Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 51 : Kebaikan hati


__ADS_3

Sebelum Sultan pergi kembali menyinggahi kediamannya itu di sana, ia pun lalu duduk terdiam dimotor tuanya tersebut sembari menatap kesetiap arah, yang di mana tempat itu menyimpan banyak sekali kenangan manis, ketika mana ia sedang bersama dengan Rere di jalan sana.


Sejuknya udara kedamaian itu, membuat Sultan terdiam dengan cukup lama, dan ia pun lantas tersenyum sembari menatap keindahan alam yang berada di tempat itu dengan sangat damai, tanpa sedikit pun ia bisa memalinginya, apalagi menjauhinya begitu saja.


Sultan pun lalu menghirup udara di sana dengan lepas, dan lalu ia pun mengeluarkannya dengan perlahan-lahan, supaya ia bisa merasakannya lebih dalam lagi, apa itu arti hidup yang sebenarnya.


"Huhh ... ," suara nafas yang ia hembuskan waktu itu.


Suara itu, adalah suara kata hati, yang di mana semua orang dapat membacanya dengan jeli, bahwa ia bersungguh-sungguh mencintai Rere karena suara hati itu dihembuskan dengan sangat lepas, tanpa adanya beban perasaan hati yang ia ungkapkan di jalan sana.


"Mengucap, takan pernah bisa berhenti untuk mengungkapkannya karena suatu keindahan alam ini, selalu tertuju padamu, dan selalu menemaniku disaat aku membukakan mata ini lebih lama lagi, hanya untuk membuatku terpanah, akan suatu hal, yang di mana hal itu adalah letak kebahagiaanku berada saat ini, ada pada dirimu," ucap Sultan terus terang dengan membisiki alam sekitar.


"Sehat terus kamu Re, di sana. Aku engga bisa melihatmu jatuh sakit dan menjadi lemah karena kelemahanmu itu, adalah titik kelemahanku juga di sini," ucap Sultan kembali.


Grungg, grungg, grungg ... suara motor tua kembali dinyalakan oleh Sultan di jalan sana.


Bumi Perkemahan akan selalu menjadikan tempat, yang di mana tempat itu akan selalu ia ingat dan akan selalu ia kenang karena di tempat sana, banyak sekali kisah, yang di mana kisah itu takan pernah bisa terhapus sesuai janjinya dulu yang ia pernah ucapkan kepada Rere, untuk selalu menemaninya bahagia bersama-sama di kota kecil ini.


Sultan pun kemudian menjalakan motor tuanya itu kembali dengan perlahan, ia pun masih melihat-lihat kesekeliling arah, yang di mana matanya itu, takan pernah bisa berkedip lebih lama lagi, dan bahkan satu detik itu pun masih cukup lama bagi dirinya karena masa ia untuk hidup, masa ia untuk bercerita dengannya, akan habis kelak waktunya nanti.


Tak lama setelah ia menjalankan motornya itu, lantas Sultan melihat seorang wanita yang berjalan sendiri di tempat sepi sana, ia pun berinisiatip untuk menghampirinya dan menanyainya, kenapa dia ada di sana sendirian.


"Teh, sedang apa di tempat sepi ini?" ucap Sultan waktu itu.


Tatapan wanita itu sungguh sangat menyeramkan, dan terlebih di atasnya itu ada beberapa makam, yang di mana makam itu memang sudah lama tak ada yang mengurusnya.


Sultan masih menunggu jawaban wanita itu di sana, Sultan pun tak banyak memperhatikannya, namun hanya melihat sekian menit saja karena ia harus menjaga pandangannya itu terhadap Rere.

__ADS_1


"Ada apa Teh? saya engga akan berbuat apa-apa kok, tenang aja ya, engga usah takut, saya di sini cuma mau membantu dan mengingatkan teteh, supaya teteh engga jalan sendirian di sini karena di tempat ini masih banyak begal, yang bisa melukai teteh nantinya," ucap Sultan kembali.


"Engga ada apa-apa kok, Kak," ucap wanita cantik itu.


....


Tak lama setelah Sultan memberikan satu patah dua patah kata kepada wanita cantik itu, dan lantas dia pun mulai menangis perlahan demi perlahan di hadapan Sultan. Ia pun merasa tak tega bilamana meninggalkannya di sana seorang diri, dan terlebih tempat itu memang sarangnya para penjahat, setiap tragedi sejarahnya memang ada di tempat itu.


Sultan pun lantas memberikan tumpangan kepada wanita malang tersebut, dan lalu wanita itu pun menerima ajakan dari Sultan di jalan sana, dan terlebih ia merasa sangat bingung! kepada siapa lagi dia harus meminta pertolongan, dan sementara itu handphonenya mati, gara-gara batrainya habis.


"Teteh mau pulang ke mana? dan udah itu teteh sedang apa di sini sendirian? wanita cantik seperti teteh engga boleh jalan-jalan disekeliling sini, itu bahaya!" ucap Sultan sembari menatap wanita itu.


"Saya ... saya baru ditinggalin sama pacar saya Kak, dan udah itu dia ninggalin saya di sini sendirian," ucap wanita malang itu sembari terisak-isak menahan tangisannya tersebut.


"Kenapa? kok, mantannya bisa setega itu sama teteh?".


"Terus dia kemana sekarang? dan apakah teteh bisa nolongin saya? untuk bantu mencari mantan teteh itu."


"Bisa Kak."


Selepas itu, Sultan pun lalu menghampiri mantan dari wanita tersebut untuk memberikan beberapa pelajaran kepada dia bahwa seorang pria, tak boleh merusak ataupun menyakiti kehormatan seorang wanita dengan sekejam itu.


Mereka berdua pun akhirnya menemukan tempat, yang di mana tempat itu sering pria itu diami bersama dengan para teman-temannya di sana. Lantas ketika Sultan menemukan pria itu, dengan seketika Sultan menendang keras perut pria tersebut, teman-temannya itu pun nampak heran! dan terlebih mereka semua merasa takut akan tendangan Sultan yang keras itu, bisa merusak anggota tubuh bagian dalam dari mereka semua hancur berkeping-keping.


"Parah lu! cewe secantik dia elu tinggalin sendirian begitu aja di jalan sepi sana! kemana hati nurani elu!" ucap Sultan yang nampak begitu kesal dengannya.


"Apa lu! mau cari ... ," ucap pria itu, yang seketika Sultan pukul ketika mana dia mau membuka mulutnya tersebut.

__ADS_1


"Wanita yang elu sakitin itu adalah saudara gue! elu mau nyari masalah sama keluarga gue! elu mau mati apa!".


Sultan pun lantas pergi meninggalkan pria itu sendirian, dan teman-temannya itu pun juga meninggalkannya di sana setelah mana mereka mendengar kata-kata yang Sultan ucapkan tadi, sungguh sangat memalukan, dan juga sungguh sangat membuat mereka semua merasa kecewa.


"Pacarnya pasti bangga sama kakak," ucap wanita itu.


"Semoga perkataan yang teteh ucapkan tadi kepada saya itu emang benar ya," ucap Sultan sembari tertawa tipis-tipis kepadanya.


"Ohh, iya nama teteh siapa?" ucap Sultan kembali.


"Panggil aja saya Silvia Kak."


"Nama saya Sultan, panggil aja Tan, biar lebih singkat."


Wanita itu pun mulai bisa tersenyum ketika mana Sultan menghiburnya di jalan sana. Sultan pun merasa sangat senang ketika mana ia melihat orang lain pun juga ikut senang, dan apalagi kesenangan mereka itu dilakukan atas dasar kebaikan dari Sultan.


"Saya kira tadi Silvia itu adalah hantu! soalnya teteh tepat berjalan di atas makam sana."


"Engga ada hantu seperti saya Kak, dan lagian kalau ada yang seperti saya pun, orang lain yang melihatnya pasti akan membawa saya pulang," ucap Silvia sembari tertawa dengan lepas kepada Sultan.


"Pacarnya bakalan marah engga sama Sultan ini? kalau pun dia marah! nanti Sultan bisa bilang sama Silvia ya, biar Silvia yang jelasin semuanya kepada pacarnya."


"Kalau pun dia marah! dia engga akan pernah lama-lama kok, marahnya, palingan satu tahun kemudian baru dia bisa memaafkan pacarnya yang lucu ini."


"Ahh, lama bener! hehe. Tapi jujur ya, kak, saya iri sama hubungan kalian ini, tapi bukan iri karena cemburu ya, melainkan iri karena dulu saya pernah mendekati orang yang salah seperti dia."


Mereka berdua lalu tersenyum dan tertawa bersama-sama di jalan sana dengan lepas, namun rasa itu takan pernah membuat Sultan merasa akan mencintai wanita itu juga karena wanitanya yang sekarang itu, lebih berarti bila dibandingkan dengan wanita lain selain dia di sana.

__ADS_1


__ADS_2