
Masih di area sekitaran terminal Bogor. Seperti biasa Dimas pasti akan pergi lebih dulu ke luar dari dalam warung makan Padang itu.
Sultan masih menikmati segelas air teh hangat sembari menghembuskan asap rokoknya ke atas langit malam. Dimas menghampiri Sultan dan menanyakan alasan Sultan tidak makan bersama di dalam sana.
"Lu udah makan Tan? kenapa elu engga makan bareng sama kita di dalam sana," tanya Dimas sembari duduk di kursi yang telah disediakan oleh penjual mie ayam itu di sana.
"Gue lagi pengen makan mie ayam Dim, entah kenapa rasanya gue rindu menyantap makan pinggir jalan seperti ini," ucap Sultan membayangi raut wajah Rere, dan alasannya adalah itu, yang di mana Sultan memang tengah membayangkan kenangannya pada saat dirinya tak sengaja melihat penjual mie ayam di pinggir jalan, lantas ia pun menyantap makanan sederhana itu bersama dengan Rere dulu.
Nostalagia ....
Waktu itu hujan sedang melanda Kota Sukabumi, dan kebetulan hari itu Sultan baru saja akan mengantarkan Rere pulang ke rumahnya, kalau tidak salah saat itu mereka berdua baru saja pulang dari sekolahnya.
"Re, kayaknya makan mie ayam enak juga ya, sekalian nunggu hujan ini meredah dulu, elu mau kan Re?" tanya Sultan kala itu yang tengah mengendarai motor tuanya.
"Boleh juga tuh Tan, tapi gimana kalau hujannya semakin deras! mendingan kita makan di rumah aja lah Tan, sekalian juga elu nunggu hujannya di rumah gue aja di sana," ucap Rere kala itu sembari memeluk tubuh Sultan dengan eratnya.
"Engga asik kalau makan berdua di rumah kamu Re, apalagi di sana ada mamah kamu, rasanya gue engga enak aja sama dia."
"Yaudah Tan, terserah kamu aja."
Kebetulan di pinggir jalan yang tidak jauh dari sekitaran sekolahannya, tanpa tidak sengaja Sultan melihat penjual mie ayam itu. Lantas ia pun memberhentikan lajuan motornya dan memesan dua makanan sederhana itu di sana.
Senyuman itu melekat hingga sampai saat ini, dan bahkan Sultan masih mengingat hal itu, maka tak heran kenapa tiba-tiba dia lebih memilih untuk menyantap makanan di pinggir jalan saja.
Kembali lagi kepada Sultan dengan Dimas, yang di mana mereka masih berbincang hangat sembari tertawa bersama berdua di sana.
Tak lama kemudian, semua temannya ke luar dari dalam warung makan nasi Padang itu, hingga mana mereka memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun lalu menaiki angkutan umum yang sering disebut-sebut dengan istilah Jet Darat.
__ADS_1
Apalagi kalau bukan mobil Bogoran. Mereka duduk di kursi paling belakang, namun Sultan duduk di kursi tengah bersama dengan Dimas, dan juga bersama dengan Azmi, serta Alamsyah.
"Bismilah, semoga kita bisa pulang dengan selamat," ucap Alamsyah.
"Udah kenyang makannya elu Lam? katanya elu nambah sampai dua kali ya?" ucap Sultan kepada Alamsyah, yang di mana dia terlihat begitu kenyang sekali.
"Siapa yang bilang kayak gitu sama elu Tan?" ucap Alamsyah agak sedikit terkejut.
"Tuh, si Dimas Lam," ucap Sultan mengernyitkan dahinya sembari menoleh ke arah Dimas.
"Bohong Tan, malahan dia yang nambah makannya sampai tiga kali."
"Perasaan gue kagak bilang kayak begitu dah," ucap Dimas membela dirinya sendiri.
Nasib Dimas memang selalu sial, setiap hari dia selalu dijadikan bahan perbincangan yang buruk oleh Sultan, bukan hanya Sultan, melainkan semua temannya pun sama menyebalkannya dengan Sultan.
....
Ia hanya bisa menunggu Rere sembari menuliskan kisahnya dibuku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana pun tempatnya.
Daripada Sultan tertidur melihat kata-katanya sendiri, lebih baik dia mengajak sopir mobil Bogoran itu berbincang bersama dengannya.
"Mang, kursi di depan kosong kayaknya, boleh saya duduk di sana?" tanya Sultan.
"Boleh, boleh silahkan aja Kang," ucap sopir itu memperbolehkan Sultan duduk di sampingnya.
Sultan beralih duduk di kursi depan, ia mulai mengajak sopir itu berbincang bersama dengannya, untung saja dia tipe pria yang sangat asik, jadi semua orang bisa merasa nyaman ketika mana orang itu berbincang bersama dengannya.
Sultan mulai mengungkit sejarah kenapa beliau bisa menjadi sopir angkutan Bogoran. Bukan hanya itu saja, dia pun menanyakan beliau asli orang mana.
__ADS_1
"Amang udah berapa Tahun menjadi sopir Bogoran?" tanya Sultan sederhana saja.
"Engga lama, tapi sudah cukup berpengalaman, kurang lebih ada 6 Tahunan Kang," ucap sopir itu sembari menatap raut wajah Sultan sesaat saja.
"Lumayan lama ya, Mang, ngomong-ngomong kenapa amang lebih memilih pekerjaan ini?".
"Amang cuma mau meneruskan pekerjaan ayah amang dulu Kang, dan ini adalah mobil milik almarhum ayah saya, beliau juga melatih saya mengendarai mobil ini sejak saya masih sekolah SD."
"Berarti sejak sekolah SD amang udah bisa bawa mobil ya? hebat juga amang."
"Belum ... kurang lebih waktu itu amang masih belum mendapat izin dari ayah amang untuk membawa mobil ini Kang, soalnya kaki amang belum sampai menginjak pedal gas ini."
"Jadi, amang harus menunggu berapa Tahun lagi untuk bisa membawa mobil ini?".
"Ayah amang dulu memperbolehkan saya mengendarai mobil ini setelah amang berumur 17 Tahun."
Percakapan yang cukup panjang, hingga pada akhirnya Sultan merasa puas karena bisa mendengarkan pengalaman yang begitu berarti darinya.
Kesabaran beliau diuji dengan sangat lama, akhirnya dia tahu sekarang, bahwa beliau adalah asli orang sunda dan berkelahiran sama dengan Sultan, yaitu di Kota Sukabumi.
Pedal rem diinjak oleh sopir, dikarenakan beliau melihat ada seorang perempuan yang entah itu manusia ataupun bukan, tapi anehnya dia berdiri seorang diri di pinggir jalan.
"Teteh mau ke mana?" tanya Sultan membantu sopir Bogoran menanyakan tujuan wanita itu akan pergi ke mana tengah malam begini.
Berhubung posisi wanita itu ada di sebelah kiri mobil Bogoran, dan sementara Sultan tengah duduk tepat di samping wanita itu, jadi maka dari itu kenapa amang sopir menyuruh Sultan untuk membantunya, kurang lebih karena posisi amang sopir pada saat itu ada di sebelah kanan dan cukup jauh dari jangkauan wanita tersebut.
"Saya mau ke Sukabumi Kang, ini saya lagi nunggu mobil Bogoran," ucap wanita itu penuh kekesalan.
Sultan menyuruh dia untuk segera menaiki mobil Bogoran yang sekarang tengah dirinya tumpangi. Wanita itu memilih untik duduk di sebelah Sultan, dikarenakan dia takut kalau duduk di tengah kursi, apalagi di belakang sana banyak teman Sultan.
__ADS_1
"Perasaan di depan tadi ada mobil Bogoran yang berhenti ya, Teh, tapi kenapa teteh engga naik mobil itu?" tanya Sultan penasaran, dikarenakan pada saat Sultan bertanya kepadanya, nada suara wanita itu terdengar agak sedikit nyaring.