Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 120 : Tertawa dan tersenyum


__ADS_3

Permandangan pantai yang sangat indah dan juga raut wajah wanitanya itu pun tak jauh kalah indahnya juga, sama-sama diciptakan oleh Tuhan, namun berbeda proses kehidupannya.


Sementara itu Rere terus-menerus tersenyum lebar kepadanya tanpa henti, tanpa takut berpisah, entah kenapa rasa ini sepertinya menolak jauh untuk pergi dari sisinya.


Sampai kapan kah waktu akan terus berjalan secepat dan sesingkat ini? hingga pada akhirnya panggilan azan salat zuhur pun telah dikumandangkan dengan merdunya, hingga sampai kebersamaannya terhenti dengan seketika tanpa diduga-duga.


Kaki mulai dilangkahkan kembali, pelukan serta sandaran pun mulai mereka tunda terlebih dahulu, dikarenakan masjid adalah tempat suci, dan jadi mereka harus bisa bersikap lebih sopan di tempat tersebut itu di sana.


Salat zuhur pun telah usai dilaksanakan, dan kemudian Sultan bersama dengan Rere pun lalu duduk kembali di pinggir pantai, dan tentunya buat apalagi kalau bukan untuk berbincang kembali bersama dengannya.


"Salam untukmu, aku mencintaimu ... rindu takan selamanya singgah menemanimu, dikarenakan waktu takan pernah berjalan mundur, serta perpisahan takan membuat hati lama membelenggu selagi kata kuat itu masih ada dan belum tiada."


Ucapan di dalam hatinya tersebut, sangat mewakili perasaannya sekarang, dan mungkin wanita itu juga tengah merasakan hal yang sama dengannya, namun dia tak mau banyak berbicara, dan tetap memilih untuk tersenyum lebar kepadanya saat ini, bukan melainkan untuk esok nanti.


"Lagi latihan senyum buat nerimain kepergian gue nanti bukan elu Re? perasaan dari tadi gue lihat elu senyum-senyum sendiri mulu dah," ucap Sultan sambil membisiki telinga Rere, kekasihnya itu.


"Ihh bolot ... ! elu ini apa-apaan sih! gue kaget nih, gue kira elu mau apa, ternyata cuma mau ngebahas soal yang engga penting kayak begini," ucap Rere yang memang terlihat begitu terkejut ketika Sultan membisiki telinganya itu.


"Engga usah pura-pura kaget! gue tahu kalau elu lagi ngebayangin hari perpisahan nanti ya? mendingan elu jujur aja sama gue, mumpung gue punya waktu satu hari lagi sama besok."

__ADS_1


"Percuma punya waktu satu hari juga, tapi kamu engga mau ngajakin gue ikut pergi sama elu ke sana, yang ada elu mana mau kalau gue ikut pergi sama elu juga ke sana, gue tahu kok, Tan, kalau kamu udah janjian sama cewe cantik di sana."


Raut wajahnya berubah dengan seketika, dia kembali menjauhkan pandangannya itu dari Sultan, entah kenapa raut wajah itu terlihat lebih manis, namun akan tetapi melihat dia tersenyum lebar, hal itu memang jauh lebih baik untuk ia pandangi lagi.


Sultan pun mencolek pipi Rere, dan ia pun terus merayunya, dikarenakan bilamana Rere tetap terlihat murung seperti itu, dan itu takan jadi masalah, asalkan kemurungannya itu bukan karena dia sedang sakit, melainkan dia memang sedang marah kepadanya.


"Aihh ... ternyata kalau kamu cemberut kayak gini, mukanya jadi bertambah manis, tapi cantiknya berkurang sedikit! ya, karena kamu memang lebih pantas tersenyum seperti tadi," ucap Sultan yang seketika mencubit kedua pipi Rere dengan memberikan reaksi gemasnya itu.


"Makanya jangan rese jadi orang! gue mau bilang sama lu Tan, bisa engga sih satu hari aja kamu jangan bersikap seperti orang gila kayak begini?".


Sebelum itu Rere pun sempat berpikir, dan bahkan dia pun sempat berkata dalam hatinya bahwa perkataannya itu tadi adalah sebuah kata penyesalan, dikarenakan dia memang lebih suka melihat sikapnya yang seperti ini, ketimbang dengan sikap cemburuannya itu.


"Aduhh ... kok, pake ada acara salah ngomong segala lagi sih gue! dasar bego, bego! sebenarnya gue lebih suka sama sikapnya yang seperti, ketimbang melihat sikapnya yang cemburuan itu," ucapnya dalam hati, yang di mana dia sangat menyesali karena telah melontarkan ucapan itu tadi kepadanya.


"Palingan lu bilang dalam hati kalau gue nyesel udah bilang kayak gitu kepada gue, udah ketebak sama gue Re, dan lagian lu lupa apa Re, kalau gue bisa baca isi hati lu ini," ucap Sultan yang membuat Rere kembali menepikan wajahnya itu dari Sultan, dikarenakan dia merasa malu, bukan melainkan dia marah kepada Sultan.


"Gue bilang apa kan! dia emang bisa baca isi hati gue, tapi kenapa dia engga pernah ngomong jujur sama gue kalau dia emang punya kelebihan itu, atau jangan-jangan itu cuma perasaan gue aja kali ya! mana mungkin dia punya kelebihan seperti itu," ucapnya kembali dalam hati, namun sekarang pandangannya berubah, yang seolah-olah dia memang mempercayai kelebihan Sultan itu.


Ternyata dia memang wanita manja dan polos, mana mungkin Sultan memiliki kelebihan yang seperti itu, dia hanyalah pria biasa, namun dia hanya bisa merasakan hal itu ketika melihat wajah Rere terheran-heran, dan tentunya pandangan itu mempermudahkan Sultan untuk menebak semua isi hatinya dan semua isi yang berada di dalam pikirannya itu, bukan melainkan dia bisa membacanya langsung dari hatinya sendiri.

__ADS_1


Tak perlu berpikir panjang serta tak perlu mengikutinya terdiam seperti itu, dan yang pastinya pria menyebalkan itu lebih memilih untuk merangkul bahunya kembali saja, asalkan wanitanya itu bisa merasakan kenyamanan yang takan bisa lama untuk bertahan.


"Sini, sandarin lagi kepalamu dibahu gue, dari pada berdiam diri terlamun seperti itu, lebih baik elu ikutin gue aja yu, kapan lagi kita bisa kayak gini," ucap Sultan yang langsung menarik tangan Rere dan membawanya pergi ke pinggiran air laut.


Jatuhnya air ombak membasahi kaki Rere, dan dia pun nampak bahagia ketika Sultan menggenggam tangannya tanpa mau dia melepaskannya.


Mereka berdua tertawa dan tersenyum bahagia bersama-sama sembari menikmati hari indahnya yang singkat itu di sana, tak ada yang bisa mengganggu mereka bercerita, tak ada yang mungkin bisa melarang kebahagiaannya itu, sementara mentari masih menunjukan sikap terbaiknya untuk mereka berdua.


"Tengahan dikit Re, kayaknya asik tuh, kebetulan ombaknya engga terlalu tinggi, jadi bisa sekalian mandi juga."


"Elu aja sana, gue tungguin di pinggir pantai aja, gue engga mau jauh-jauh, takut!".


Rere pun lalu menepi ke pinggir pantai, namun pria yang sangat rese itu tetap mengejarnya dan dengan cepatnya menggenggam tangan Rere.


Kecepatan lari pria menyebalkan itu memang tidak bisa dibandingkan dengan kecepatan lari Rere, bukan melainkan karena dia lemah dalam hal itu, namun akan tetapi kelebihan dia memang hanya ada pada uji adu otak saja, dikarenakan dia adalah wanita cerdas, dan kecerdasannya itu jauh melampaui kecerdasan yang Sultan miliki.


"Tan, jangan Tan! pliss jangan!" ucap Rere, yang di mana sekarang Rere tengah berada dipangkuan Sultan.


"Satu, dua, tiga lempar ... ," ucap Sultan yang langsung menjatuhkan tubuh wanitanya itu, hingga pada akhirnya seluruh pakaian Rere terbasahi, namun tidak dengan hijabnya.

__ADS_1


"Ihh, awas aja kamu ya, Tan! sini kamu! malah ketawa-ketawa lagi di sana sendirian, awas aja ya, mau ke mana kamu hah! gue bunuh lu nanti!" ucap Rere yang langsung mengejar dan mendorong keras tubuh Sultan sampai dia terbawa arus ombak hingga ke tepian pantai.


__ADS_2