
Sore itu Sultan dan teman-temannya menghabiskan waktunya di sebuah tempat yang masih berada di sekitaran Tangerang, namun mereka semua tak mengetahui nama tempat tersebut itu adalah apa.
Lokasi tersebut memang cocok dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat ataupun tempat nongkrong, khususnya bagi para pemuda dan pemudi.
Kalau malam tiba tempat tersebut akan menyuguhkan permandangan yang sangat asik, apalagi lampu jalanan itu memiliki cukup banyak warna, sehingga mata pun tak sanggup untuk berpaling darinya.
Seperti biasa mereka semua pasti takan pernah melupakan temannya, yaitu rokok, kopi, serta susu hangat yang sempat mereka pesan dari pedagang asongan.
Orang-orang di sana begitu ramah, mereka semua saling sapa-menyapa walaupun pada dasarnya teman-teman Sultan, dan orang-orang itu tak mengenal satu sama lain.
"Gimana hubungan elu sama Rere Tan? baik-baik aja kan di sana? dan terus kemarin elu kenapa memutuskan untuk pergi dari Tangerang, padahal Jumat depan kita pun mau pulang ke Sukabumi," tanya Dimas kepada Sultan.
"Baik-baik aja Dim, kemarin gue sempat main ke Pelabuhan Ratu sama dia, dan itu pun engga terlalu lama, soalnya badan gue masih agak sedikit lemas," ucap Sultan sambil menyeruput kembali susu hangat yang dia pesan itu.
"Syukurlah. Ohh, iya Tan, elu masih belum menjawab pertanyaan dari gue, kenapa elu maksa diri elu sendiri untuk pulang ke Sukabumi, padahal waktu itu elu belum pulih seutuhnya."
"Udah hampir dua Minggu Rere engga ngabarin-ngabarin gue, makanya kenapa gue memutuskan untuk pulang ya, karena hal ini Dim, dan setelah gue selidiki ternyata handphone dia diambil sama preman, lebih tepatnya ditodong sama preman terminal di Kota kita Dim."
Dimas pun terkejut ketika mana dia mendengar cerita dari Sultan bahwa pacarnya itu sempat ditodong oleh para preman terminal.
Kini mulai terlihat raut wajah Dimas tengah menyimpan perasaan yang sama seperti perasaan temannya waktu itu.
__ADS_1
Dimas terdiam sambil memegang kopi ditangan kanannya, dia merasa khawatir bilamana kekasihnya akan mengalami hal yang sama seperti Rere.
Sultan sudah bisa menebak pikiran Dimas sebelumnya, dan memang itu adalah sikap yang harus dia miliki, bahkan sikap tersebut harus tertanam di dalam dirinya sendiri.
Sultan menaruh susu hangatnya tepat di bawah kaki kanan dan kirinya. Ia menghisap lebih dalam agar asap rokok itu terlihat lebih tebal saat ia menghembuskannya.
Lalu setelah itu Sultan merangkul bahu Dimas sambil menepuk-nepuk pelan bahunya juga. Ia mulai menenangkan perasaan Dimas di sana tanpa teman-temannya ketahui.
"Tenang aja Dim, dia baik-baik aja di sana, dan waktu itu gue sempat melihat pacar elu juga, gue melakukan hal tersebut bukan karena gue sayang sama dia, melainkan gue udah tahu kalau elu pasti tengah mengkhawatirkannya di sana," ucap Sultan terjeda, ia sengaja menjeda ucapannya untuk menyeruput susu hangatnya terlebih dahulu.
"Pacar elu engga akan bernasib sama seperti Rere kok, lagipula gue lihat pacar elu aman-aman aja di dalam rumah, dan satu hal lagi yang harus elu ketahui, gue juga sempat menyapanya, dia nanyain elu tuh di sana, katanya tolong sampaikan rindu ini dari dia untuk elu, dia sayang sama lu."
....
"Sebenarnya gue malu sama sikap gue ini Tan, kenapa gue engga bisa sepandai elu dalam menjaga perasaan pacar gue sendiri, bahkan sikap elu jauh lebih baik dari pada sikap gue di sini," ucap Dimas, di mana dia sengaja menjeda ucapannya untuk menghisap rokoknya yang tinggal setengah itu.
"Gue salut sama elu Tan, demi menjaga perasaan pacar gue, elu rela datang ke rumahnya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja, padahal gue ini pacarnya, tapi kenapa gue malah mengabaikannya."
Pandangan Dimas sekarang tak sama seperti yang sebelumnya, dia hanya bisa menundukan kepalanya itu saja sekarang.
Sultan berpikir dia cemburu, tapi Sultan menyikapinya dengan tawa lepasnya, dikarenakan pemikiran Sultan yang sebenarnya bukan itu, melainkan ia pun sudah mengetahui pasti pemikiran dia itu apa, dan bukan karena rasa cemburu.
__ADS_1
"Haha, elu cemburu sama gue bukan Dim? gue engga percaya elu bisa cemburu sama makhluk rendahan seperti gue ini," ujar Sultan sembari tertawa lepas melihat Dimas merendahkan dirinya sendiri.
"Cemburu gue hanya karena sifat serta sikap elu itu aja Tan, padalah kita ini sama-sama cowok, tapi kenapa gue engga bisa memiliki dan menanami kedua hal yang elu miliki itu," ucap Dimas yang masih merundukan pandangannya dari Sultan.
"Elu dan gue memang sama cowok Dim, tapi yang membedakannya adalah gue itu orangnya pantang menyerah, apalagi mundur, sementara elu itu orangnya mudah menyerah hanya karena elu engga bisa memiliki sifat serta sikap gue ini."
"Hadeuh ... ayolah, elu pasti bisa kok, Dim, elu boleh mengambil contoh yang baik dari sikap gue ini, asalkan elu jangan menjadikan gue sebagai panutan diri elu sendiri aja, dikarenakan gue bukan makhluk Allah yang paling sempurna di alam semesta ini," ucap Sultan, di mana ia hanya bisa berharap ucapannya dapat membuat Dimas berpikir lebih jauh untuk merubah sikapnya yang buruk itu.
Dimas mengangguk, sepertinya dia memahami apa maksud Sultan mengucapkan kata seperti itu kepadanya, namun sangat disayangkan, dia hanya memahaminya sebatas angin lalu saja, dan setelah itu penyakitnya akan kambuh bilamana temannya menjerumuskan dia kembali.
Sultan mematikan rokoknya dan memasukan puntung rokok bekas tersebut ke dalam bungkus rokok kosong agar Sultan tak mencemari kebersihan alamnya yang sekarang ini.
Sultan menghela napas dalam-dalam, dan lalu ia pun menghembuskan napasnya itu dengan perlahan-lahan sembari menatap indahnya langit di sore hari ini.
Tak lama kemudian, suara ponsel milik Sultan berdering, dan itu pasti Rere, lantas ia pun mengangkat panggilan suara tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Apa Be? pasti kamu kangen ya? maaf, gue baru menjawab panggilan telepon dari elu soalnya teman-teman gue ini tiba-tiba ngajakin gue main setelah gue sampai di Tangerang," ucap Sultan masih tak sadar bahwa yang meneleponnya itu adalah Iman.
"Dasar bego! geli gue dengernya! elu udah berangkat belum Tan? ini gue Iman, temen elu yang paling ganteng ditongkrongan," ucap Iman membuat Sultan mematikan panggilan telepon suaranya tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Ahh, sial! gue kira Rere, pacar gue, ternyata cuma Iman kampret aja! males gue kalau dia udah ngomong orang paling tampan ditongkrongan, padahal gue tahu tuh kalau dia mau bilang orang paling pendek ditongkrongan," ucap Sultan yang langsung memasukan ponselnya itu ke dalam saku celana jeans hitamnya kembali.
__ADS_1