Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 47 : Sikap asli seorang kekasih


__ADS_3

Masih dalam percakapan yang panjang, malam itu sungguh membuat hati Rere tak ingin kembali membebani tekad Sultan yang sudah bulat itu, dan dia di sana takan pernah melarang Sultan lagi untuk pergi keluar kota nantinya.


"3 Bulan adalah waktu yang singkat Re, dan pastinya nanti aku akan pulang kembali untuk membawamu pergi, berkeliling kota Sukabumi kembali di sini," ucap Sultan malam itu.


"Sukabumiku kayaknya akan sepi nih Tan, hehe," ucap Rere sembari tertawa tipis kepada Sultan.


Suara tawa yang Rere keluarkan begitu singkat! dan itu menandakan bahwa dirinya masih belum bisa melepas Sultan begitu saja di sana.


Masih ada rasa takut dalam hatinya itu, dan ia masih belum bisa melihat Sultan pergi jauh dari sisinya, walaupun itu hanya sementara saja, akan tetapi Rere menanggapi hal itu terlalu berkeseriusan! dan hingga pada akhirnya, rasa takut akan merindukan Sultan itu, takan bisa ia tahan lagi nantinya.


"Sukabumiku takan pernah sunyi Re, karena di dalamnya masih ada cerita kita, yang di mana bila kamu merindukan sosok Sultan, kamu bisa kembali mengungkit dan membayangi masa yang pernah kita buat di sini dulu."


"Membayangkan dan mengingat itu berbeda Re, membayangkan lebih ketitik yang hanya sementara, dan tentunya mengingat akan jauh kita rasakan lebih dari pada membayangkan, karena ingatan akan selalu tertanam dalam pikiran kita."


"Mengingat bayangan itu akan hilang ketika malam pun datang, tetapi berbeda dengan ingatan, yang di mana ingatan itu akan selalu menempel dalam pikiran kita, walaupun malam hadir menemani kita kembali," ucap Sultan berketerusan.


"Seperti hal nya mimpi juga kan Tan."


"Benar Re, mimpi akan hilang ketika kita terbangun, dan bilamana kita terbangun dari mimpi itu, kita masih akan mengingat mimpi itu kembali."


"Sesederhana itu kah Tan, konspirasi alam kehidupan."

__ADS_1


"Sederhana Re, asalakan kita tak terlalu melebih-lebihkannya, dan maka dari itu kamu harus tahu, bahwa hidup takan pernah terasa sulit bilamana kita selalu mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita di sini."


"Seperti kamu ya, Tan, aku harus selalu mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepadaku, dan itu adalah kamu."


"Begitulah Re, aku takan pernah bisa berkata-kata tanpa adanya akal sehat yang beliau berikan kepadaku saat ini, dan itu semua pun ada pada kamu Re, inspirasi yang selama ini selalu menemaniku dikala aku sedang merasa gundah terhadap rindu yang tak mau pergi dari persinggahan ini."


Malam kelabu, malam sunyi yang sepi akan tertidurnya seluruh kehidupan di dalamnya, kini membuat hati merasa takan pernah bisa menepi kembali, dan sehingga hati itu akan terus-menerus merasakan kehangatan cinta, yang tiada memiliki garis tepi, ataupun garis akhir, selama kisah ini masih ada menemani.


Hati terus berbolak-balik, antara mengakhirinya, ataupun melanjutinya kembali, hingga mana pagi pun tiba menyambutnya dengan sangat manis di kota kecilnya itu lagi.


"Udah terlalu larut malam Re, kamu lebih baik tidur, dan esok pagi aku akan datang menjemputmu kembali di sana nanti," ucap Sultan malam itu, yang sudah tidak kuat menahan rasa ngantuknya tersebut di sana.


"Tolong jangan dimatiin teleponnya ini ya, Tan, walaupun kamu akan tertidur lebih dulu daripada aku," ucap Rere dengan nada lembut, yang tidak mau Sultan meninggalkan suranya itu di sana, walaupun suara badan yang berbalik akan mencari kenyamanan posisi tidurnya itu pun, takan pernah membuat Rere merasa terganggu sedikit pun, asalkan ia masih bisa mendengar Sultan tetap memberikan kabar kepadanya bahwa Sultan masih tetap hidup di sana.


....


Pagi kembali menyapa, sinar mentari datang menghampirinya dengan begitu cerah, hangatnya yang takan pernah bisa membuat dingin, menjadi semakin lebih dingin lagi ketika mana mereka rasakan berdua di kota kecil itu.


Suara burung bersiul disekeliling jalan, angin pagi meniup pepohonan hingga menimbulkan bunyi yang sangat menawan, dan hingga pada akhirnya, kota itu kembali tersenyum, seperti layaknya mereka berdua di sana.


"Asalamu'alaikum," ucap Sultan kembali menyapa orang rumah yang berada di dalam rumah Rere itu dengan manis.

__ADS_1


"Wa'alaikum Salam," ucap ibu Rere pagi hari itu sembari menyuruh Sultan masuk ke dalam rumahnya tersebut.


Dengan manisnya ibu Rere membawakan kembali segelas air susu hangat untuk Sultan minum di sana. Ia pun lantas meminum susu itu sambil menunggu Rere selesai dengan urusannya sendiri di dalam kamarnya tersebut.


Sultan pun di sana mencoba untuk menelepon Rere, yang di mana ia hanya ingin mengusili Rere saja karena Sultan merasa sangat heran padanya, bahwa belakangan ini Rere selalu membuat Sultan menunggu.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala. Namun, waktu itu Rere tak menjawabnya karena Rere pun ingin membuat Sultan lebih menunggu lama lagi di sana.


Alasan Rere bersikap seperti itu karena ulah Sultan sendiri, yang di mana ia menjemput Rere begitu pagi sekali, dan bahkan tukang bubur ayam yang sering lewat di depan gang rumah Rere itu pun juga belum datang sama sekali.


Dan di sana, tiba-tiba Sultan sudah ada di dalam rumahnya saja, tanpa sedikit pun ia mengabari Rere terlebih dahulu. Rere sontak terkejut, namun untungnya Rere sudah bersiap-siap lebih awal pagi tadi, sebelum Sultan yang menjemputnya lebih dahulu.


"Hmm, sukurin kamu Tan! abisnya suruh siapa sih kamu datang pagi-pagi begini, jadinya lama nunggu kan! orang aku juga males berangkat jam segini mah," ucap Rere dalam hati sembari tertawa menghadap ke arah kaca cerminnya itu.


Rere hanya sengaja lebih lama berdiam diri di kamarnya itu karena ia hanya ingin melihat, seberapa jauh letak kesabaran Sultan sekarang, ketika mana waktu kemarin dia sudah dibuat bimbang terus-menerus oleh Rere.


Tak lama kemudian, Rere pun lalu keluar dari kamarnya itu setelah mana ia sudah merasa puas menjahili Sultan di sana. Tanpa berat hati, Rere pun lalu duduk kembali disamping Sultan sembari mencubit pipi prianya itu dengan begitu keras.


"Engga jelas elu mah emang Re! tiba-tiba nyubit gitu aja tanpa memberi alasan yang jelas lebih dulu," ucap Sultan sembari mengelus-elus pipinya itu di sana.


"Sutt, jangan berisik! kalau berisik, entar gue tampar!" ucap Rere sembari menahan bibir Sultan dengan menggunakan jari telunjuknya itu dengan manis.

__ADS_1


Rere menatap Sultan di sana dengan lama, tanpa sedikit pun dia berpaling darinya. Jari telunjuknya itu pun masih menempel kepada bibir Sultan, dan tanpa ia sadari, bahwa Rere benar-benar sudah kembali seperti dulu lagi, yang di mana Rere takan pernah mengenal rasa khawatir lagi terhadap kepergian Sultan itu nantinya.


__ADS_2