihatmu tersenyum, aku selalu sanggup, dan terlebih senyumanmu itu jauh lebih berharga baik bagiku dan baik untukku juga," ucap Sultan serba ada, yang di mana ia menyatukan candaannya dengan ucapan manisnya itu.


"Baik bagiku dan baik untukku juga? sama aja lah Tan, terus itu nama gue dikemanain? kok, ucapanmu cuma tertuju sama kamu aja dah," ucap Rere sembari tertawa.


"Gue selalu bangga memiliki hati yang semenyebalkan seperti ini Re, mungkin elu engga akan sadar, dan elu engga akan paham, kenapa gue selalu bersikap seperti itu kepadamu, yang jelas itu semua hanya untuk membuatmu bahagia dengan cara gue sendiri."

__ADS_1


Mungkin bisa dibilang itu bukan cara sederhana yang selalu ia berikan kepada Rere, melainkan itu adalah cara aneh dan bahkan sangat aneh yang selalu ia berikan kepada Rere.


Entah apa maksud dari semua itu, tapi yang jelas setelah Sultan berkata kepada Rere bahwa hal tersebut itu adalah sebagian rasa untuk membuatnya bahagia, walaupun intinya harus merasakan kecewa terlebih dahulu sebelum dia benar-benar merasakan kebahagiaannya sendiri.


"Gue sering bilang sama kamu Re, seberapa bisa gue membuatmu tersenyum lepas seperti ini, dan jawabannya pasti kamu sudah mengetahuinnya kan Re? yaitu, bisa dan harus bisa," dengan lepasnya Sultan berucap kata seperti itu kepada Rere, sehingga Rere mulai memahami sedikit sifat dari prianya itu.


"Mulai dari sekarang, mungkin gue harus bisa menerimakan semua konsekuensi dalam mencintai sosok pria menyebalkan sepertimu ini ya, Tan," ucap Rere sama tenangnya dengan Sultan.


"Seberapa sanggupnya kamu bisa menerimakan sifat menyebalkan gue ini Re?".


"Harus bisa dan harus sanggup, soalnya kamu pun bisa, masa pacarmu ini engga bisa sih Tan."


Sultan pun mulai merasa lega ketika mana dirinya mendengarkan ucapan dari wanitanya itu, tapi bukan hanya itu saja, melainkan ia juga merasa sangat senang sekali karena pada dasarnya Rere adalah wanita yang sangat sulit untuk dihibur bilamana dia sudah merasa marah kepada dirinya.


Bintang-bintang di atas awan membuat malam indah untuk di pandangi, arti dari kata dingin, sunyi, sepi, dan gelap yang abadi itu pun mulai menemani tempat persinggahan mereka berdua sekarang.


Panggilan telepon suara dimatikan oleh Rere, dikarenakan dia harus tertidur lebih awal untuk membangunkan Sultan dari tidur nyenyaknya itu di sana.


Sebenarnya Rere disuruh oleh ibunya untuk tertidur, suara panggilan dari beliau pun terdengar jelas ditelinga Sultan, dan bahkan beliau menyuruh Sultan untuk menemui anaknya itu saja di sana.


Lantas Sultan pun menjawab panggilan suara dari beliau, bahwa dia akan menemui Rere sesegera mungkin, tapi sebelumnya entah kenapa wanitanya lebih memilih untuk melontarkan ucapan yang seperti itu kepadanya, apa mungkin karena Rere hanya ingin memberikan rasa perhatiannya itu kepada Sultan? tapi, sebenarnya dia selalu memberikan sifat perhatiannya kepada Sultan setiap saat.

__ADS_1


Sultan tak terlalu menanyakan hal itu kepada Rere, dan ia lebih memilih untuk menyuruh Rere tertidur saja lebih dulu, bila dia memang ingin membangunkan Sultan dari tidur lelapnya itu di sana.


__ADS_2