Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 270 : Sosok angin dan Sultan


__ADS_3

"Ihhh ... ini si Sultan rese banget dah sumpah! tapi gue tahu sih bahwa sebenarnya apa yang dia lakukan itu karena dia ingin melihat gue tertawa, makasih Sultan, gue berharap elu cepat pulang aja sebelum gue diambil sama orang lain di sini," ucap Rere dalam hati sembari tersenyum dengan lebarnya seorang diri.


Rere menggenggam erat ponselnya sambil menyandarkan punggunggnya dengan perlahan-lahan disalah satu kursi sofa yang sering Sultan duduki bilamana dia sedang berkunjung ke rumahnya.


Sementara Sultan hanya meletakan ponselnya di bawah teras depan kontrakannya itu saja sambil menghembuskan asap rokoknya ke atas langit-langit pagi.


Seperti biasa Sultan hanya ditemani oleh sosok angin saja, dan sementara temannya Azmi, dia baru saja ke luar dari dalam ruangan setelah dia selesai membersihkan dirinya dari debu jalanan di dalam kamar mandi.


Sultan masih saja mengoceh kepada sang angin bahwa dia ternyata masih bisa membuat Rere tersenyum. Sang angin lagi-lagi memberikan gemuruhnya, dikarenakan dia pun senang melihat Sultan senang.


"Gue bilang juga apa, selama sikap gue ini masih tertanam di dalam diri gue, bahwa Rere takan pernah sanggup dan takan pernah mau berhenti memberikan senyuman manisnya itu hingga pada akhirnya dia malu untuk memperlihatkan senyumannnya kepada gue."


"Semoga sekarang elu bisa melihatnya juga ya, dan semoga apa yang elu berikan kepada gue sampai saat ini dapat dirasakan oleh Rere juga."


Ocehan Sultan membuat sang angin memberikan gemuruhnya sampai ke tempat persinggahan Rere. Pantas saja Rere telihat bingung, kenapa angin tiba-tiba bergemuruh selepas senyumannya sekarang.


"Aihh ... kok, gitu sih, kenapa angin tiba-tiba berhembus sekencang ini, padahal waktu di dalam rumah angin berhembus seperti biasanya deh, tapi kenapa disaat gue pergi ke luar sejenak dari dalam ruangan rumah, tiba-tiba angin berhembus seperti dia mengetahui kesenangan gue yang sekarang ini," ucap Rere terlihat bingun.


Lantas dia pun mencoba berbicara kepada sang angin, apakah gemuruhnya ini tengah mengajaknya berbincang di sana, dan apa yang sekarang Rere bingungkan telah terpecahkan pada saat sang angin membalas ucapan dari sosok Rere itu.

__ADS_1


"Kamu tahu bukan kalau sekarang gue lagi bahagia? perasaan hari kemarin kamu engga bersikap seperti ini dah, tapi entah kenapa semenjak gue lagi bahagia, kamu malah bersikap seperti seorang Sultan, namun seorang Sultan hanya akan menghilang pada saat dia sedang kelelahan saja, tapi kenapa kamu menghilang dan tak kunjung datang disaat gue lagi membutuhkan sosok seperti kamu."


Pertanyaan dari Rere dijawab oleh sang angin, di mana gemuruh itu mulai menunjukan sikap perhatiannya kepada sosok Rere, dan ternyata memang benar bahwa apa yang dia ucapkan dapat dirasakan oleh sang angin.


Rere tersenyum begitu lepasnya, sampai dia menganggap semua ini adalah suatu hal yang hanya kebetulan lewat saja, bukan melainkan sang angin benar-benar mendengar ucapannya itu.


"Ihhh ... diam engga! mendingan kamu temenin Sultan aja sana, bila kamu nemenin gue sekarang, yang ada orang-orang ngiranya gue gila lagi."


Seperti ucapan Sultan waktu itu, di mana Rere menganggap sang angin tengah menertawakannya, dikarenakan apa yang dia ucapkan itu bisa dibilang adalah sebagian rasa yang dulu pernah Sultan rasakan, yakni sebuah keluhan.


"Ihhh ... rese ya, gue bilang diam! udah deh, medingan elu engga usah ikut campur, lebih baik elu berhenti bergemuruh, soalnya gue bukan anak angin, dan asalkan elu tahu, gue engga sekuat Sultan dalam segi menahan gemuruh anginmu."


Tanpa sengaja teman Rere melihat dia sedang berbicara seorang diri di depan sana, dan teman Rere itu menganggap bahwa dia sedang sakit.


"Woyy, ada apasih? gue merhatiin elu nih dari tadi, sebenarnya elu kenapa Re, mendingan elu cerita sama gue deh, lagian pagi-pagi seperti ini udah diam di luar aja, udah itu ngoceh seorang diri lagi," ucap salah satu temannya.


Rere terlihat malu, pipinya sekarang memerah, entah apa yang harus dia katakan kepada temannya itu, bila dia berkata jujur temannya itu pasti tidak akan mempercayai ucapannya nanti.


"Tuh kan, gue bilang juga apa, mendingan sekarang elu diam aja deh! jadinya teman gue nganggap gue gila tuh, gue malu ini, lagian kenapa sih elu malah muncul disaat ada orang yang lagi merhatiin gue!" ucap Rere dalam hati.

__ADS_1


Gemuruh angin kembali menertawakannya, dan di sana dia dibuat semakin jengkel saja oleh teman dekat Sultan itu, rasanya Rere ingin sekali pergi jauh dari tempat singgahnya yang sekarang ini, hanya saja ucapan Sultan membuat dia sadar, bahwa Sultan tak menyukai harapan tersebut, dikarenakan harapan tersebut sudah sama seperti ucapan yang sebelumnya dia lontarkan kepada Sultan bahwa dia ingin merasakan waktu yang berbalik ke arah belakang.


"Temen si Sultan ini rese juga ya, makin ke sini dia malah semakin lepas ngetawain gue, apa jangan-jangan Sultan yang ngasih tahu dia agar dia nemenin gue sekarang!".


Kebingungan itu masih menghantui pikiran Rere, entah sampai kapan Rere terdiam seperti itu di hadapan temannya, mungkin bila Rere tak menceritakan sebab dia berbicara seorang diri di sana, maka temannya itu takan pernah mau meninggalkan Rere.


"Sebenarnya elu itu kenapa sih Re, dari tadi gue nanya nih, tapi elu malah diam aja kayak patung," tanya temannya sembil menghampiri Rere.


"Kepo! gue engga apa-apa kok, tadi itu gue lagi teleponan sama pacar gue yang ada di Tangerang," ucap Rere telihat gugup.


"Yang bener! elu engga lagi bohongkan sama gue Re? kalau emang elu lagi teleponan sama dia, terus sekarang mana handpbone lu?" tanya temannya membuat Rere mati langkah.


"Ihhh ... udah ah engga usah kepo! lagian elu lagi ngapain sih di luar sini? emangnya elu engga punya kerjaan lain apa selain ngupingin obrolan gue di sini."


"Ya, kali gue nguping Re! enggalah, sebenarnya gue engga sengaja mendengar suara gemuruh angin yang udah lama ingin gue rasakan aja, makanya kenapa gue ke luar dari dalam rumah karena gue ingin merasakan apakah benar angin dapat menghilangkan rasa stres gue ini sekarang."


"Ujung-ujungnya pasti curhat, tahu ah, gue males dengerinnya, mendingan sekarang elu salat sana soalnya pacar gue sering bilang salah satu teman penghilang rasa stres itu adalah Allah."


"Elu emang benar sih Re, dan pacarmu itu juga benar, hanya saja gue lagi bingung apa yang harus gue lakuin sekarang, dikarenakan gue udah menjalankan semua perintah dari Allah, dan sekarang tinggal satu yang belum gue kerjakan, yaitu mendengarkan elu curhat."

__ADS_1


"Engga ada kerjaan banget sih! mendingan sekarang elu tidur lagi aja sana, lagian gue engga punya curhatan yang dapat elu dengarkan," ujar Rere sambil mendorong tubuh temannya agar temannya itu masuk ke dalam rumahnya lagi.


__ADS_2