
Masih di pagi hari yang dingin, entah apa itu adalah sebuah kebetulan, entah itu adalah sebuah khayalan saja, yang di mana akhirnya Sultan bisa bertemu langsung dengan anak pertama dari beliau.
Anak wanitanya tersebut memang tak sengaja bertemu dengan Sultan, dikarenakan sebelumnya dia hanya ingin menjeput ayahnya saja di dalam mesjid, dan terlebih beliau pun ternyata sedang sakit.
Langkah kaki Adelia terhenti dengan seketika, disaat dia melihat ayahnya itu sedang berbincang bersama dengan seorang pria yang entah itu siapa, namun kelihatannya mereka berdua sepertinya sudah lama saling mengenal satu sama lain.
Kenapa Sultan dan beliau bisa seakrab itu kelihatannya? dan ya ... mungkin alasannya ada di sini, yang di mana mereka berdua sama-sama memiliki darah keturunan yang sama persis, yakni berdarah keturunan sebagai orang sunda asli.
Tentunya Adelia penasaran, hal ini sudah membuat hatinya bertanya-tanya, siapakah sosok pria itu, dan kenapa mereka berdua bisa seakrab itu.
"Katanya ayah lagi engga enak badan! tapi kok, dia malah ngobrol sama orang lain sih! apa mungkin dia anak dari teman lama ayah di kampung? rasanya aneh juga kalau ayah punya teman semuda itu di sini," ucap Adelia bertanya kepada hatinya sendiri.
Sontak ayah dari Adelia pun milihat anaknya itu tengah berdiri di hadapannya sekarang. Beliau pun lalu memanggil nama anaknya, dan menyuruhnya untuk berkenalan dengan Sultan secara langsung tanpa adanya rekayasa.
"Nah Sultan, kenalin ini anak bapak Adelia, dan Adelia kenalin dia teman baru bapak di sini, namanya Sultan. Dia sama seperti bapak, sama-sama orang sunda," ucap beliau memperkenalkan Sultan dengan anaknya yang cantik itu.
"Haii, saya Adelia, panggil saja Dela biar bisa lebih akrab seperti ayah saya mengenal abang," ucap Adelia berbicara dengan menggunakan logak nada suara campuran.
"Saya Sultan, panggil saja Tan, kurang lebih biar teteh lebih mudah dalam mengucapkan nama saya ini," ucapnya dengan nada lembutnya.
Di sana Sultan tak langsung menjabat tangan Adelia, dan dia lebih memilih untuk bersalaman tanpa menyentuh tangan dari wanita tersebut, dikarenakan mereka berdua harus menjaga sikapnya tersendiri di hadapan beliau.
__ADS_1
Sesudah Sultan berkenalan dengan Adelia, wanita itu pun lalu pergi berpamitan kepadanya. Beliau pun tak jauh sama melontarkan kata-kata, yang di mana semoga besok mereka berdua bisa bertemu dan berbincang kembali.
Sultan lalu mengecup tangan beliau pada saat beliau akan pergi meninggalkan tempat persinggahannya yang hanya sementara itu saja di sana.
Sayangnya Sultan lupa menanyakan namanya kembali, padahal sebelumnya beliau pun sempat menanyakan namanya, sehingga untuk hari ini dia hanya bisa mengenal nama anaknya saja saat ini.
Sultan masuk kembali ke dalam kosan, dan seketika saat itu ia dibuat terkejut ketika dirinya mendengar suara alarm berbunyi bersamaan disetiap ponsel milik semua temannya di dalam sana.
Dan yang lebih mengherankannya lagi, yang lebih membingungkannya lagi, tak ada satu pun diantara mereka yang dapat terbangun dari tidur terlelapnya itu.
Bahkan suara alarm sekeras itu mungkin dapat membangunkan seluruh warga di sana, namun mereka sama sekali menghiraukan suara pringatan tersebut, sehingga keangkuhan sifat dari mereka mendengarkan suara itu mulai terlihat.
....
"Assalamu'alaikum, bangun Be! itu suara handphonemu udah nyala dari tadi juga woyy ... sampai sakit telinga gue dengerinnya nih," ucap Rere dengan manisnya menyuruh prianya untuk terbangun dari tidurnya.
Tapi, sebelumnya Rere masih belum sadar bahwa Sultan menyimpan ponselnya itu di dalam tasnya, dan jadi ia sama sekali tak dapat mendengarkan suara darinya.
Rere masih menunggu jawaban dari Sultan sembari tersenyum-senyum sendiri dan mengira bahwa dia ternyata adalah pria penidur, atau bisa dibilang sebagai sebutan kata dari tukang tidur.
Alasan Sultan lama menjawab panggilan suara dari Rere karena ia sempat berpikir, apakah ia harus menjahili seluruh temannya yang sedang tertidur itu kembali.
__ADS_1
Tentunya hal ini bukanlah hal yang pertama kali baginya, melainkan sebelumnya Sultan pernah sempat menjahili seluruh temannya yang tengah melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam kosan, dengan memutarkan backsound suara buang angin.
Kali ini sungguh sangat berbeda, Sultan mulai memutar backsound suara yang agak sedikit merinding untuk didengarkan, semua itu dia lakukan bukan semata-mata hanya ingin merasa puas, melainkan ia ingin memberitahukan kepada mereka bahwa mereka sudah harus segera terbangun dari tidurnya, dikarenakan takan lama lagi matahari akan segera terbit.
Setelah Sultan memutar suara tersebut, ia pun lalu mengambil ponselnya dan segera bergegas pergi ke luar dari dalam ruangan kosan.
Ia berpura-pura tak menyadari hal itu, sehingga semua temannya merasa heran! lagi-lagi suara yang sangat menyeramkan itu kembali bersuara dan berhasil membuat semua orang di dalam sana terbangun.
"Gue kira elu belum bangun Tan, abisnya gue panggil-panggil namamu dari tadi engga ada jawaban juga, tapi setelah gue mengetahui hal ini, gue barus sadar, ternyata sekarang elu sedang menjahili temanmu itu di sana kan?" tanya Rere mulai menyadari kehadiran Sultan sekarang.
"Gue baru aja pulang dari mesjid Re, dan setelah itu gue diam di luar ruangan kosan karena ada bapak imam mesjid yang ngajakin gue ngobrol," jawab Sultan yang sedang memainkan argumentasinya itu bersama dengan wanitanya, agar supaya semua temannya tak menyadari keusilannya.
"Dan sehabis itu elu ngerjain teman-teman kamu kan? pantas saja elu senyap, biasanya pagi sekarang ini gue sering mendengarkan kecerewetan kamu di sana."
"Yaudah, pastinya kamu baru bangun kan Re? mendingan kamu salat subuh dulu sana," suruh Sultan yang seketika membuat Rere memahami apa maksud dan arti dari ucapannya tersebut itu.
Rere menyuruh Sultan untuk tidak mematikan panggilan suara teleponnya ini, dan dia menyuruhnya untuk menunggunya sekiranya ada 3 sampai 5 menitan saja.
Sultan berpura-pura berbincang bersama dengan Rere pada saat Alamsyah mengintipnya dari dalam jendela kaca kosan, padahal wanitanya tengah melaksanakan ibadah salat subuhnya di sana, dan untung saja ia sempat mengintip dari arah kaca luar ruangan kosan, sehingga temannya itu tak dapat mencurigai gerak-geriknya.
"Untung saja gue sempat melihat sebentar kondisi di dalam sana, coba saja kalau gue telat sedikit memastikannya, mungkin Alamsyah akan mencurigai gue di sini," ucap Sultan menahan sedikit rasa ingin tertawanya sembari menoleh ke arah jendela kaca, yang di mana tadi Alamsyah sempat melihat Sultan tengah duduk manis di depan teras kosan.
__ADS_1