Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 207 : Cinta karena Allah


__ADS_3

"Yaudah Re, gue pamit dulu ya, semoga apa yang sekarang tengah kamu harapkan itu semuanya berjalan dengan lancar," ucapnya, di mana dia pun lalu pergi meninggalkan Rere dengan perasaan penuh rasa kekecewaannya.


"Iya, makasih ya, atas doanya," ucap Rere singkat sembari memberikan senyumannya juga, yang di mana baru kali ini dia dapat melihat langsung raut wajah temannya itu, namun tatapannya itu tak berlangsung lama.


Setelah teman prianya itu pergi, Sultan pun datang menghampiri Rere kembali. Ia tak langsung menemani Rere di sana sebab Rere harus segera melaksanakan ibadah salah zuhurnya itu terlebih dahulu.


Tak hanya di situ saja, Sultan pun lalu mengambil dompetnya untuk membeli minuman segar yang dapat menghilangkan rasa hausnya.


Sultan menyuruh Rere menunggunya sesaat saja, dikarenakan ia pun takan lama pergi meninggalkannya di sana seorang diri tanpa ia yang menemaninya langsung.


Seperti janji Sultan yang sebelumnya, di mana dia datang secepat seperti kedipan mata saja, dan bahkan Rere sempat dibuat bingung, kenapa bisa dia nongol tepat di belakangnya.


"Oyy, ngeliatin apa sih bolot! serius amat kayaknya, nih minum dulu, gue engga mau melihatmu jatuh pingsan karena pacarmu ini engga memperhatikanmu di sini," ucap Sultan mengejutkan Rere sembari mencolek pipi kirinya.


"Dihh ... kaget gue Tan! gue kira itu bukan elu, bukannya tadi itu elu jalan tepat di hadapan gue langsung ya? tapi kenapa sekarang elu tiba-tiba muncul dari arah belakang," ucap Rere sembari memberikan reaski terkejutnya.


"Pacar gue engga boleh melamun seperti ini, lagian ya, lamunan elu itu hanya boleh digunakan pada saat elu sedang rindu sama gue aja."

__ADS_1


Sultan duduk di samping Rere sambil memberikan minuman yang sempat dia beli untuk wanita manjanya itu di sana.


Rere sempat ingin menanyakan buku catatan yang sering Sultan bawa itu kenapa isinya menjadi berbeda dengan yang sebelumnya, namun Sultan malah menyuruh Rere untuk melaksanakan ibadah salat zuhurnya itu terlebih dahulu.


Rere menyimpan ucapannya dan lebih memilih untuk mengikuti perintah dari Sultan saja. Sekarang giliran Sultan yang duduk seorang diri di sana, ia pun membuka tas slempangnya untuk memastikan apakah buku catatannya itu aman tanpa ada lembarannya yang hilang karena Rere sobek.


"Lahh ... ini kan buku catatan harian selama gue bekerja di Tangerang, apa mungkin gue salah membawanya ya, bahaya juga nih kalau sampai buku ini hilang ataupun gue salah membawanya ke Tangerang nanti," ucap Sultan, di mana ia pun lalu menulis judul yang pas agar dia tak salah membawanya lagi.


Tak lama kemudian Elsa dan Putri pun datang menghampiri Sultan yang tengah asik menulis di buku catatan hariannya itu.


"Woii, lagi nulis apa sih kamu Tan? perasaan serius amat dah dari tadi aku lihatin, aku boleh ikutan duduk di sini juga kan?" tanya Elsa sembari duduk di samping Sultan dengan di tatapnya lembaran buku catatan harian milik Sultan itu.


Sekarang Sultan tengah dikerumuni oleh dua wanita cantik, yang satu duduk di samping kanannya, dan yang satu lagi duduk di samping kirinya.


Kedua pilihan tersebut sama sekali tak membuat dia bingung dalam memilih siapa wanita terbaik untuk dirinya pilih, dikarenakan dia pasti akan tetap memilih wanita manjanya, yaitu Rere.


....

__ADS_1


Sultan menatap raut wajah cantik mereka berdua, namun tatapannya itu hanya sebatas reaksi herannya saja, kenapa mereka berdua selalu saja datang tanpa mengucapkan salamnya itu terlebih dahulu kepadanya di sana.


"Udah deh, udah ya, lebih baik kalian berdua itu langsung bilang to the point aja sama gue, sebenarnya apa maksud dari kalian berdua datang menghampiri gue di sini?" tanya Sultan sembari menutup buku catatan hariannya kembali.


Mereka merespon ucapan Sultan hanya dengan senyuman manisnya itu saja, dan di sana Sultan pun mulai dibuat bingung, apa maksud dari senyuman manis mereka itu.


Senyuman mereka berdua malah membuat semua teman-teman wanita Rere menghampirinya di sana, dan dengan seketika kepanikan Sultan mulai melanda kehidupannya.


Ini semua melebihi dari ketujuh bidadari surganya, bahkan totalnya berada di atas angkat 10, tapi sebagaimana sikapnya yang menyebalkan itu dia dapat dengan mudahnya menghilangkan rasa kepanikannya tersebut semudah seperti melarutkan permen kapas ke dalam wadah yang berisikan air.


"Udah berani main keroyokan ya, sebenarnya kalian itu mau apa datang ke sini? lagian ini kursi yang tadinya longgar jadi sempit kayak begini," ucapnya yang mencoba ke luar dari kerumunan mereka, namun mereka tak membiarkan Sultan lolos begitu saja.


"Mau ke mana sih kamu Tan? lagian kamu ini aneh banget ya! bukannya seneng atau apa kek dikerumuni banyak cewe cantik seperti kita ini," ucap Elsa menyuruh Sultan duduk saja, dikarenakan mereka ingin mendengarkan alasan kenapa Rere dapat mencintainya setulus itu.


"Prinsip kesenangan gue dalam mencintai seseorang itu hanya ada satu, yakni cintailah wanita yang memang tengah kamu perjuangkan untuk saat ini, seberapa banyak godaannya, tujuan kamu cuma ada satu, tidak lain adalah menjaga hatinya tanpa melukai hatinya sedikit pun," ucap Sultan mulai mengeluarkan kata-kata pamungkasnya, di mana ia berusaha menjeda ucapannya untuk mengambil napas panjangnya sejenak.


"Gue dulu pernah bangkit dalam keadaan hancur, di mana kehancuran itu adalah titik kekuatan gue yang sebenarnya, dan gue dulu pernah hancur dalam keadaan bangkit, di mana kebangkitan gue itu ternyata hanya sebatas cemohan saja, ketika gue senang, gue malah melupakan semua urusan yang lebih penting daripada itu, contohnya melupakan siapa pencipta kesenangan itu," ucapan Sultan terjeda kembali, ia hanya ingin melepaskan ucapannya setelah ia meminum minumannya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kebangkitan takan pernah berjalan sesuai rencana apabila kita melupakan sosok Tuhan kita sendiri, yaitu Allah, beliau yang membuat kesenangan itu memang untuk kita rasakan sendiri, tapi kita dengan mudahnya melupakannya begitu saja, maka dari itu kenapa gue bisa merasakan kebangkitan dalam keadaan sehancur-hancurnya seperti itu, tidak lain karena kebangkitan itu hanya membuat diri kita semakin lupa, dan pastinya kita akan berfokus mengejar arti bangkit itu lebih dalam lagi, namun tentunya berada di atas puncak itu tak semudah yang kita bayangkan, apalagi tanpa adanya restu dan doa, semua hasil itu akan nampak sia-sia saja."


Mereka semua terdiam kagum, dan sebenarnya itu adalah penjelasan singkat saja, apabila Sultan menjelaskannya sedetail mungkin maka mereka dapat memahaminya lebih dalam lagi, di mana sosok seperti Sultan mencintai seorang Rere karena Allah.


__ADS_2