Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 183 : Kegelisahan


__ADS_3

Sebelumnya Rere sempat bilang kepada ibunya bahwa pagi nanti Sultan akan datang menjemputnya kembali. Dia pun sempat menyuruh ibunya untuk membangunkan dirinya bilamana dia ketiduran nantinya.


Tak lama kemudian setelah waktu berjalan 10 menitan, beliau baru bisa membangunkan Rere sekaligus beliau pun ingin menanyakan, serta memastikan masalah yang telah membuat Rere segelisah itu.


"Re, bangun Re, katanya kamu ada janji sama Sultan, tapi kok, kamu malah tidur lagi," ucap beliau dengan rendahnya sambil sesekali menepuk-nepuk pelan lengan Rere.


Rere terbangun dengan tetesan air mata yang mengucur pelan membasahi kedua pipinya. Beliau mengusap tetesan air mata itu dengan lembutnya menggunakan kedua tangannya.


"Sebenarnya kamu kenapa Re, dari tadi mamah lihat kayaknya kamu lagi gelisah, apa Sultan udah nyakitin kamu ya, kalau emang Sultan benar-benar nyakitin kamu di sini, biar mamah hajar wajah Sultan," Beliau berusaha menghibur Rere dengan candaan yang dia dapatkan dari ibu Sultan.


"Engga Mah, hubungan Rere sama Sultan baik-baik aja kok, Rere cuma lagi bingung aja, kenapa mimpi buruk tentang Sultan tiba-tiba muncul gitu aja," ucap Rere mulai bisa memberikan senyumannya walaupun hanya sesaat saja.


"Semalam sebelum tidur kamu sempat mikirin Sultan engga Re?".


"Sempat sih Mah, emangnya kenapa?".


"Penyebannya adalah itu Re, disetiap kali kamu memikirkan raut wajah Sultan pastinya ingatan itu akan selalu terbawa sampai alam khayalan. Sebenarnya masalah mimpimu itu cuma masalah sepele aja, engga ada yang perlu kamu khawatirkan, apalagi sampai kamu memikirkannya terlalu berlebihan, emangnya kamu mau itu terjadi Re."


Rere memeluk tubuh ibunya setelah dia mendengarkan penjelasan dari beliau. Rere tersenyum bahagia sambil sesekali berpikir bahwa penjelasannya sudah sama seperti penjelasan yang selalu dia dengar dari mulut Sultan.


Rere mengira bahwa Sultan telah mengajari beliau bagaimana caranya menenangkan hati Rere di kala kegelisahan tengah melanda hatinya.


Sementara itu dikediaman Sultan, nampaknya Sultan telah siap untuk menjemput Rere. Ia sengaja menggunakan jaket merah dan celana olahraga berwarna hitam khas sekolah tercintanya, dikarenakan Rere pun pasti akan menggunakan pakaian yang sama dengan Sultan.


Sebelumnya Sultan memang sengaja tak ingin menelepon Rere terlebih dahulu, entah kenapa kali ini rasanya dia ingin mengejutkan Rere bahwa selama di Tangerang dirinya bisa menjadi sedisiplin ini.


Motor tua sudah siap digunakan setelah ia memanaskan mesin motor tuanya itu terlebih dahulu. Sultan pun lalu meninggalkan rumahnya dengan perasaan bahagia seperti kemarin.

__ADS_1


"Kenapa gue jadi kaku begini ya! padahal tinggal telepon dia aja susahnya minta ampun, sebenarnya apa yang lagi elu takuti sih Re," ucap Rere berbicara seorang diri sambil menatap kontak Whatsapp Sultan.


Rere merasa jarinya tak sanggup untuk menekan tombol panggilan itu, entah kenapa rasanya sungguh berat, namun bila dia tak menelepon Sultan dari mana dia bisa tahu Sultan sudah berangkat atau belum.


Rere hanya sanggup menatap kontak Whatsapp Sultan saja tanpa mau menghubungi Sultan di sana. Hingga pada akhirnya suara motor tua Sultan terdengar jelas ditelinga Rere.


"Langsung masuk ke rumahnya aja kali ya, udah deket ini engga usah ditelepon-telepon segala," ucap Sultan sembari melempar rendah dan menangkap kembali kunci motornya.


Seperti biasa sebelum Sultan masuk ke dalam rumah Rere, ia pasti akan selalu memberikan salam untuk menyapa orang-orang yang berada di dalam rumah.


....


"Assalamu'alaikum," ucap salam Sultan dengan lembutnya.


"Wa'alaikum Salam, sebentar Tan," ucap salam Rere dengan ditinggalkan ponsel miliknya di atas meja ruangan rumah.


"Mamah lagi pergi ke luar, emangnya di depan sana engga ada bukan Tan."


Sultan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil sesekali mengernyitkan dahinya. Ia pergi dari rumah Rere dan menunggu ibu Rere di depan gang sampai beliau tiba, dikarenakan pintu rumah tidak ada yang mengunci bilamana mereka pergi begitu saja.


Tak lama kemudian ibu Rere datang, Sultan pun lalu mengecup tangan beliau dan lagi-lagi tanpa beliau sadari Sultan mengucap kata maaf kembali kepadanya.


"Ehh mamah ketemu lagi kita," ucap Sultan dengan dikecup mansinya tangan ibu Rere.


"Sultan pulang jam berapa semalam, katanya Rere sempat nyiram mata Sultan pake air cabe," tanya beliau sekedar hanya ingin memastikan apakah ucapan yang semalam Rere ceritakan itu benar.


"Sebelumnya Sultan mau minta maaf sama mamah karena udah dua hari ini Sultan sering datang ke rumah mamah."

__ADS_1


"Minta maaf mulu dah heran mamah, iya Tan, engga apa-apa kok, mamah seneng kalau Sultan datang dan mulangin Rere dalam keadaan tersenyum seperti kemarin."


Sultan tersenyum sembari menceritakan kejadian semalam kepada beliau, apakah benar dia terkena semprotan air cabe dari Rere.


kejadian semalam memang salah Sultan sendiri, gara-gara ulahnya yang sangat menyebalkan itu Rere jadi takut pergi ke luar malam-malam sendirian, sampai-sampai Sultan yang menjadi korban dari semprotan air cabe milik Rere itu.


Ibu Rere tertawa, bahkan Rere pun ikut tertawa, sebenarnya itu adalah alasan beliau menanyakan kejadian semalam kepada Sultan, kurang lebihnya agar Rere bisa kembali tertawa seperti ini.


Mereka berdua lalu pergi setelah mengecup tangan lembut dari ibu Rere di sana. Sebelumnya beliau sempat ingin menanyakan masalah yang tengah melanda kegelisahan dihati anaknya itu, namun beliau tak dapat menceritakannya langsung di hadapan Rere.


Sebenarnya beliau tak perlu menanyakan masalah tersebut kepada Sultan bila beliau hanya ingin melihat senyuman dari anaknya itu kembali, dan terlebih Sultan pasti akan selalu menghibur Rere kapan pun tanpa perintah, tanpa batas ruang, dan waktu.


"Tan, gue mau ngomong sama lu," ucap Rere masih merasakan kegelisahan atas mimpinya semalam.


"Aduhh ... ada apa nih? suaramu engga terdengar seperti biasanya Be," tanya Sultan menebak semua isi dalam pikiran Rere.


"Biasa aja kali Tan, bilang aduhnya! gue sampai kaget nih jadinya."


"Kenapa? lu semalam mimpi buruk bukan?".


Lagi-lagi Sultan membuat Rere menatap raut wajahnya di balik kaca spion motor tuanya. Pada saat Sultan menjawab pertanyaan dari Rere, dengan seketika dia terdiam.


"Kok, kamu tahu Tan?" tanya Rere penasaran.


"Hubungan kita lagi baik-baik ajakan Re? lagian elu engga akan mungkin mau membahas masalah lain dengan nada suaramu yang seperti itu kalau bukan mau membahas masalahmu sendiri sama gue," Sultan memang sering mendengar nada suara rendah dari Rere yang seperti itu, dan suara itu bukan mencerminkan sikap asli dari Rere, melainkan itu adalah rasa kegelisahan yang sering datang menghantui alam pikiran Rere.


"Cerita lah Re, kayayaknya asik juga tuh buat didengar."

__ADS_1


__ADS_2