Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 254 : Dua hati yang berbeda


__ADS_3

"Dihh, dasar jalangkung! pergi tak diantar, dan datang pun tak diundang, udah itu menghilang tanpa memberi kabar, entah apa yang merasukimu Tan, gue bingung dengan sikap datar elu itu sumpah dah," ucap Dimas sambil menggerutu seorang diri di depan teras mesjid itu di sana.


Setelah mereka berdua selesai melaksanakan ibadah salat wajibnya di dalam mesjid, Sultan bersama dengan Dimas pun pergi dari tempat suci tersebut.


Sultan nampak bingung, mengapa semua temannya belum ada yang pulang satu pun dari tempat tongkrongannya, padahal sekarang adalah jam makan malam bagi mereka semua, tapi entah kenapa ruangan kontrakan masih sepi saja.


"Anak-anak pada ke mana ini Tan?" tanya Dimas singkat sambil sesekali menatap ke segala arah ruangan, dan ternyata memang benar, semua temannya belum ada yang pulang.


"Gue engga tahu sebenarnya elu itu bego apa bolot Dim! perasaan dari tadi elu sama gue mulu dah di sini dan di sana, ya, mana gue tahu mereka semua pergi ke mana sekarang bego, elu malah bertanya seperti itu lagi sama gue, aneh beut dah elu sumpah!" ucap Sultan lebih memilih untuk duduk saja di depan teras kontrakannya itu.


Dimas membuka pintu kontrakan yang masih terkunci rapat itu dengan perlahan-lahan, dikarenakan kunci kontrakan sekarang memang ada ditangan dia.


Sementara Sultan masih duduk di depan teras kontrkan sambil menghirup udara segar yang melintas langsung di hadapannya.


Setelah lama menunggu ternyata yang datang bukan semua temannya, melainkan Dimas yang datang menghampirinya sembari membawa makan malam ala-ala anak rantau, yakni telur dadar.


Cita rasa yang khas serta aroma wangi dari telur dadar tersebut memang tak pernah berubah sedikit pun, dan rasanya masih tetap sama, namun yang membuat rasa dari telur itu berbeda nikmatnya adalah kebersamaan, di mana suatu kesederhanaan dapat mengubahnya menjadi suatu hak kemewahan bilamana mereka menyantapnya secara bersamaan.


"Pantesan aja lu lama Dim, ternyata elu lagi masak menu sarapan malam wajib kita dulu di dalam sana, kebetulan perut gue juga udah bunyi nih, mendingan kita makan duluan aja, biarin mereka masak makanannya sendiri nanti, lagipula entah sampai kapan mereka semua mau berdiam diri di luar ruangan seperti ini," ucap Sultan, di mana dia pun sangat terkejut, dikarenakan baru pertama ini Sultan dibuatkan makanan oleh sosok Dimas.

__ADS_1


Sultan menyangka Dimas hanya bisa makan saja, apalagi badan gemuknya tak mencerminkan dia suka memasak, maka dari itu Sultan tak bisa memandang Dimas sebelah mata, walaupun pada dasarnya dia tak pernah menganggap Dimas sebagai teman paling malas di sana.


"Ini semua baru awalan saja Tan, dan nanti elu akan sadar bahwa badan gemuk gue tidak mencerminkan kalau gue adalah cowok pemalas yang engga ngerti apa-apa."


"Elu ini kenapa sih Dim, perasaan tinggal makan aja ribet amat dah, pusing gue dengerin ocehan elu itu, lagian gue engga pernah beranggapan seperti apa yang elu maksud itu tadi bego, apalagi sampai gue menuduh elu ataupun mereka pemalas, rasanya hal tersebut adalah hal yang menyakitkan untuk gue dengar sendiri Dim."


"Baperan lu Tan! gue cuma bercanda doang kok."


"Elu yang kagak jelas bego! gue bilang tinggal makan aja apa susahnya, pake acara berdebat segala lagi, gue tanya sekali lagi, apa mau elu Dim? mau makan hah? nih makan telur dadar buatan tangan elu sendiri," ucap Sultan sembari tersenyum jahat seraya menyodorkan setengah dari telur dadar itu kemulut Dimas.


....


Mulut Dimas menggerutu, dan suaranya pun tak terdengar jelas ditelinga Sultan, maka dari itu Sultan lebih memilih untuk tetap fokus menghabiskan makanannya itu saja di sana.


"Ini jatah gue ya, Dim, sementara jatah lu udah elu makan tuh, buktinya sekarang terpapar jelas dimulut elu itu oke, yaudah, gue masuk dulu ya, Dim, baek-baek lu di luar sini," ucap Sultan sembari membawa masuk piring yang berisikan telur itu ke dalam ruangan kontrakan.


Sultan makan selahap seperti biasanya di dalam sana, dan tak lama kemudian Sultan mengajak Dimas untuk mencari semua temannya di luar ruangan kontrakan.


Kemungkinan mereka berdua akan bermain di luar ruangan sebentar saja sambil sesekali menunggu waktu salat isya tiba. Rasanya bila berteleponan di jam sekarang itu tidak akan tepat, apalagi Rere sangat susah menjawab panggilan telepon suara darinya.

__ADS_1


Dimas pun bernasib sama seperti Sultan, di mana kedua pasangan mereka diibaratkan telah membuat sekenario ini dari hari-hari sebelumnya agar sosok Sultan dan Dimas lebih merindukannya lagi di sana.


Sebagaimana Sultan, dia tak pernah dibuat menunggu oleh sosok rindu, ia lebih tahu Rere daripada Rere mengenal dekat sosok rindu itu seperti apa.


Rasanya tak mungkin bagi Sultan bilamana dia merindukan sosok Rere terlebih dahulu, pada dasarnya hanya Rerelah yang selalu merindukan sosok seperti Sultan di sana.


Cara Sultan membuat dia tersenyum dan tertawa itu adalah sebuah rasa ketidak berdayaan Rere dalam menahan rasa ingin bertemu dengannya.


Tugas Sultan hanya memastikan rindu Rere terpenuhi, ia pulang ke Sukabumi karena ia ingin menjemput rindu itu saja, bukan melainkan dia ingin melampiaskan rindu tersebut kepada Rere, tapi Rerelah yang akan melampiaskan rindunya itu kepada Sultan.


Lagi-lagi Dimas berbicara kepada Sultan, mengapa pacarnya dari tadi pagi hingga sampai sekarang ini masih belum menghubunginya juga.


Dimas berbicara seperti itu karena dia hanya ingin tahu cara menyikapi sikap pacarnya harus bagaimana, dan tentunya dengan senang hati Sultan membantu dia untuk lebih sabar lagi dalam menunggu kabar dari pacarnya itu.


"Pacar gue masih belum ngabarin gue juga Tan, dari tadi pagi hingga sampai sekarang," ucap Dimas singkat, di mana dia hanya bisa menatap layar ponselnya itu saja, padahal di luar kontrakan dia dapat melihat banyak para wanita yang tengah bermain di sana.


"Bukannya elu tahu arti dari kata sabar itu seperti apa ya, tunggu ajalah sebentar lagi, lagipula gue pun bernasib sama seperti elu sekarang, namun yang membedakannya adalah gue yang engga pernah menunggu rindu itu hingga bergumam," ucap Sultan terjeda, di mana ia memang sengaja menjedanya karena dia ingin menghisap terlebih dahulu rokoknya itu.


"Biarakan dia yang mencari elu Dim, bukan melainkan elu yang mencari dia, biasanya rindu sering datang kepada wanita terlebih dahulu, dikarenakan sosok wanita memiliki hati yang begitu lembut, jadi sampai sini elu pahamkan Dim, bahwa rindu sering datang kepada orang pemilik hati yang lembut terlebih dahulu."

__ADS_1


Ucapan terakhir Sultan membuat Dimas sadar, bahwa hati seorang pria itu ditakdirkan cenderung lebih kuat bila dibandingkan dengan hati seorang wanita yang bisa dibilang cenderung lebih lembut.


Namun, tentunya unsur dari hati yang kuat itu tidak selamanya berpacu ke arah kekuatan saja, dan pastinya hal itu takan selamanya berpihak serta mengarah kepada satu tujuan saja, akan ada masanya hati yang kuat membagi perasaan cinta dan sayangnya itu terhadap kekasihnya sendiri.


__ADS_2