Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 95 : Ucapnnya


__ADS_3

Malam yang panjang, dan malam itu pun begitu dingin, duduk terdiam kembali dengan ditemaninya secangkir susu hangat, yang di mana teman dikala sunyi sepinya itu, tentunya takan pernah terobati tanpa hadirnya sosok penyemangat hati, yaitu sang kekasih yang takan pernah bisa untuk dikhianati.


Hari itu, dan malam itu, Sultan tak begitu banyak berbincang dengan wanitanya itu di sana, dikarenakan sebab esok, Rere harus pergi untuk menyelesaikan tugas terakhirnya itu di sekolahannya, yang di mana tugas itu adalah Pelatihan Kerja Lapangan.


Pada tanggal 13 Maret 2019 nanti, tetunya itu adalah hari terakhir bagi Sultan menyinggahi Kota kecilnya ini di sini, dan yang di mana pada tanggal itu, Sultan akan melaksanakan Pelatihan Kerja Lapangan di sebuah Perusahaan yang bertempatan di Tanggerang.


Selama 3 Bulan nanti, Sultan takan bertemu dengan kekasihnya terlebih dahulu, namun bilamana ada waktu luang, ia pasti akan menyempatkan dirinya untuk menemui Rere kekasihnya kembali di Kota kecil ini.


"Temani aku dikala rindu, temani aku dikala jauh berada di sisimu, serta temani aku di kala senyuman itu merambat jatuh karena waktu," ucap Sultan, yang di mana malam itu, ia tengah berbicara dengan Rere lewat panggilan suara Whatsapp.


"Aku terima kata-katamu itu, namun aku takan pernah bisa menerima kepergianmu walaupun waktu itu berjalan hanya selama tiga Bulan saja," ucap Rere, yang di mana dia memang benar-benar tidak ingin melihat Sultan pergi jauh dari sisinya.


"Itu adalah waktu yang cukup singkat bagiku Re, dan bilamana kamu terus-menerus memikirkan hal itu, maka aku di sini akan begitu berat meninggalkanmu, andai saja keputusanku ini belum bulat Re, dan pastinya aku akan tetap menemanimu di sini."


"Apa susahnya tinggal nurut! aku itu bukan takut kamu pergi dari sini, melainkan aku hanya takut dengan keselamatanmu di sana nantinya."


"Dengar ya, Be! untuk apa aku mencintaimu kalau jiwa dan ragaku lemah tak berdaya seperti ini! lantas apa yang harus aku pertahankan, dan lantas apa yang harus aku harapkan untuk menjagamu di sini, perjuangan bukan akhir dari segalanya, dan segalanya itu pun pasti akan hilang bilamana rasa kepercayaan itu tidak hadir menemani hatimu itu."


"Tapi Be ... ," ucap Rere, yang di mana kata-kata itu Sultan potong begitu saja karena kata itu merupakan kata ketidak pastian Rere, dan bahkan kata itu merupakan kata ketidak percayaan sikap Rere terhadap rasa sayang Sultan kepadanya.


"Jangan lemah! karena aku takan pernah meninggalkanmu, jangan takut! karena aku takan pernah melupakan raut wajahmu, dan jangan pernah menemani kata hampa! karena kata itu hanya ada pada orang yang gagal menggapai impiannya," terdiam tanpa suara, dan lagi-lagi kata itu kembali membuat Rere tersenyum, yang membuat semangat Rere kembali bangkit akan suatu hal yang memang harus bisa dia terimai dengan lapang dada.


"Tidur ... aku tidak mau melihatmu jatuh sakit," ucap Sultan kembali.

__ADS_1


"Kamu juga tidur Be, aku engga mau melihatmu jatuh sakit, walaupun aku tak pernah mendengar kata itu darimu di sini," ucap Rere.


"Aku akan menghitung mundur dari angka tiga hingga keangka satu, yang di mana kamu harus mematikan telepon ini dengan sesegera mungkin, dan selepas itu sebutlah namaku dengan lantangnya dalam hati."


Hitungan mulai berjalan perlahan, yang di mana setelah angkat kesatu itu di sebutkan oleh Sultan, telepon suara pun lalu dimatikan oleh Rere.


"Selamat malam wahai kekasih," ucap Rere dalam hati.


"Selamat malam kembali wahai Rere Nuraeni," ucap Sultan dalam hati.


....


Tikk, tikk, tikk ....


Pintu rumahnya dengan seketika Sultan buka, dan selepas itu ia pun lalu menutup rapat-rapat pintu rumahnya itu kembali, dikarenakan tadi ia memang sedang berada di luar ruangan rumah, dan kini ia pun telah masuk untuk menyusul mimpi Rere di dalam kamarnya itu nanti.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara alarm handphone berbunyi, suara burung bersiul pun menemani pagi harinya kembali, dan salam serta sapa pun Sultan ucapkan dengan manisnya kepada kekasih hatinya itu kembali.


Tak perlu menunggu waktu lama, dan tak perlu banyak yang harus diceritakan, dikarenakan yang pastinya Sultan akan kembali hadir menemui Rere di sana.


"Haii, engga biasanya kamu udah nongkrong di depan rumah aja, udah nungguim dari tadi ya," ucap Sultan sembari mencubit pipi Rere yang tengah duduk di depan teras rumahnya itu di sana.

__ADS_1


"Engga terlalu lama, namun yang pastinya aku di sini sudah menunggumu dari pagi," ucap Rere yang tersenyum manja di hadapan prianya itu.


"Yehh, itu mah lama berarti."


Canda dan tawa pun mengawali pagi harinya itu di Kota kecilnya ini di sini, dan selepas itu Sultan pun lalu membawa kekasihnya itu pergi dari rumahnya untuk mengantarkan Rere ke tempat, yang di mana tempat itu adalah tempat dia melaksanakan Pelatihan Kerja Lapangannya di sana.


"Padahalkan tempat PKL ku engga jauh dari rumahku Tan, dan kenapa sih kamu bela-belain demi untuk menjemput aku ke sini?" ucap Rere, yang di mana dia pun memeluk tubuh Sultan walaupun hanya sesaat, namun tentunya dia hanya ingin merasakan kembali kehangatan rasa cinta itu apakah masih ada, dan apakah kehangatan itu akan jauh beda rasanya dengan hari kemarin yang telah berlalu.


"Kan gue udah pernah bilang sama elu Re! tugas gue itu adalah melindungimu, menjagamu, serta untuk memastikanmu tetap aman, walaupun itu jaraknya hanya tak seberapa," ucap Sultan sembari memberhentikan motornya itu, dikarenakan tujuan Sultan untuk mengantarkan Rere telah usai, atau bisa dibilang ia telah sampai mengantarkan Rere pergi ke tempat Pelatihan Kerja Lapangannya.


"Males senyum! soalnya gue takut kalau pipi gue bengkak nantinya. Yaudah, kalau kamu mau masuk ke sekolah sekarang silahkan, mau bolos pun silahkan," ucap Rere, yang di mana dia sempat memegang kedua pipinya itu sendiri dengan manis di hadapan Sultan.


"Yakin elu nyuruh gue pergi? ini gue udah beli dua bubur untuk kita makan di sini bareng-bareng," ucap Sultan sembari menyuruh Rere untuk duduk di depan teras PT. Yamaha motor, yang di mana tempat itu adalah tempat dia melaksanakan tugas akhir sekolahnya itu.


"Kamu yakin kan Tan, kalau kita mau makan di sini? emangnya kamu engga akan malu gitu? kalau misalnya nanti kita di lihatin banyak orang di jalan sana."


"Dulu kalau hujan datang, gue pernah nemenin adik dari bibi gue main perosotan di teras rumah Re, dan selepas itu teras rumah sengaja gue basahin pake air sabun, supaya terasnya jadi licin."


Ucapan Sultan itu tadi, semakin membuat Rere tertawa lepas, yang di mana Rere sangat mengharapkan sikap anehnya itu terus ada dan tertanam dalam hatinya itu.


Bukan karena dia menyukai sikap kekanak-kanakannya itu, melainkan Rere sangat menyukai sikap Sultan yang tak pernah minder akan suatu hal yang bisa membuat semua orang tersenyum dan tertawa karena ulahnya.


Mereka berdua pun, seperti biasa makan dengan ditemaninya senyuman manis, yang di mana waktu itu tempat itu pun masih tutup, dikarenakan pagi itu masih sangat pagi sekali, dan jadi ia bisa menemani pacarnya itu terlebih dahulu di sana, hingga mana tempat itu pun dibukan oleh petugas yang bekerja di sana.

__ADS_1


__ADS_2