
Grungg, grungg, grungg ....
Raungan suara mobil pribadi milik bunda telah tiba di tempat perkemahan Elang Jawa, Robby bersama dengan Sultan pun lalu menaruh barang-barang bunda di belakang bagasi mobilnya tersebut, namun di sana beliau menyuruh semua anak lelakinya itu untuk pergi mengawalnya sebentar kesuatu tempat oleh-oleh khas buatan tangan orang-orang Sukabumi, yang di mana tempat itu sangat ramai dicari oleh sebagian orang jauh yang memang mereka semua sedang berlibur di sana.
Nama tempat itu adalah Mochi Khaswari Lampion, yang di mana tempat tersebut itu tentunya sangat populer di sekitaran Kota Sukabumi, dan lokasinya itu bertempatan di jalan Selabatu, Kecamatan Cikole.
Bundanya meminta mereka semua untuk pergi mengantarkannya ke tempat tersebut itu, dikarenakan beliau tidak mengetahui tempat itu, selain mereka lah sebagai warga asli Sukabumi, yang kebanyakan semua orang-orang di sana mengetahui langsung tempat itu berada di mana, dan terlebih tempat itu memang agak sedikit tersembunyi di sebuah gang.
"Jalan-jalan sebentar sama bunda dulu yu? bunda mau minta tolong kepada kalian semua untuk mengantarkan bunda pergi membeli oleh-oleh khas Sukabumi yang sangat populer itu, kalian mau kan mengantarkan bunda pergi ke sana terlebih dahulu?" ucap bunda kepada semua anak asuhannya itu, yang di mana kedua anak wanitanya itu pun lalu tersenyum kegirangan, ketika mereka berdua mendengarkan ucapan dari mulut bundanya itu.
"Bunda mau kita temani ke mana? soalnya tempat oleh-oleh khas Sukabumi ada banyak di sini bunda," ucap Agung dengan nada lembutnya itu.
"Mochi Khaswari Lampion, kalian tahu kan tempat itu? kalau misalnya kalian tahu tempat itu, kita pergi ke sana dulu yu, mau engga?".
"Boleh lah bunda, kita tahu kok, nanti biar kita arahin jalannya, kalaupun bunda mau naik motor, bunda bisa ikut sama Agung, soalnya motor Danar dirancang hanya untuk dia sendiri saja," ucap Sultan kepada bundanya, dikarenakan bunda sudah mengetahuinya bahwa anak pertamanya akan ikut bersama dengan sultan.
Bunda pun setuju untuk pergi bersama dengan Agung, dan beliau pun memang sangat ingin pergi berjalan-jalan terlebih dahulu, apalagi beliau sangat merindukan duduk dimotor tua bersama anak-anak asuhannya itu sembari mencari angin segar di jalanan terbuka.
Grungg, grungg, grungg ....
__ADS_1
Suara motor tua kembali dinyalakan, dan Stevia pun lalu duduk bersama dengan kekasihnya itu Robby, sementara itu si wanita manja duduk bersama dengan Sultan, dan bunda pun duduk bersama dengan Agung, sementara itu sahabatnya yang satu lagi duduk hanya ditemani dengan gitarnya itu saja.
Tentunya ini bukan hari pertama kalinya mereka duduk dimotor tua bersama dengan mereka semua, dan sebelumnya mereka juga pernah sempat pergi touring bersama-sama ke Puncak, yang berada di Bogor dan juga pergi ke Pelabuhan Ratu, yang berada di Kabupaten Sukabumi.
Wanita manja itu sangat menikmati perjalanannya bersama dengan Sultan, sembari tertawa-tawa bersamanya karena sikap adiknya yang lucu itu.
Siapa saja yang pernah duduk dimotor tua bersama dengannya, dan tentunya semua ceritanya itu pasti akan sama dengan orang yang memang pernah dia ajak jalan-jalan bersamanya sebelumnya.
Senyuman, tawa, dan canda itulah yang menjadikan suatu kata penyesalan, bukan melainkan penyesalan rasa untuk tidak pernah bermain bersama denganya lagi, namun melainkan penyesalan yang dimaksud itu adalah arti sebuah kata kenapa waktu itu tidak bisa berjalan selambat yang mereka semua inginkan di kala itu.
....
"Kamu engga cape apa Tan? dari semalam kamu belum tidur, hingga sampai sekarang kamu mau menemani bunda membeli oleh-oleh di sini, emangnya kamu engga pusing sedikit pun?" ucap kakaknya sembari memeluk tubuh Sultan dengan begitu eratnya.
"Gue itu serigala yang tidak pernah tidur Teh, berapa pun jangka waktunya, selagi gue kuat menahannya, isyaallah gue bisa, asalkan semua orang yang gue cintai ini mampu untuk bahagia," ucap Sultan sembari menatap raut wajah kakaknya itu di balik kaca spion motor tuanya.
"Sikap elu ini emang engga pernah berubah sedikit pun dari dulu ya, Tan, dan pastinya elu bersikap seperti ini itu bukan hanya kepada gue saja kan Tan? andai saja semua orang bisa mengetahuinya, seberapa asiknya bermain berdua bersama dengan seorang Sultan, dan pada dasarnya mungkin mereka akan beranggapan sama seperti gue."
"Apaan sih elu Teh! gue bukan orang yang seperti itu, lagian itu terlalu berlebihan bagi gue, dasar lu ya, emang cewe bolot! percuma kuliah juga kalau tanggapannya semua engga pernah berubah dari dulu."
__ADS_1
"Selalu aja ngeles! yaudah dah terserah lu aja! gue engga perduli sedikit pun!".
"Dihh, kok, elu marah sih! emangnya elu bisa marah sama gue apa? kalau emang lu bisa marah sama gue yang imut ini, gue bakalan anggap lu hebat," ucapnya sembari memberhentikan laju motor tuanya itu.
Wanita manja itu masih marah kepada Sultan, hingga dia pun merasa bingung juga kepadanya, kenapa Sultan memberhentikan laju motornya itu, namun dia tetap ingin membiarkan Sultan membujuknya terlebih dahulu.
Sultan pun masih mendiamkan wanita manja itu sambil menyandarkan kedua tangannya itu dicover body kemudi motor tuanya, hingga pada akhirnya kakak cantiknya itu pun mau berbicara kepada Sultan kembali.
"Ayo maju ihh cepetan! kenapa elu berhentiin motor elu di pinggir jalan gini sih Tan?" ucap kakaknya sambil menepuk helm Sultan seperti layaknya Rere, namun akan tetapi dia menepuk helm Sultan tidak sekeras seperti layaknya kekasih nyatanya itu di sana.
Wanita manja itu selalu memperlakukan Sultan dengan sebaik dan selembut mungkin, dan bahkan sikap lembutnya itu kalah jauh bila Sultan membandingkannya dengan sikap kekasih nyatanya itu di sana, dan juga gaya berbicara kakaknya itu sungguh sangat berbeda dengan pacarnya itu, yang di mana bukan hanya sikapnya saja yang begitu lembut kepadanya, melainkan suaranya pun terdengar begitu merdu dan terdengar begitu lembut juga.
Akan tetapi, sikap perhatian Rere lebih unggul, walaupun wanita yang selalu ia anggap sebagai kakaknya itu pun bisa menyamai sikap perhatian Rere itu juga, namun rasa sayangnya Rere kepada Sultan memang tak bisa ia pandang sebelah mata, dan mungkin rasa sayang Rere bisa lebih jauh mengungguli rasa sayang kakaknya itu.
"Motor tua ini punya kode rahasia Teh, kalau ada seseorang yang merasa kalau dirinya tidak nyaman dengan sikap gue ini, dia akan berhenti dengan sendirinya tanpa perintah, maka dari itu tagihannya dia harus melihat seseorang itu tersenyum terlebih dahulu, dan sesudah itu baru deh, si motor tua ini bakalan bisa berjalan kembali dengan sendirinya," ucapnya yang membuat kakaknya itu tersenyum, hingga pada akhirnya motor itu kembali berjalan, dan yang pastinya itu hanyalah alasan dia saja agar supaya kakaknya itu bisa kembali tersenyum kepadanya.
Dan sesampainya bunda di tempat perkemahan, beliau pun sama sekali tidak melihat Sultan di sana, dikarenakan Sultan bukan ingin mengantarkan kakaknya itu kembali kepada bundanya, melainkan dia ingin membawanya pergi ke tempat yang memang mereka pun akan dipertemukan kembali di sana juga.
Jalur pemisah antara Kota Sukabumi, dengan jalur pemisah Kabupaten Sukabumi, yang di mana Sultan telah menunggu bundanya itu di sana bersama dengan wanita manjanya, hingga pada akhirnya bunda pun telah tiba di sana dan langsung memeluk tubuh Sultan bersama dengan kakaknya itu juga.
__ADS_1
Lambaian tangan terakhir itu diberikan oleh Sultan bersama dengan ketiga sahabatnya itu sebagai tanda salam perpisahan, hingga pada akhirnya semua sahabatnya itu pun berpamitan kepada Sultan untuk pergi pulang ke rumahnya masing-masing kembali, namun pada saat itu Sultan tak langsung pergi pulang ke rumahnya terlebih dahulu, dan tentunya dia akan datang untuk menemui Rere yang sedang melaksanakan tugasnya itu di sebuah perusahaan Yamaha Motor.