Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 362 : Seperti apa kebahagiaan di hari lalu


__ADS_3

Gemuruh suara air sungai yang mengalir itu, cukup membuat kedua hati itu merasakan suasana damai yang tak terkendali, yang membuat senyuman itu terus hadir, dan bangkit kembali, serta rangkulan itu pun tak dapat mereka enyahkan, ataupun mereka lupakan kembali.


Kesedihan hati? apa itu rasa kesedihan hati? kata itu sangat jauh, dan bahkan takan pernah mereka rasakan selain kesedihan rasa rindu lah yang selalu hadir menemani mereka berdua di kota kecil ini.


Namun, tentunya hari itu masih belum usai, yang di mana mereka berdua masih duduk terdiam di sebuah batu sungai, dan batu itu mungkin akan menjadi suatu benda mati yang akan selalu Sultan ingat, dan bahkan batu sungai itu akan selalu ia duduki, bilamana kesendiriannya itu datang kembali menemaninya.


Dan di sana, Rere terus-menerus membuka perbincangan itu menjadi semakin kharu saja, dikarenakan Rere memang tak ingin melihat Sultan pergi meninggalkannya di sana, dan tentunya seorang Sultan akan selalu menepati doanya itu, dan kenapa Sultan tak ingin menepati janjinya itu? karena doa, lebih dari sekedar janji.


"Aku engga mau pulang Tan, kayaknya aku lebih memilih tempat ini, dikarenakan semua yang aku inginkan ada di sini," ucap Rere yang masih menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan dengan manis.


"Bila memang itu yang kamu inginkan, aku engga akan melarangnya Re, dan terlebih kebahagiaanmu adalah puncak mimpi indahku saat ini," ucap Sultan yang masih menyandarkan kepalanya itu di atas kepala Rere.


"Aku mau nanya satu hal sama kamu Tan? tapi kamu harus jawab jujur ya? jangan ada yang kamu tutup-tutupin dari aku di sini," ucap Rere yang langsung menatap Sultan.


"Silahkan Re, aku akan jawab semuanya."


"Apakah kamu merasa risih ketika aku selalu menamparmu tanpa sebab Tan? dan aku ingin tahu, apakah cintamu itu selalu berkurang karena sikap keras kepalaku ini Tan?".


Sultan tersenyum, dan ia kembali menatap tajam Rere, dan ia di sana telah siap menjawab semua pertanyaan yang Rere berikan itu kepadanya di sana.


Sebelum itu, Sultan mengelus-elus terlebih dahulu hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan manis, dan lalu ia pun mencolek hidung Rere di sana, dan lantas Rere pun ikut tersenyum karena dia sudah mengerti, bahwa jawaban yang akan Sultan berikan itu tentunya akan membuat Rere tersipu malu.


"Aku berucap doa, aku lapangkan dada ini untuk memenuhi syaratku kepadamu, yang di mana syarat itu adalah menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku tak perlu harta karena harta bisa dicari, aku tak perlu tahta karena aku tidak membutuhkan itu, dan aku tak menginginkan banyak wanita karena hanya kamu, aku bisa bahagia seperti ini."


Itu adalah kata-kata, yang di mana kata itu telah membuat hati Rere terpanah, yang telah membuat hati Rere merasa kharu, dan yang telah membuat hati terbelenggu, terdiam, terhentak tidak bisa melawan ketidak pastian rasa ini harus dibuang, atau harus dia rasakan, dan bilamana dia rasakan, berarti konsekuensi yang akan dia hadapi itu adalah kembali merindu.

__ADS_1


Sultan kembali merangkul bahunya, dan ia pun di sana mencium hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan sangat manis sembari berfikir, bagaimana caranya ia bisa melepaskan kecupannya itu, dan terlebih suasan itu memang sedang mendukungnya di sana.


....


"Sekarang kamu sudah melihatnya sendiri kan Re? bahwa cinta ini selalu tulus menemanimu, dan ini semua bukan soal siapa, dan seberapa besar cinta yang aku berikan kepadamu itu sudah sampai mana? melainkan semua ini bertentangan kepada doa Re, yang di mana kita harus bisa meningkatkannya lebih kuat lagi," ucap Sultan yang kembali merangkul bahu Rere sembari ia pandangi bukit hijau di depannya itu.


"Makasih Tan, aku harap setelah kita ke luar sekolah nanti, kita masih akan tetap bersama seperti ini ya, Tan, dan aku ingin sekali memelukmu, walaupun itu akan terdengar sangat geli ditelingamu, tapi aku merasa bahwa rangkulanmu ini sungguh tulus kamu berikan, tanpa kamu memikirkan hal lain yang dapat membuat aku menjadi semakin terjerumus," ucap Rere yang kembali memeluk tubuh Sultan sembari menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan.


"Kamu ini aneh Re! bagaimana mungkin aku bisa memanfaatkanmu di sini, dan terlebih tugasku hanya merubah sifat engga jelasmu ini Re, bukan melainkan aku malah merusaknya kembali."


"Mungkin elu bukan cinta pertama gue Tan, namun rasa sayang gue terhadap elu ini, lebih melebihi cinta-cinta yang pernah hadir menemani gue di sini."


"Bilang makasih aja engga cukup bagi gue Re, dan mungkin gue akan meminta lebih sedikit dari elu, dan tentunya pasti boleh kan Re?".


Ucapan polos Rere itu sungguh membuat Sultan tertawa, dan tentunya Sultan itu adalah pria rese, pria yang sangat menyebalkan, dan hanya sekian wanita yang bisa menghadapi sikap resenya itu di sana, dan tentu saja itu adalah Rere Nuraeni.


"Emm, apa ya, Re? gue lupa lagi, yaudah deh Re, gue engga jadi ngomongnya."


"Ihh, rese amat sih kamu Tan! sana turun!" ucap Rere sembari mendorong tubuh Sultan hingga dia terjatuh ke dalam air sungai.


Byurr ... suara tubuh Sultan yang terjatuh ke dalam air sungai, yang di mana itu juga Rere pun ikut terkejut! dan dia kira bahwa Sultan akan bisa menjaga keseimbangan tubuhnya itu di sana.


"Ahh, dingin Re! sini ikutan ke bawah sama gue, awas aja ya, elu Re! gue tarik kaki elu nanti," ucap Sultan sembari menciprat-cipratkan air sungai itu kepada Rere.


"Maafin Tan, aku engga sengaja."

__ADS_1


Rere tertawa, dan dia pun meloncati setiap batu yang memang jaraknya cukup dekat dengan jangkauan kakinya itu di sana.


Sultan pun terus mengejar Rere, namun Sultan tak ingin membuat Rere dalam bahaya, dan jadi dia hanya bisa menggeretak Rere saja, supaya Rere bisa sampai ke tepi sungai itu di sana lebih dulu.


"Kok, udahan ngejarnya Tan? emang kamu engga mau balas dendam sama aku?".


"Buat apa? aku takut kamu sakit, dan terlebih tadi itu bahaya bolot! kalau elu jatuh gimana coba?".


"Sakit engga badan elu Tan?".


"Gue engga selemah yang elu kira Re, ini mah udah biasa, dan jadi sekarang tinggal giliran elu yang akan gue ceburin ke sungai, biar nanti elu dimakan sama biawak," ucap Sultan sembari memeluk dan menarik tubuh Rere di sana.


Kebersamaan itu, candaan itu, serta tawa itu tengah menemani hidup mereka sekarang di sana, yang di mana mentari pagi menjelang siang hari itu, sedang tersenyum lebar sembari memberikan cahaya hangat dan cahaya yang begitu indah, dikarenakan langit biru yang menjulang tinggi di atas sana itu, sungguh sangat melengkapi pandangan mereka berdua di sana.


Kaki kembali dilangkahkan, dan anak tangga kembali dinaiki, namun di sana langkah Rere sempat terhenti, dikarenakan Rere belum terbiasa seperti hal nya Sultan, dan terlebih jiwa prianya itu memang sudah menyatu dengan hal yang semacam ini.


"Kenapa diam? ayo cepetan Re? di sini banyak ular yang bisa jatuh sewaktu-waktu, dan apalagi elu takut kan sama hewan tersebut?" ucap Sultan sembari meninggalkan Rere di sana.


"Kamu kuat amat sih Tan? tungguin gue?" ucap Rere sembari berlari menghampiri Sultan.


Rumah pun kembali mereka singgahi, dan alangkah letihnya wajah Rere terlihat dimata Sultan, dan Sultan pun lalu memberikan segelas minuman dingin untuk dia minum di dalam rumah sana.


Sultan pun membiarkan Rere di sana untuk melentangkan kakinya itu, dan sementara itu Sultan pun pergi masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya tadi yang basah itu.


Sejauh ini bila dibandingkan dengan hari yang lalu, tentunya hari ini lebih membahagiakan hati mereka berdua, apalagi Rere, dia nampak begitu lebih bahagia bila dibandingkan dengan Sultan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2