
"Ya, makasih atas tawarannya Bang, tapi sangat disayangkan sekali bahwa kita berdua masih sanggup untuk berjalan seorang diri tanpa harus kalian membatu kita sampai ke tempat tujuan."
"Maaf, kita harus segera pergi dari sini, tolong jangan memaksa kita dan jangan halangi jalan saya atau saya akan berteriak sekeras mungkin," ucapan Sultan terdengar begitu arogan sekali ditelinga para brandalan gila itu.
"Jangan galak-galak nanti cantiknya hilang, mendingan sekarang kalian berdua dengerin omongan dari kita-kita ini jika kalian berdua memang ingin selamat sampai ke tempat tujuan," ucap salah satu dari brandalan yang lainnya membuat Sultan semakin geram saja, dikarenakan brandalan itu menunjukan tatapan yang begitu menggelikan untuk Sultan tatap.
Sebagaimana sikap keras kepala dari para brandalan itu, mereka semua tetap kukuh ingin mengantarkan Sultan dan juga Azmi sambil sesekali membunyikan suara yang memang terdengar begitu memaksa sekali.
Azmi hanya bisa terdiam, dikarenakan dia tidak bisa menirukan suara wanita seperti Sultan. Suara Sultan memang terdengar seperti suara wanita asli, hingga mana para brandalan itu tak mencurigai mereka berdua.
"Ahh, ancur dah telinga gue, mendingan sekarang gue pergi aja dari sini sebelum mereka bertambah gila," ucap Sultan dalam hati, di mana dia pun lalu pergi meninggalkan para brandalan gila itu.
"Kenapa buru-buru sih, mendingan kalian temenin kita dulu di sini, iya ga brader."
"Iya, kenapa buru-buru sih, lagian kita berlima bukan orang jahat kok, kalian berdua engga usah takut," ucap salah satu brandalan gila itu sambil cengengesan.
Bukk ....
Ya, suara itu merupakan suara pukulan keras yang Sultan berikan kepada salah satu brandalan nekat, hingga mana pukulannya membuat hidung dari brandalan yang sempat akan memegang lengan Sultan itu pun berdarah.
__ADS_1
Satu brandalan gila itu akhirnya duduk terdiam sambil memegang hidungnya yang berdarah. Semua rekannya pun ikut terdiam, mereka semua hanya terkejut, mengapa bisa seorang wanita menumbangkan pemimpinnya hanya dalam satu pukulan saja.
"Ahhh ... sakit bodoh! dasar wanita engga tahu diuntung! ringkus mereka berdua, dan bawa mereka ke base camp kita, jangan biarkan mereka berdua lolos," ucap pimpinan dari para anggota brandalan gila itu yang menyuruh anak buahnya untuk menangkap Sultan dan juga Azmi.
Sebenarnya dia itu hanya menjadi ketua dari para anggota-anggota barunya saja, dan yang pastinya pemimpin asli mereka takan pernah berani berjalan hanya dengan lima anggotanya saja, apalagi sampai pemimpin mereka berjalan seorang diri, dan mungkin para warga beserta dengan rekan-rekan Sultan akan membawanya pergi jauh dari sekitaran base campnya untuk diberikan sedikit pelajaran yang dapat membuat jiwanya semakin merasa tertekan saja.
Sultan bergaya seperti seorang pria di hadapan mereka semua, walaupun pada dasarnya dia adalah seorang pria, namun hanya saja mereka mengira bahwa Sultan benar-benar seorang wanita.
Sultan melakukan jump-jump kecil seraya melemaskan tangannya yang terasa sangat kaku itu dikarenakan menyamar menjadi seorang wanita cukup membuat tubuhnya terasa tak seperti biasanya, di mana biasanya seluruh tubuhnya dapat bergerak dengan begitu lepasnya, tapi sekarang ruang geraknya cukup sedikit disebabkan dia dan juga Azmi memang harus sedikit menutupi gaya aslinya agar para brandalan itu mempercayai mereka bahwa mereka berdua benar-benar seorang wanita.
"Sudah cukup lama gue engga bertarung lagi, kalau kalian semua mau merasakan pukulan lembut gue silahkan, diharapkan kalian semua maju segera mungkin karena gue dan teman gue sudah harus segera pulang," ucap Sultan yang sekarang mulai menggerakan kepalanya hingga mengeluarkan bunyi, krakk, krakk, krakk.
"Maju Mel! kita habisin para cowok-cowok engga jelas ini, bila perlu kirim mereka ke ruang UGD," ucap Sultan memanggil nama Azmi dengan sebutan nama samarannya.
"Siap Siti, kita tunjukin kekuatan seorang cewe yang sebenarnya itu seperti apa kepada para cowok aneh ini," ucap Azmi yang sama-sama memanggil nama Sultan dengan nama samaran dia juga seraya tersenyum jahat di hadapan para brandalan gila itu.
Sultan membisiki telinga Azmi, dan Sultan berpikir ternyata temannya itu pun bisa mengubah suara aslinya menjadi suara dari seorang wanita, hanya saja suara Azmi agak sedikit dilebih-lebihkan hingga mana suaranya terdengar lebih nyaring.
"Aihh ... itu elu bisa Mi, menirukan suara cewe, tapi gue ingetin sekali lagi ya, gue harap elu jangan terlalu melebih-lebihkan suaranya, soalnya suara elu hampir melenceng kesuara asli elu Mi," bisik Sultan hanya terdengar ditelinga Azmi saja.
__ADS_1
Para brandalan gila sudah mulai terpancing, hingga pada akhirnya mereka semua mulai berkelahi. Dan sementara itu di balik pohon besar serta di balik jalanan gelap, rekan-rekannya melihat bahwa Sultan dan juga Azmi sedang berkelahi.
Malam ini mereka tak bisa berbuat apa-apa dikarenakan bila mereka menunjukan raut wajahnya itu kepada para musuhnya, yang ada para musuh akan mencurigai mereka semua.
Rekan-rekannya begitu asik merekam semua perkelahian mereka di sana, dan terlebih ini adalah momen yang tepat bagi mereka untuk mengabadikannya.
Mereka ingin melihat seberapa jauh kedua rekannya itu bisa mempertahankan sikapnya sebagaimana layaknya seperti seorang wanita.
Apakah kedua rekannya itu akan tetap menggunakan gaya berkelahi seperti biasanya, ataupun kedua rekannya itu benar-benar akan mengubah beberapa gaya berkelahinya menjadi terlihat agak sedikit lebih lembut.
"Haha, sini Bang, pukul lagi wajah saya, itu pun kalau kalian semua bisa dan mampu untuk melakukannya," ledek Sultan, di mana bukan hanya mulutnya saja yang dia gunakan sebagai salah satu cara agar dia bisa membuat para brandalan gila itu semakin geram saja kepadanya, namun akan tetapi sekarang jari-jemarinya pun dia acungkan sembari menggerakannya tipis-tipis ke arah belakang dan depan.
Ada salah satu musuh yang terlihat bahwa dia begitu geram sekali kepada Sultan, namun dengan lihainya dia menghindari pukulan dari salah satu brandalan itu, hingga mana berapa kali musuhnya itu mencoba, seorang Sultan takan pernah menginginkan dan takan pernah mau membiarkan wajahya sampai tersentuh oleh mereka.
"Kelamaan ah! sebenarnya elu tahu engga sih cara memukul wajah musuh yang baik dan benar, mendingan sekarang elu perhatiin baik-baik deh, jangan lupa rasain juga rasa sakitnya oke, pahamkan abang bego," ucap Sultan sambil memukul wajah musuhnya hingga terkapar lemas.
"Tuhkan Bang, gue bilang juga apa, elu sih kelamaan, gue bilang pukul wajah gue dengan baik dan benar, jadinya sekarang elu jugakan yang kena dampaknya. Yaudah ah, tidur yang nyenyak ya," ucap Sultan, di mana dia pun lalu pergi meninggalkan musuhnya yang sudah terkapar itu sendirian, dikarenakan dia juga masih harus membantu Azmi agar perkelahian ini cepat terselesaikan.
Berkelahi tanpa batuan dari rekan-rekannya memang terasa sangat melelahkan, apalagi kesehatan Sultan baru saja pulih, dan itu pun belum sepenuhnya pulih, ditambah lagi dengan perkelahian yang sekarang ini hanya dia jalani bersama dengan Azmi saja berdua, tentunya rasa melelahkannya memang akan terasa lebih berat yang sekarang ini.
__ADS_1