
Setelah Sultan memastikan kalau Rere sudah tertidur di sana, sekarang dia malah beranjak pergi ke luar dari dalam ruangan kontrakan.
Rasanya malam itu ia sulit sekali untuk tertidur pulas, padahal matanya sudah memberikan sinyal agar ia cepat beristirahat di dalam sana.
Sultan kembali duduk di depan teras kontrakan sambil membawa peralatan kerjanya yang berupakan buku catatan hariannya.
Sultan mencoba membuat dirinya agar bisa tertidur di luar sana, tapi cara tersebut masih tidak mempan juga untuknya.
Lantas Sultan pun lalu menutup pintu kontrakan, dikarenakan sekarang dia akan pergi ke luar menggunakan motor tuanya.
"Ayolah, bantu gue untuk tertidur lelap, sesungguhnya gue itu ngantuk, tapi kenapa elu malah nyuruh gue keluyuran malam-malam sih heart! ada-ada aja dah elu mah ah!" ucap Sultan berbicara kepada hatinya sendiri.
"Belum waktunya untuk tidur bego! Rere juga di sana masih setengah sadar, dia belum seutuhnya masuk ke alam mimpinya, masa iya sih elu engga mau menjaga dia sampai dia benar-benar memimpikan elu Tan," ucap hati kecil Sultan membayang-bayangi alam pikirannya malam itu.
"Astagfirullah, kenapa tiba-tiba perasaan gue jadi engga enak kayak begini ya, sepertinya barusan ada yang ngomong sama gue dah, tapi siapa! lagian di sini engga ada orang lain selain gue sendiri, masa iya sih itu hantu! gue engga percaya ah!" ucap Sultan merasa heran, lantas ia pun melihat ke sekeliling arah hanya untuk memastikan apakah suara tersebut memang berasal dari sosok yang dia sebut-sebut sebagai hantu kenalan Rere itu.
Sultan merasa kalau dia barusan hanya berkhayal saja, dan mungkin itu juga adalah efek dari Sultan kurang dalam menjaga pola tidurnya, sehingga dia dapat mendengar bisikan alam dengan sangat jelas.
Ia mulai menyalakan motor tuanya sambil membawa tas slempang, yang di mana di dalamnya itu ada dua buku catatan harian miliknya juga, dan siapa tahu ia dapat menemukan inspirasinya di luar ruangan kontrakan.
Sultan berhenti di persimpangan jalan yang letaknya tak cukup jauh dari kontrakannya itu berada. Ia pun lalu duduk di sebuah kursi kosong seorang diri tanpa ada yang menemaninya di sana.
__ADS_1
Sultan merasa sepi, dan terlebih orang-orang yang berkunjung ke tempat itu kebanyakan membawa pasangannya masing-masing, tapi ada juga yang membaur bersama dengan teman-temannya sendiri, itu pun tak terlalu banyak, dan hanya ada beberapa saja.
Sultan membakar satu batang rokok serta menghembuskan asapnya dengan perlahan-lahan ke arah langit malam.
Ia memang sengaja duduk di sana, dikarenakan semua teman-temannya pasti akan pulang melalui jalanan tersebut itu, dan semoga saja mereka juga dapat melihat Sultan, lantaran ia pasti takan sanggup memastikan teman-temannya sendiri karena penglihatannya yang buruk itu tak dapat ia gunakan dengan maksimal.
"Punya hati emang engga jelas! udah tahu gue itu lagi males pergi ke luar dari dalam kontrakan, tapi kenapa sih elu malah membawa gue ke tempat yang seperti ini, lagian udah pada malem juga kenapa masih banyak orang yang pacaran ya! emangnya mereka semua engga takut pada masuk angin apa," ucap Sultan seorang diri, di mana dirinya memang ingin beranjak pergi dari sana, namun hatinya masih tetap kukuh menyuruh Sultan untuk duduk di sana.
....
Entah apa ini adalah suatu kebetulan, ataupun ini memang pertemuan yang sudah direncanakan oleh hati Sultan sendiri, tanpa Sultan sadari malam itu dia baru saja dikejutkan oleh seorang Aisyah, dan di sana Aisyah juga membawa ketiga teman wanitanya untuk pergi menemaninya bermain.
"Ciee, ciee sendirian melulu nih, besok kerja woii, bukannya tidur malah keluyuran tengah malam gini, pasti kamu lagi galau ya, abisnya mukamu kusut Tan," ucap Aisyah sembari mengejutkan Sultan, tak lama setelah itu dia pun duduk bersebelahan dengan Sultan.
Sultan sempat terkejut karena Aisyah menepuk kedua bahunya, sampai-sampai ia melemparkan rokoknya yang tinggal setengah itu.
Sultan kembali memungut rokok tersebut dan lalu ia pun mematikan serta memasukan rokoknya itu ke dalam bungkus rokok kosong yang sering dia bawa.
"Aihh ... aku kira siapa, ternyata cuma Aisyah, engga kok, aku engga lagi galau Syah, entah kenapa malam ini rasanya sulit banget buat tertidur di dalam kontrakan," ucap Sultan sembil memasukan rokok sisanya ke dalam bungkus rokok kosongnya itu.
"Maaf ya, gara-gara aku rokokmu jadi kotor," ucap Aisyah membuat Sultan tertawa, lagipula dia memang sengaja mematikan rokoknya, dikarenakan Sultan tidak mau melihat mereka menghisap langsung rokoknya itu.
__ADS_1
"Apaan sih Syah, mau rokok aku kotor, mau rokok aku bersih, itu takan pernah merubah rokok aku ini menjadi makanan yang sudah tak layak untuk dimakan, lagpula aku cuma engga mau melihat kalian semua sampai menghisap asapnya yang sungguh berbahahaya ini."
Alasan Sultan memang masuk diakal, tapi bilamana Sultan merokok di hadapan mereka pun, meraka takan pernah melarangnya.
"Aduh, duh, duh luluh hati gue ini dah Syah, sumpah ya, ini si akang emang paling bisa membuat kita jadi laper," ucap salah satu teman Aisyah.
"Baper bego! maaf ya, Tan, dia emang gitu orangnya, kalau udah baper sama seseorang kebegoaannya suka kumat dengan sendirinya," ucap Aisyah membuat Sultan tersenyum.
Sultan merasa tak asing ketika dia melihat sikap Aisyah itu, dan sikap tersebut itu terasa sangat akrab sekali dengan dirinya di sana.
Wajah polos Aisyah memang tak dapat ditebak bilamana seseorang yang ingin memilikinya belum mengetahui sepenuhnya sikap Aisyah itu seperti apa.
Semua orang baru pasti akan keliru bahwa ternyata dia tak sepolos yang mereka kira sebelumnya, bahkan Sultan pun dibuat terkejut begitu saja olehnya.
"Astaghfirullah, berdosa banget dah kamu Syah sama teman kamu sendiri, aku baru tahu kalau seorang Aisyah memiliki sikap sekasar ini juga, aku kira kamu itu wanita polos yang engga mengerti apa-apa, ternyata aku salah, maafin aku ya," ucap Sultan, yang di mana dia sungguh terkejut ketika mana dia melihat sikap asli seorang Aisyah seperti apa di sana.
"Santai aja kali Tan, sebenarnya aku itu sama seperti kamu, tapi aku merasa engga enak aja kalau harus menunjukan sikap asliku ini padamu Tan," ucap Aisyah sambil menatap raut wajah Sultan dengan memberikan senyuman manisnya itu kepadanya.
"Aisyah juga jago berkelahi loh, dia adalah satu-satunya cewe yang mengikuti bela diri karate di kelas kita Tan," ucap salah satu teman Aisyah membuat Sultan lebih tercengang lagi.
Sultan berdiri, ia menyimpan tas slempangnya di atas kursi yang ia duduki sebelumnya. Sultan memasang kuda-kuda seperti layaknya seseorang yang sudah siap berkelahi.
__ADS_1