Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 173 : Foto Sultan


__ADS_3

Rere menarik tangan Sultan sampai langkah kakinya terhenti dengan seketika. Dia meminta tolong kepada Sultan untuk mempotret wajahnya di atas jembatan itu lagi.


Sultan menyetujuinya, dan lalu ia pun meminta ponsel Rere agar ia bisa mengambil foto terbaik untuk dia lihat, namun Rere menolak memberikan ponselnya pada Sultan.


Hal itulah yang membuat Sultan bingung, kenapa Rere tak mau memberikan ponselnya kepada dirinya, apa mungkin dia takut bila Sultan melihat semua isi chatingan dia bersama dengan pria lain.


Tapi, itu hanyalah perasaan buruk Sultan saja, ia pun sama sekali tak dapat mempermasalahkan hal itu, dikarenakan pada dasarnya Sultan telah memiliki Rere, hingga mana ia hanya bisa mendengar alasan dari wanitanya itu saja nanti.


"Tunggu dulu Tan!" ucap Rere dengan ditariknya tangan Sultan, yang di mana langkah kaki Sultan pun lalu terhenti.


"Iya Re, ada apa? lu cape bukan?" ucap Sultan sembari mentap raut wajah Rere.


"Gue engga cape kok, Tan, gue cuma mau minta tolong aja sama kamu buat fotoin gue di sini sebelum pulang ke rumahmu."


"Oke, mana handphonemu sini?" pinta Sultan.


"Pake handphone kamu ajalah Tan, biar engga ribet."


"Perasaan lu takut amat dah Re, kalau gue melihat isi yang ada di dalam handphone milikmu itu."


"Bukan gitu Be, gue cuma mau nambahin foto gue di dalam galeri handphonemu itu aja, biar lu engga minta-minta foto gue lagi," ucap Rere dengan penjelasan singkatnya itu.


Sekarang ia sadar, kenapa Rere menyuruh Sultan untuk memotret wajahnya dengan menggunakan handphone miliknya, dikarenakan alasan Rere memang tepat sekali, yang di mana Sultan sering meminta foto wanitanya sebanyak mungkin, entah itu untuk apa, tapi yang jelas Sultan lebih suka mengoleksi foto wajah Rere ketimbang mengoleksi foto wajahnya sendiri.


Foto yang ia ambil sudah cukup banyak, dan Rere pun merasa sangat senang dengan hasil potretan yang Sultan ambil itu di sana.


Mereka mulai melangkahkan kakinya, hingga pada akhirnya suara azan telah dikumandangkan. Seperti biasa Sultan melaksanakan ibadah salat zuhurnya itu di dalam mesjid bersama dengan para jamaah yang lainnya.

__ADS_1


Sementara Rere meminjam kamar Sultan untuk melaksanakan ibadahnya di dalam sana. Rere melihat kesegala arah ruangan kamar Sultan, ternyata Sultan adalah pria yang suka berkemas, hingga mana kamarnya pun dia tata dengan serapi ini.


Dia tersenyum melihat foto Sultan yang terpajang jelas di samping tembok tempat tidurnya itu. Dia melihat begitu banyak sekali foto kenangannya, yang di mana foto dia semasa bersekolah di sekolah Tadika pun ada di dalam sana.


"Ini si Sultan kalau udah senyum manis beut dah, ambil satu ah fotonya yang masih sekolah TK ini. Maaf ya, Tan, abisnya elu engga pekaan sih orangnya," ucap Rere seorang diri sembari tersenyum sendiri juga tanpa Sultan yang menemaninya tersenyum.


Rere menyimpan foto Sultan itu di belakang ponsel miliknya. Dan lalu setelah itu dia baru bisa melaksanakan ibadahnya di dalam sana.


Tak lama kemudian Sultan pun datang, ia menunggu Rere di luar ruangan kamarnya. Sementara itu, teman-teman satu tongkrongannya menelepon dirinya, mereka sudah lama menunggu Sultan.


Sultan membalas pertanyaan mereka dengan singkat, dan jawaban mereka tidak lebih adalah kata yang sering diberikan kepada Sultan.


"Di mana lu Tan? lama bener dah!" ucap Iman dalam panggilan telepon suaranya.


....


Rere yang tengah melaksanakan ibadahnya itu, dengan seketika kehilangan konsentrasinya, sampai-sampai Rere mengulangi salat zuhurnya, dikarenakan dia lupa bahwa tadi dia sudah salat berapa rakaat.


"Oke, Tan, kita tunggu di sini," ucap Iman singkat, dia pun tak mau banyak berkata apa-apalagi selain menunggu kehadirannya di sana.


Panggilan suara ditutup. Lantas Sultan pun mencoba masuk ke dalam kamarnya, dan ternyata Rere masih belum selesai melaksanakan salat zuhurnya di dalam sana.


"Astaghfirullah!" kejut Sultan dengan seketika menutup pintu kamarnya kembali.


Rere sontak terkejut dan tersenyum, tapi dia tak langsung menatap wajah Sultan karena dia takut nanti Sultan akan meledek dirinya.


"Maaf Re, gue engga sengaja, elu jangan senyum-senyum kayak begitu dah, nanti elu lupa lagi sekarang udah salat berapa rakaat," ucapan Sultan hampir saja membuat Rere melupakan jumlah rakaat yang telah Rere jalankan di dalam sana.

__ADS_1


Mungkin Rere akan berpikiran sama dengan Sultan, tapi Rere hanya bisa menunggu hingga dirinya telah selesai melaksanakan ibadah salat zuhurnya itu.


Tak lama kemudian Rere pun ke luar dari dalam kamar Sultan. Dia langsung duduk di samping Sultan tanpa memarahi dirinya.


Rere hanya tersenyum kepada Sultan, hingga Sultan pun merasa heran, kenapa dia bisa tersenyum seperti ini, memangnya dia sama sekali tak merasa kesal dengan sikapnya itu.


"Dih, kenapa lu Re? engga biasanya elu tersenyum-senyum sendiri kayak begini," ucap Sultan sembari tertawa tipis melihat Rere bertingah lucu seperti ini kepadanya.


Rere sengaja membalikan layar handphonenya agar Sultan dapat melihat foto yang dia ambil itu tadi, namun ia hanya bisa menatap raut wajah Rere dengan sikap terheran-herannya itu.


Rere tersenyum sembari menatap Sultan, dia memegang paha Sultan menggunakan kedua tangan lembutnya.


"Ada apa Be? sebenarnya apa yang lagi kamu pikrkan, sehingga kamu bersikap seperti ini sama gue?" tanya Sultan sembari mencubit pelan pipi Rere.


"Engga ada apa-apa Tan," ucap Rere singkat, namun ucapannya itu membuat Sultan luluh.


Nada suara rendah Rere itu sama seperti raut wajahnya, yang di mana kata imut hanya ada dalam pikiran Sultan sekarang.


Ia tak mengetahui apa yang tengah Rere pikirkan itu di sana, lagipula Rere pun tak mau membuka mulutnya lagi, sampai-sampai ia hanya bisa menunggu Rere berbicara terus terang saja kepadanya nanti.


Rere menggenggam ponselnya yang sempat dia simpan tepat di bawah pandangan Sultan. Rere berpura-pura menjawab suatu panggilan agar Sultan melihat foto yang dia curi itu sebelumnya.


Hingga pada akhirnya, Sultan menyadari kenapa Rere bisa tersenyum manja seperti itu kepadanya, dan ternyata dia hanya ingin bilang kalau dia ingin meminta foto semasa Sultan masih bersekolah di sekolah Tadikanya itu.


"Kenapa elu engga bilang sama gue aja Re, lagian foto itu masih banyak di dalam rapot sekolah TK gue," ucap Sultan yang kini dapat menyadari senyuman dari Rere itu untuk apa, dan untuk siapa.


"Gue engga berani bilang jujur sama kamu Tan," ucap Rere dengan tawa tipisnya sembari menggigit lidahnya itu juga.

__ADS_1


Sultan kembali mengelus lembut hijab Rere dengan manisnya. Ia mengangguk dan memperbolehkan Rere untuk menyimpan fotonya sampai kapan pun tanpa harus dia mengembalikannya lagi.


__ADS_2