
Kringg, kringg, kringg ....
Apa yang Sultan lihat dan apa yang Sultan dengar sekarang ini hanyalah suara alarm dari seluruh handphone milik teman-temannya semua.
Bila Sultan telat sedikit saja membersihkan dirinya dari debu jalanan, mungkin dia takan pernah mendapatkan giliran untuk mandi lebih awal.
Untung saja pada saat Sultan akan pergi ke mesjid, dia sempat mandi terlebih dahulu, jadi sekarang dia tak harus berebutan kamar mandi dengan mereka di dalam sana.
"Hadeuh ... ini para pemuda jompo masih tidur aja! emangnya suara alarm segitu banyaknya masih belum cukup untuk membangunkan kalian semua apa! sebenarnya gue itu bosen bila harus matiin alarm dari handphone kalian ini, apalagi handphone kalian pada susah diatur, udah dimatiin tapi tetap aja masih menyala," ucap Sultan seorang diri sambil mematikan satu-persatu alarm yang berbunyi disetiap handphone milik teman-temannya itu.
Tak lama setelah Sultan mematikan semua alarm-alarm yang berbunyi itu di dalam sana, tiba-tiba alarm di handphone milik Sultan pun malah ikutan berbunyi juga.
Kringg, kringg, kringg ....
Suara alarm di handphonenya membuat Sultan terkejut, padahal dia baru saja ingin pergi ke dapur untuk membuat susu jahe hangat, tapi suara tersebut malah membuat dirinya pergi kembali ke ruang tengah.
"Ampun dah, bikin gue kaget aja gila! itu suara alarm siapa lagi, perasaan semua alarm udah pada gue matiin juga, bahkan sampai handphone-handphonenya gue matiin, sebenarnya elu punya masalah apa sama gue sih hah? padahal gue baru aja mau bikin susu hangat, ganggu aja!".
Sultan pun menghampiri asal dari suara itu berbunyi, dikarenakan lampu ruangan tengah masih belum dinyalakan, tanpa sengaja Sultan menginjak kaki Azmi, tapi untung saja Azmu tak terbangun dari tidurnya.
Pada saat Sultan menemukan sumber suara itu, tanpa dia sadari ternyata suara alarm tersebut berasal dari handphone miliknya sendiri.
"Yaelah ... kenapa elu malah ikut-ikutan berbunyi juga sih bolot! perasaan alarm elu itu udah gue matiin dari awal dah, kalau bukan karena elu handphone milik gue satu-satunya, mungkin dari kemarin udah gue buang lu."
__ADS_1
Sultan mengoceh seorang diri sambil menepuk layar handphonenya karena dia merasa kesal atas semua yang telah dia alami sejauh ini.
Setelah itu Sultan pun lalu pergi kembali ke ruangan dapur untuk menghangatkan air yang semalam sempat dia panaskan juga, namun lagi-lagi handphone Sultan malah berbunyi, tapi bila Sultan memastikan sumber bunyi itu, sepertinya bukan berasal dari suara alarmnya, melainkan bunyinya yang sekarang berasal dari suara panggilan telepon di handphonenya.
"Ahh ... iya, iya, bawel! gue bawa lu sekarang! pokoknya elu diam dan jangan berbunyi lagi, awas aja kalau lu masih saja membuat gue kesal, gue jual juga lu!" teriak Sultan begitu lantang terdengar ditelinganya sendiri.
pada saat Sultan melihat nomer si penelepon itu, dan ternyata nomer tersebut tak terdaftar di dalam kontak teleponnya, Sultan mengira bahwa si penelepon itu hanya salah menghubungi seseorang saja.
"Ini nomer siapa lagi, perasaan gue belum pernah nerima panggilan telepon dari nomer tak dikenal ini," ucap Sultan sambil memperhatikan lebih detail lagi apakah nomor itu pernah menghubunginya dulu.
"Oyy, siapa ini?" tanya Sultan singkat.
"Lah ... bukannya akang yang ngajakin saya COD ya? saya udah sampai di tempat tujuan ini, akang sekarang udah sampai mana?" tanya si penelepon yang diduga penipu.
....
"Dasar orang gila! percuma gue nipu elu juga, sepertinya isi dompet elu sekarang lagi kosong ya."
"Nipu bilang-bilang lu, bodoh emang! yang terpenting uang yang gue beli untuk membeli makan itu adalah uang halal, bukan hasil dari nipu seperti elu sekarang."
Tuttt ....
Panggilan telepon suara dimatikan oleh si penipu itu, namun rasa kesal yang melanda dihati Sultan sekarang masih saja tak mau menghilang.
__ADS_1
"Aneh-aneh aja dah hari ini sumpah, dari suara alarm hingga sampai suara telepon dari penipu terus-terusan bergumam ditelinga gue," ucap Sultan sambil memasukan handphonenya ke dalam saku celana bahan hitamnya.
Sudah sekian lamanya gangguan datang, hingga pada akhirnya Sultan bisa membuat susu jahe yang dia inginkan juga dengan tenang.
Entah gangguan apa lagi yang akan datang, sekarang dia hanya bisa menunggu gangguan tersebut selagi Sultan bersantai-santai di depan teras kontrakan.
Anehnya pada saat Sultan sudah berada di luar ruangan, suara yang tak ingin dia dengarkan dengan seketika hilang begitu saja.
Sang angin tak bergemuruh lagi pagi itu, apa mungkin dia bergemuruh hanya ingin menertawakan Sultan saja, ataupun karena suruhan Sultan tadi agar dia tak terlalu bergemuruh sekencang seperti dia meledek Sultan.
"Gue engga tahu kenapa elu tiba-tiba berhenti bergemuruh, atau jangan-jangan elu bergemuruh hanya ingin meledek gue saja ya?" tanya Sultan kepada sang angin.
Sang angin tak membalas ucapan Sultan, ternyata memang benar bahwa gemuruhnya itu bukan karena dia sedang tertawa lepas melihat nasib Sultan yang kacau, namun akan tetapi dia bergemuruh hanya ingin menuruti kemauan dari seorang Sultan, di mana Sultan menyuruhnya untuk bergemuruh agar semua rasa lelahnya terbendung.
"Oke, gue tahu sekarang, pasti elu diam karena sebab gue yang menyuruh elu untuk memberikan gemuruh angin sesuai dengan apa yang gue harapkan ajakan?" tanya Sultan kali ini dijawab oleh sang angin, di mana angin mulai menjawab dengan gemuruhnya itu.
Sultan mengangguk dan tersenyum tipis, entah ini adalah suatu kebetulan saja ataupun sang angin benar-benar tahu dan benar-benar memahami ucapan dari Sultan.
Sultan terdiam dengan waktu yang cukup lama, sampai dia lupa bahwa dia harus membangunkan semuabteman-temannya yang masih tertidur di dalam sana. Lantas Sultan pun masuk ke dalam ruangan dan lalu membangunkan satu temannya yang bernama Azmi, dikarenakan dia merasa bersalah karena telah menginjak kaki Azmi.
"Mi, bangun Mi, mendingan elu mandi dulu sana sebelum elu berebutan kamar mandi dengan teman-teman elu, jangan lupa entar bangunin si Dimas karena dia salah satu teman yang mandinya paling lama."
Sultan membangunkan Azmi dengan cara menampar-nampar pelan pipinya, dan tak lama kemudian Azmi pun tersadar ternyata Sultan masih saja sering jahil kepada Dimas.
__ADS_1
"Haha, gila lu Tan! kenapa engga sekalian aja hitamin semua wajah dia, lagian apa yang elu lakuin ini masih belum cukup Tan, mana spidolnya? gue pinjam dulu."
Sultan memberikan spidol tersebut kepada Azmi, dan ternyata Azmi ingin menulis beberapa kata dikening Dimas agar Dimas sadar bahwa hukuman masih berlaku di sini.