
Masih di tempat yang sama, namun berbeda waktu tentunya, yang di mana Sultan tak lagi bersama dengan kakak cantik dan manisnya itu, dikarenakan di sana dia sedang bersama dengan adik perempuannya, dan yang pastinya siapa lagi kalau bukan Stevia.
Seperti biasa, para wanita itu pasti akan selalu mengabadikan setiap detik momen waktu berharganya di tempat itu di sana, bukan karena mereka takan pernah menginjakan kakinya itu lagi di Kota kecil ini, melainkan itu adalah kebiasaan yang takan pernah hilang dalam benak kedua wanita tersebut itu.
Dan tentunya bunda hanya ingin mengikuti kesenangan kedua anaknya itu saja, dan kalaupun beliau menolaknya pun itu tak menjadi masalah, namun apa bisa bunda selain menuruti apa kemauan yang anaknya itu inginkan.
Sultan duduk terdiam sendiri sambil memainkan gitar yang dia pinjam dari Danar, perasaan rindunya terhadap kekasihnya itu tak kunjung hilang, bahkan kata memudar pun tidak ada sama sekali.
Menatap handphone pun untuk apa, dan menelepon Rere pun tak ada gunanya, dikarenakan sinyal di sana sama sekali tidak ada, dan jadi dia hanya bisa membelenggu bagaikan malam klabu.
"Meski rindu ini tak perlu untuk diucapkan, namun rindu ini ingin selalu memperhatikanmu, entah itu dalam kejauhan, entah itu dalam kedekatan, entah itu dalam doa, dan yang pastinya hampa sunyi sepi ini sudah terlanjur datang, dan sudah terlanjur singgah hingga mana rindu ini kian terus membayangi lamunan," ucap Sultan dalam hati sembari melamuni kediamannya itu, hingga mana ia pun melupakan gitar kawanya yang hampir hanyut terbawa arus air terjun.
"Aihh, gitar si Danar bolot kemana nih? perasaan gitarnya tadi gua pegang dah," ucap Sultan sembari menoleh ke arah gitar yang hampir hanyut itu.
"Mampus dah gue kalau gitar dia terbawa hanyut tadi, maafin gue Nar, kalaupun gitar lu hanyut terbawa arus air terjun, gue engga akan ngaku sumpah," ucap Sultan kembali dalam hati sembari tertawa dengan tipisnya sendiri.
Dimainkan lah alunan nada gitar itu oleh Sultan, yang di mana musik ala-ala traveling itu dia buat sendiri dengan di iringinya hati yang dulu sering menyendiri.
Suara itu sangat bergumam keras di tempat itu, dan lantas semua kawannya pun sempat menoleh ke arahnya, dan bahkan bundanya juga tak ingin kalah oleh semua anak asuhannya itu, yang di mana bundanya pun memperhatikan Sultan dengan tatapan tajam.
Rendahnya nada suara yang ia ke luarkan itu, sungguh sangat terdengar asik, walaupun suaranya tak semerdu penyanyi-penyanyi yang lain, dan rasa kepercayaannya tersebut itu, dengan seketika datang kembali menghampirinya.
__ADS_1
"Ciee, mantan kekasihmu dulu lagi nyanyi tuh, dan terlebih lirik ini seperti lirik yang pernah ada di dalam buku puisi Sultan dulu ya?" ucap kakaknya itu kepada Stevia adiknya.
"Bilang aja teteh juga suka sama dia? jangan munafik kayak gitu ah! engga baik, dan lagian ini bukannya jaket punya Sultan kan? kenapa bisa-bisanya teteh masih menggunakannya tanpa teteh kembalikan?" ucap Stevia sembari mencolek pipi kakaknya yang mulai nampak memerah kembali.
"Kalau teteh engga memakai jaket ini, nanti Sultan bakalan marah besar sama teteh Vi."
"Lagian teteh sendiri yang salah! padahalkan kita lagi camping di sini, dan kenapa teteh masih aja suka pakai pakaian terbuka seperti itu sih!".
"Teteh bisa aja merubah penampilan ini kembali ke yang dulu, tapi apakah kamu setuju Vi?".
"Lebih baik teteh jadi orang gila aja dah! daripada Via, harus melihat penampilan teteh yang tomboi itu seperti dulu lagi."
....
Bunda Nur, memiliki suara emas yang tentunya dia dulu adalah penyanyi rock juga bersama dengan suaminya, maka tak heran kedua anaknya itu pun memiliki suara merdu, dan bahkan ketika mereka berbicara pun suaranya terdengar begitu lembut dan manis.
"Suara bunda masih terdengar merdu, walaupun umur bunda sudah engga muda lagi," ucap Sultan sembari menatap manis budanya dengan senyumannya.
"Siapa yang kamu bilang tua? umur bunda masih lima tahun loh Tan," ucap bunda sembari tertawa lepas dengan dirinya.
"Ditambah sama nol limanya ya, Bun, tapi sayang ... kali ini ayah angkat Sultan engga hadir di sini, padahal Sultan kangen sama dia Bun."
__ADS_1
Suami bundanya itu adalah suami idaman semua para wanita, yang di mana beliau merupakan sosok pria perkerja keras, dan sekarang beliau tengah bekerja di sebuah perusahaan yang berada di luar negri.
Gunawan Siswanto, dia adalah suami dari bunda Nurhayati, yang di mana beliau memiliki paras wajah yang sangat menyeramkan, namun itu tidak dengan hatinya dan tingkah lakunya yang sangat lucu.
Wajah sangar dan badannya yang agak sedikit kekar itu, menambah nuansa keseraman beliau, dan namanya itu tak terdengar bahwa beliau seperti bukan orang sunda, namun itu salah, dan tentunya beliau adalah warga asli Bandung, dan sedangkan bunda Nurhayati, merupakan warga asli asal Aceh.
Bundanya pernah bilang kepada Sultan bahwa mereka berdua bertemu ketika mana mereka masih berstatus mahasiswa, dan tentunya mereka sama menimba ilmu di sebuah kampus yang berada di Bandung, namun tentunya itu berbeda jurusan.
Ketika Sultan bertemu dengan ayah dari Stevia itu, dia pun sempat merasa takut, tapi itu tidak lah lama, dikarenakan sikap dan prilaku Sultan itu mudah membuat semua orang merasa nyaman.
"Bunda ini ya! Mawar kan udah bilang, kalau bunda jangan deket-deket sama Sultan, dikarenakan Sultan udah jadi milik Mawar, dan terlebih Mawar pengen ngomong sesuatu hal sama Sultan," ucap Teh Mawar sembari memeluk tubuh bundanya itu bersama dengan Stevia.
"Males ah! mendingan Sultan nemenin bunda aja, soalnya kalu deket-deket sama teteh, dan yang pastinya teteh bakalan curhat masalah itu lagi dan itu lagi, kan jadinya gue bosen Teh," ucap Sultan, yang di mana ia pun memeluk tubuh bundanya dengan erat sembari menepikan tangan kedua wanita yang sedang memeluk tubuh bundanya.
"Ihh, cepet ikut ayo! jangan banyak tanya! pokonya kamu harus nemenin teteh, soalnya besok itu adalah hari terakhir kita di sini," ucap kakaknya itu sembari menarik paksa tangan Sultan.
Dan alhasil, Sultan pun hanya bisa mengalah dan ia pun lebih baik menuruti apa kemauan yang kakaknya itu inginkan terhadapnya, dan yang pastinya itu hanyalah omong kosong yang kakaknya itu berikan kepada bunda dan juga Sultan.
Ketika mana Danar, Robby, dan juga Agung akan pergi menghampiri keluarganya itu di sana, yang di mana mereka bertiga pun kembali dibuat heran dengan kedekatan mereka berdua.
"Mau kemana Tan? gue pinjem gitarnya," ucap Danar sembari menoleh ke arah Sultan yang tengah kesulitan menghadapi sikap manja kakaknya itu.
__ADS_1
"Engga boleh! kita mau nyanyi berdua di sana," ucap Teh Mawar sembari menepikan tangan Danar yang akan mengambil gitarnya itu.
Semakin ke sini, kakaknya itu semakin rese, dan bahkan Sultan pun menjadi sangat takut bilamana kakaknya itu akan memberikan virus cinta kepadanya, namun itu bukanlah sikap Sultan yang asli, dan bahkan kakaknya pun takan pernah mengharapkan semua itu terjadi, dikarenakan kakaknya itu lebih nyaman menganggap Sultan sebagai teman dikala susah dan senangnya saja.