Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 228 : Sebuah alasan


__ADS_3

Kali ini Sultan tepat ada di belakang tubuh Rere, dia benar-benar begitu terfokus kepada ponselnya, sampai mana dia tak melihat Sultan ada di belakang tubuhnya yang tengah berdiri tegak dengan posisi kedua tangannya di masukan ke dalam saku celana jeans hitamnya itu.


Sultan mengejutkannya, ia menutupi kedua mata Rere dengan menggunakan kedua tangannya. Dia tersenyum, dikarenakan dia sudah tahu bahwa seseorang yang menutupi matanya itu pasti Sultan.


"Assalamu'alaikum, udah lama nungguin ya? maaf kalau aku lama jemputnya, abisnya pesan Whatsapp darimu baru terkirim di jam-jam sekarang," ucap Sultan dengan lembutnya sambil menutup kedua mata wanitanya itu di sana.


Rere tertawa tipis serta tersenyum lebar, dia melepaskan tangan Sultan perlahan-lahan dan memeluk tanggan prianya itu juga.


"Mau seberapa lama kamu jemput aku, yang jelas aku engga akan pernah kembali lagi sebelum aku melihat raut wajahmu Tan, aku tahu kamu pasti datang," ucapan Rere sama lembutnya seperti ucapan Sultan.


Saat itu Sultan menyandarkan dagunya di atas bahu Rere, ia terdiam hanya untuk merasakan sejenak apakah ini adalah sebuah mimpi.


Sultan memang merasakan hal tersebut itu seperti mimpi saja, ia sungguh sangat tak percaya, dan ia tak tahu apa yang membawa langkah kaki Rere sejauh ini.


Biasanya dia hanya akan berani berpergian jauh bersama dengan teman wanitanya ataupun itu Sultan, namun sekarang dia berpergian jauh ditemani dengan rindunya saja.


Rindu itu telah mendewasakannya, Sultan tersenyum tanpa henti, sampai-sampai lesung pipinya terlihat jelas dimata seorang Rere.


"Gue sayang sama elu Re," ucapan Sultan menambah senyuman Rere menjadi lebih lepas lagi.


"Apa Tan? gue engga denger soalnya pipimu ini menutupi telingan gue, makanya angkat dulu kepalamu itu, agar gue bisa mendengar jelas ucapanmu," Rere berucap kata seperti itu pun Sultan masih tak mau mendengarkannya.


"Kata sayang itu hanya bisa diucapkan satu kali sehari Be, bukan melainkan diucapkan dua kali sehari, kalau gue melakukan hal itu kamu harus curiga, berarti gue di sini memiliki rasa sayang kepada orang lain lagi."

__ADS_1


Mau itu di Tangerang, maupun itu di Sukabumi, ternyata sikap seorang Sultan tak pernah berubah sama sekali, dan malahan sikapnya menjadi lebih manis.


Sultan mulai membawa Rere pergi dari stasiun, ia tak mau membawa dia pergi ke mana-mana lagi karena waktu pertemuan ini akan terasa lebih singkat dari hari sebelumnya.


Kontrakan Sultan terlihat rapi pada saat Rere melihatnya, dan kebetulan hari itu Sultan memang sengaja merapikan tempat persinggahannya yang sekarang.


"Udah bersih, wangi, rapi lagi, ini semua kamu yang beresin Be? hebat juga kamu ya, gue semakin yakin kalau kamu dapat menjadi pembantu rumah tangga di rumah gue," canda Rere membuat Sultan mencubit pipinya.


"Itu omongan sakit beut dah! ternyata jadi cowok itu engga gampang ya, menjadi cowok nakal dan pemalas dikatain, sampai menjadi cowok rajin pun masih dikatain juga, jadi gue harus gimana Be, kalau semua yang gue lakuin selalu salah dimata bidadari gue ini?" tanya Sultan dengan dicubitnya kedua pipi Rere.


"Kamu engga salah kok, malahan gue seneng melihatmu seperti ini Tan, ternyata ini alasan kamu, kenapa pacar gue lebih memilih PKL jauh dari Kotanya sendiri."


Ucapan Rere itu memang benar, dan alasan Sultan memilih tempat yang begitu jauh dari Kotanya, yakni kurang lebih ia hanya ingin berlatih menjadi sosok pria yang mandiri, seperti hal nya mencuci baju, memasak makanan untuk ia santap sendiri, mencari uang sendiri tanpa harus meminta dan menyuruh orang tuanya lagi.


Sultan mendapatkan inspirasi dari kedua orang tuanya, di mana walapaun mereka sudah tua, namun akan tetapi semangatnya, kuatnya, teguhnya, serta sabarnya semuanya itu mereka miliki, dan yang lebih mengagumkannya lagi adalah mereka yang tak pernah terlihat sakit meskipun dalam hatinya berkata mereka sudah lelah.


Ucapan Rere membuat Sultan kembali mengingat alasannya yang dulu, makanya sekarang ia terdiam sambil tersenyum-senyum sendiri.


Sultan mengambil ponselnya, ia menelepon ibunya dengan panggilan video, lantas beliau pun dibuat terkejut, kenapa bisa anak wanitanya ada di Tangerang bersama dengan anak prianya.


Mereka berbincang panjang lebar, hingga mana beliau pun ingin pergi ke tempat Sultan, andai saja Rere mengabari beliau terlebih dahulu, dan mungkin nanti dia akan ditemani oleh ibu Sultan pergi ke Tangerang.


Panggilan video telah usai, sekarang mereka berdua kembali berbincang di dalam ruangan kontrakan. Sultan bertanya apakah Rere sudah makan, dan jawaban dia adalah belum.

__ADS_1


"Makan dulu Be, emangnya kamu engga lapar apa? ini adalah masakan buatan tangan gue sendiri," ucap Sultan sembari menuangkan makanan yang dia buat sendiri.


"Kayaknya enak nih, ini serius engga sih kamu yang masak sendiri Tan? rajin banget kamu ya, gue aja kalah rajinnya darimu, seharusnya gue malu!".


"Bukan waktu yang tepat untuk malu, sekarang adalah waktunya makan Be, mau gue ambilin atau mau kamu aja yang ngambil sendiri Be?".


"Gue mau makan yang banyak bolehkan Tan?".


Sultan tertawa, dan tanpa Rere duga Sultan menuangkan banyak sekali nasi di piringnya. Rere terkejut, padahal dia cuma bercanda saja, tapi Sultan malah menganggapnya sungguhan.


"Ini kebanyakan bego! lu ini ya, emangnya gue lu anggap apa Tan, kebo? masa iya sih elu menyamakan pacar lu sendiri sama hewan ternak," ucap Rere nampak terkejut.


"Kapan mau gemuk kalau pola makan kamu cuma sedikit, sebenarnya itu adalah porsi makan untuk anak rantau seperti kita ini Be, justru porsi itu terlalu sedikit buat kita semua di sini," ucapan Sultan justru malah membuat Rere semakin terkejut saja, masa iya prianya makan sebanyak ini di Tangerang.


Sultan menukarkan nasi di piring Rere dengan nasi di piringnya. Sultan memang sengaja menahan rasa laparnya demi untuk menunggu Rere tiba dahulu.


Selahap-lahapnya Sultan makan, Rere tak pernah melihat dia sebegitu nafsu makannya seperti itu, padahal pola makan Sultan dibilang cukup rendah, namun sekarang Rere mengetahui sosok Sultan yang asli itu seperti apa.


Nasi di piring Sultan sudah bersih, pada saat Rere sadar ternyata makanan yang Sultan santap telah habis lebih dulu mendahului wanitanya.


"Kamu kesurupan setan apa sih Tan? ini pertama kalinya gue melihat elu serakus itu, jangan bilang kalau kamu nahan rasa laparmu itu demi menunggu gue?" tanya Rere dengan ditatapnya raut wajah lucu Sultan.


"Dari subuh kamu kan lihat sendiri kalau aku udah makan, cuma engga tahu kenapa rasa lapar ini memanggil lagi setelah aku melihat masakan khas sunda yang aku buat untuk menyambut kedatangan kamu di sini Be," ucap Sultan sambil menyandarkan punggunggnya itu ditembok kontrakannya.

__ADS_1


__ADS_2