Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 70 : Album foto Sultan


__ADS_3

Masih di hari dan di tempat yang sama, yang di mana ibu Sultan tengah berbincang asik dengan Rere di dalam rumahnya itu, dan sehingga Sultan pun hanya dijadikan tempat pelampiasan saja oleh mereka, dan Sultan pun hanya duduk terdiam di dalam kamarnya itu sembari memainkan gitarnya tersebut itu di dalam sana.


Dan sesekali ia pun melihat ke depan pintu kamarnya itu di sana, yang di mana perbincangannya itu telah membuat Sultan lama menunggu, dan padahal hari itu Rere ingin ditemani oleh Sultan untuk pergi ke sebuah sungai, yang di mana tempat itu pernah diceritakan oleh Sultan sebelumnya kepada Rere.


Namun, ibu Sultan di sana semakin mendesak dan membuat Rere semakin betah saja, dikarenakan beliau tengah menunjukan foto Sultan sewaktu ia masih kecil, dan tentu saja Rere tertawa-tawa dengannya.


Semua cerita tentang Sultan, semua tingkah laku Sultan semasa kecilnya itu, hingga dia menjadi dewasa seperti itu pun, beliau ceritakan semuanya, dan bahkan sikap yang masih melekat di dalam diri Sultan pun, beliau ceritakan juga semuanya kepada Rere.


Rere hanya bisa menjadi pendengar yang baik di sana, ia pun sama sekali tak menatap Sultan, padahal kamar Sultan dengan ruang tamu itu, jaraknya cukup berdekatan, dan bahkan wajah Rere pun mungkin berhadapan langsung dengan wajah Sultan di sana.


Namun, seorang ibu tentu saja bisa membuat anak wanitanya itu terpanah, bisa membuat anak wanitanya itu semakin sayang kepada dirinya, dan mungkin biasa saja Rere lebih menyayangi ibu Sultan itu, ketimbang dengan Sultan nya sendiri di sana.


"Mamah mau tunjukin foto Sultan selagi dia masih kecil Re, dan album ini dulu sempat hilang, tapi setelah Sultan cari-cari keseluruh ruangan, dan akhirnya bisa ketemu juga," ucap ibu Sultan sembari menatap Rere dengan sesaat.


"Hahh, ini beneran Sultan kan Mah? kok, bisa-bisanya dia seimut ini ya, semasa kecilnya? Rere engga nyangka loh Mah, ngelihatnya, dan bahkan Rere pun kalah imutnya sama dia," ucap Rere sembari tersenyum ketika melihat foto Sultan itu.


"Semua orang pada rebutan pengen gendong dia Re, dan bila mamah pergi ke luar rumah, semua orang datang pada nyubit pipinya itu."


"Tan, kamu balik lagi aja kemasa kecilmu ya, biar entar aku culik kamu," ucap Rere sembari menatap Sultan ke dalam kamarnya itu.


"Kalau misalnya gue kembali kemasa kecil gue, nanti siapa yang akan jagain kamu di sini Re? emang kamu mau gitu jagain gue yang nakal ini? pasti kamu bakalan pusing sendiri Re, benar kan Mah?".


"Dan pastinya kamu engga akan sanggup Re, apa yang Sultan omongin itu memang benar, karena dia dulu pernah kabur dari rumah, sampai-sampai kita juga dibantuin sama orang-orang di sini juga."

__ADS_1


"Emang segitu nakalnya dia ya, Mah?".


Ibu Sultan tersenyum di hadapan Rere, dan setelah itu beliau pun lalu membiarkan Rere melihat-lihat kembali foto nostalgia Sultan itu di sana sendirian, lantas Sultan pun lalu membawa gitarnya tersebut dari dalam kamarnya itu, untuk menemani Rere di depan sana.


"Mamah tinggal dulu ya, sayang, kalau Rere mau minta tolong apa-apa, Rere bisa bilang sama Sultan aja ya, dia pasti seneng tuh kalau kamu mau dia bantuin," ucap ibu Sultan sembari mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Rere itu.


"Iya Mah, makasih ya, dan Rere juga mau minta maaf sama kalian berdua karena kehadiran Rere ini, hanya cuma membuat kalian menjadi repot saja."


"Engga apa-apa Re, mamah seneng kok, kalau kamu ada di sini yang nemenin mamah."


....


Dan di sana, Sultan bersama dengan Rere pun kembali berbincang berdua, Sultan pun di sana menemani Rere yang tengah asik tersenyum-senyum sendiri itu sembari dipandanginya kembali foto Sultan itu di dalam sana.


"Sibuk amat Re? udah kenapa Re, atau mau kamu bawa pulang foto itu semua pun engga apa-apa Re, asalkan kamu bisa menjaganya dengan baik."


"Emang boleh ya, Tan?".


"Apa pun yang bisa membuatmu tersenyum, semua akan aku serahin sama kamu Re."


"Yaudah Tan, lanjut lagi nyanyinya ya, lagunya enak banget sumpah, aku boleh tahu engga judul lagunya itu apaan Tan? dan siapa penyanyinya?".


"Judulnya itu, malam rindu Re, dan penyanyinya itu adalah aku sendiri. Kamu engga percaya kan? makanya Re, seisi ruangan ini harus kamu geledah, supaya kamu tahu, bahwa bukan kata-kata saja yang aku buat, melainkan lagu pun bisa aku buat."

__ADS_1


Seketika itu, Rere pun langsung menatap Sultan, dan dia pun merasa Sultan sedang membohongi dirinya di sana, namun di sana Sultan memang berkata jujur, bahwa lagu itu adalah ciptaannya sendiri.


"Yaudah, tunggu apa lagi Re? ayo ikut gue, katanya elu mau gue temenin ke sungai, di sana enak banget udaranya Re, dan kamu bukan hanya bisa melihat aliran air sungai aja, melainkan kamu juga bisa melihat langsung bukit di sana," ucap Sultan sambil berdiri memegang tangan Rere.


Sebelum itu, Sultan pun sempat mengeluskan cairan obat nyamuk kepadanya terlebih dahulu, dan tentunya ia hanya takut kalau Rere terkena gigitan nyamuk, ataupun gigitan serangga yang berada di sungai itu di sana.


"Ihh, ini apaan Tan? kok, dingin banget ya? emang harus banget gitu ya, Tan, gue pakai ginian?" ucap Rere sembari melirik Sultan yang tengah mengeluskan obat nyamuk cair itu kepada tangan dan kakinya itu di sana.


"Buat jaga-jaga aja Re, kalaupun di sana engga terlalu banyak nyamuk, tetapi sekalinya banyak nyamuk, mereka semua pasti bakalan genit-genit Re," ucap Sultan sembari tertawa tipis kepada Rere.


"Kamu juga harus pakai ini Tan."


"Aku engga usah pakai kayak ginian Re, aku udah biasa hidup di sungai dan di hutan, jadi semua hewan yang ada di sana, itu semua adalah kawanku Re."


"Aku heran sama kamu Be! kenapa kamu suka mainin ular sih? dan itu di dalam kamarmu juga ada ular lagi, emang dia engga gigit gitu Tan?".


"Cuma kamu yang berani gigit aku Re."


Hidup Sultan penuh dengan perjalanan, dan ia selalu berkelana kemana pun ia mau, melampiaskan rasa kebosanannya itu, hanya untuk menyapa indahnya alam semesta yang berada di dalam negri ini.


Ia banyak belajar dari perjalanannya itu, dan ia banyak mengenal ekosistem kehidupan, yang di mana alam ini sedang meresponnya.


Dan maka dari itu lah, kenapa Sultan lebih memahami semua pendapat tentang alam, dikarenakan perjalanannya ini harus bisa membawakan hasil, dan contohnya adalah Rere, dia merupakan sebuah hasil yang Sultan lewati dari perjalanan keras hidupnya itu.

__ADS_1


__ADS_2