Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 229 : Sebuah kata-kata


__ADS_3

"Aku bosen nih Tan, main ke luar yu? bukannya kata kamu ada tempat yang bagus ya, untuk kita kunjungin di sini, aku penasaran juga sama tempat tersebut itu senyaman apa," ajak Rere berharap Sultan akan membawanya pergi bermain, namun waktu singkat ini bukan waktu yang tepat bagi wanitanya untuk bersenang-senang di luar sana.


"Sebenarnya tadi aku ingin membawamu pergi bermain, berhubung waktunya kurang tepat, mungkin kapan-kapan aja ya, Be, aku janji sama kamu, kalau misalnya nanti kamu datang lagi ke sini, aku bakalan ajakin kamu main ke tempat yang memang cocok dengan selera kamu sendiri," ucap Sultan menolak ajakan dari Rere, tapi tak lama kemudian ia pun mengambil gitarnya di ruangan tempat semua teman-temannya tertidur.


Dengan kata lain ia ingin menghibur Rere meskipun dia tak dapat bermain di waktu yang sangat singkat ini. Dan dengan seketika Rere tersenyum, sehingga dia tak merasa bosan lagi walaupun seharian ini dia hanya berdiam diri di dalam kontrakan Sultan.


Setelah mereka berdua melaksanakan salat asarnya nanti di sana, Sultan berniat mengantarkan pacarnya itu pulang hingga sampai ke Kota Sukabumi.


Sultan takan pernah mengizinkan Rere untuk pergi sendirian, dan terlebih itu di malam hari, kemungkinan besar Rere akan tiba di Sukabumi pada pertengahan malam hari, bisa jadi dia juga akan tiba di sana melebihi dari pertengahan malam hari itu.


"Nanti setelah asar kita main ke Puncak Bogor yu, kalau waktunya masih belum tepat, mungkin kita langsung pulang aja ke Sukabumi, sama sekalian aku mau nganterin kamu pulang juga, jangan nolak karena aku memaksamu untuk tetap terus ada di sampingku," ujar Sultan, di mana Rere tak mau merepotkan Sultan di sana, tapi di sisi lain dia sangat menginginkan hal tersebut terjadi.


"Engga usah Be, aku bisa pulang sendiri kok, lagian aku udah dewasa, udah itu aku bisa menjaga diriku sendiri sebagaimana kamu menjaga aku Be," ucap Rere terlihat agak sedikit ragu, dikarenakan ini bukan rumahnya dan bukan tempat singgahnya yang asli.


Mungkin benar, dia adalah wanita yang mandiri, tapi itu takan pernah membuat Sultan melupakan sebarapa cerobohnya seorang Rere, sewaktu-waktu dia bisa lengah, dan hal tersebut itu adalah hal yang tak ingin Sultan lihat.

__ADS_1


"Aku engga pernah merasa direpotkan olehmu Be, walaupun lelah, aku takan pernah menyerah, meski letih, aku takan pernah bisa berhenti sebelum tugasku terpenuhi, dan terjalani," kata Sultan lagi-lagi membuat Rere tersenyum.


"Walaupun rindu itu membelenggu, aku takan pernah bisa berhenti untuk menunggu, meski terasa begitu hampa, aku takan pernah merasa sendiri, sebab kamu selalu ada untukku, menemaniku hingga aku bahagia," kata Rere benar-benar membuat Sultan tercengang kagum.


Rere bilang kalau kata-katanya itu tak senyambung dengan apa kata-kata yang Sultan buat, namun Sultan bilang bahwa kata-kata itu tak harus dibuat senyambung dengan huruf awalnya, asalkan maknanya selalu berpacu ke arah ungkapan hatinya sendiri.


"Sebenarnya semua itu engga harus dibuat nyambung Be, asalkan apa yang kita sampaikan tetap sama dengan apa yang hati kita ungkapkan sendiri, kata-kata itu diibaratkan sebuah curahan hati yang kita sampaikan dalam bentuk tulisan, semua dapat dipahami walaupun tulisan itu tidak senyambung kata awalnya, asalkan kita tahu aja bahwa hal tersebut dapat dianggap nyambung oleh pembaca yang tepat dan tahu apa maksud dari semua ucapannya itu."


....


Penjelasan Sultan menambah wawasan Rere, dan sedikit demi sedikit dia mulai memahami maksud dari menulis sebuah sajak yang indah itu seperti apa, tak harus sama asalakan maknanya mendalami sebuah realita kehidupannya.


Sultan menyuruh Rere untuk bersiap-siap karena sebentar lagi panggilan suara azan salat asar pun akan dikumandangkan.


Sultan pergi ke masjid, sebenarnya ia ingin sekali salat asar berjamaah bersama dengan Rere, tapi itu nanti setelah mereka benar-benar disatukan oleh Allah selamanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Sultan menyalakan motor tuanya setelah ia selesai melaksanakan salat asarnya di dalam masjid.


"Kamu udah siapkan Be? kalau begitu kamu tunggu sebentar ya, aku mau mengkemas barang yang akan aku bawa pulang ke Sukabumi," mendengar ucapan Sultan, Rere tetap saja merasa keberatan, padahal niat Rere untuk bertamu, tapi Sultan terlalu menganggapnya sebagai putri raja, di mana ia rela mengantarkan Rere meskipun dia merasa lelah.


Rere mengangguk selagi Sultan masuk ke dalam kontrakan, dia menatap tajam prianya yang tak pernah mengenal arti lelah dalam menjaga pacarnya sendiri.


Setelah itu Sultan pun lalu ke luar dari dalam ruangan kontrakan, ia langsung membawa Rere pergi dari sana. Perjalanannya yang sekarang mungkin akan terasa cukup panjang, dan apa niat Sultan untuk membawa Rere pergi bermain ke Puncak Bogor itu akan tertunda? ia hanya bisa berharap perjalanannya kali ini akan berjalan dengan sangat lancar.


"Kayaknya kita tunda dulu aja niat kita pergi bermain ke Puncak Bogor itu deh Be, soalnya aku engga yakin bahwa perjalanan ini akan berjalan secepat yang aku kira, lagipula aku juga engga tahu kita akan sampai di Sukabumi pada pukul berapa," ucap Sultan tak membuat hati Rere bersedih walaupun dia tak mengajaknya pergi bermain ke tempat tersebut.


"Engga apa-apa Tan, mungkin nanti kamu harus bisa membawa aku pergi ke tempat itu, tapi sekarang aku cuma bisa bersyukur karena dengan melihatmu baik-baik saja di sini, aku udah seneng banget," ucap Rere sambil memeluk tubuh Sultan seerat seperti biasanya.


"Nanti di jalan pulang kamu akan melihat indahnya lampu-lampu jalanan yang dapat memanjakan matamu itu Be, dan aku memang sengaja mengambil jalan tersebut agar ceritamu dapat aku kisahkan sebagaimana Dilan hujan-hujanan bersama dengan Milea, tapi tentunya kisah kita akan berbeda."


"Tunggu deh! bukannya kita juga dulu pernah hujan-hujanan di motor berdua ya, Tan? malahan kita sering melakukannya kalau hujan tengah mengguyuri Kota kita di sana."

__ADS_1


Sultan tertawa, ternyata Rere masih mengingat pengalaman buruk itu, hingga pada akhirnya wanitanya itu terkena demam, bahkan Sultan pun ikut-ikutan deman, namun mereka masih saja menahan rasa sakit tersebut dan lebih memilih untuk pergi bersekolah.


Mereka mungkin takan pernah bisa melupakan hal tersebut pada saat mereka berdua bertemu di dalam ruangan UKS, namun tentunya pertemuan itu hanya berbeda beberapa menit saja setelah Rere datang lebih dulu daripada Sultan.


__ADS_2