Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 273 : Surat ancaman


__ADS_3

Singkat cerita, di mana pagi itu Sultan mendengar kabar dari Aisyah tentang para brandalan yang semalam dia hajar habis-habisan, ternyata ucapan Sultan serta pelajaran yang Sultan berikan malam itu tidak mereka dengarkan dengan seksama.


Padahal malam itu Sultan sudah membiarkan mereka semua untuk pergi menjauh dari teman-temannya, namun apa yang telah Sultan berikan dengan begitu santainya mereka abaikan.


Pantas saja kenapa Aisyah menelepon Sultan sepagi itu, dan ternyata Aisyah ingin menceritakan semua niat jahat yang telah musuhnya itu rencanakan.


Untung saja pagi itu Aisyah dan teman-temannya tak sengaja melihat musuh yang dia lawan semalam pergi beriringan tepat melewati halaman depan kontrakan Aisyah.


Rasa penasaran Aisyah semakin bertambah saja, lantas di sana dia pun sempat dibuat bingung, hingga pada akhirnya dia menyaksikannya langsung bahwa sekarang teman-teman jauhnya sedang dalam bahaya.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara handphone Sultan menyala, dia mengira itu adalah panggilan telepon dari Rere, dan pada saat dia mendengar lebih jelas suara wanita tersebut, ternyata Sultan salah, wanita yang dia maksud bukan pacarnya, melainkan itu adalah Aisyah, teman yang dia temukan di Tangerang.


"Hati gue pernah berkata, bahwa seorang Rere takan pernah bisa menahan rindunya itu lebih lama lagi kepada sosok pria manis seperti gue ini, bukannya gue udah sering bilang sama elu ya, Be, kalau elu lagi rindu ungkapin aja, sebelum rindu ini menghilang diambil orang."


"Mumpung gue masih ada, lebih baik elu bilang jujur aja bahwa sekarang elu tengah merindukan sosok pria rese seperti gue ini."


Bawelnya Sultan membuat Aisyah sadar, dan ternyata ini alasan Rere menerima cinta dari seorang pria menyebalkan seperti Sultan, bukan hanya Sultan itu adalah pria nakal, tapi ternyata dia juga masih memiliki sikap bawel seperti yang tengah Aisyah dengaran sekarang.

__ADS_1


"Ternyata emang benar ya, dia itu adalah pria yang sangat cerewet, apa mungkin ini alasan Rere mau menerima cinta dari sosok Sultan!" ucap Aisyah dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


Pada saat Aisyah mendengar ucapan dari itu Sultan, dengan seketika dia tersadar bahwa dia hampir saja melupakan pembahasan yang akan dia ceritakan kepada Sultan.


"Ehh ... dasar bego! hampir saja gue lupa, padahal gue harus menyampaikan pesan ini agar Sultan mengetahuinya bahwa keselamatan dia dan teman-temannya sekarang sedang terancam," ucap Aisyah dalam hati, di mana raut wajahnya yang sekarang terlihat begitu datar sekali.


Rasa khawatir membuat pikiran Aisyah menjadi berbelit-belit saja, bila Aisyah memilih untuk tidak perduli kepada temannya itu, maka dia akan pergi, namun sayangnya dia tak bisa pergi begitu saja, dikarenakan Sultan adalah temannya.


"Ihhh ... ini gue Aisyah, emangnya elu engga ngesave nomer gue apa? masa sih elu engga bisa membedakan gue dengan pacarmu itu, aneh beut dah elu ini Tan," ucap Asiyah terlihat begitu terburu-buru sampai Sultan menyadari perasaan Aisyah kini tengah dilanda kebingungan.


"Wait, wait, wait! gue engga akan berbicara lebih banyak lagi oke, dikarenakan gue lagi malu-malu sendiri untuk sekarang ini, tapi gue mau mengajukan beberapa pertanyaan kepada elu, hal apa yang telah membuat nada suaramu menjadi sehistris seperti ini Syah?" tanya Sultan dengan reaksi terkejutnya.


"Oke, tunggu gue Syah, ini sekarang gue mau berangkat ke tempat singgah elu, pokoknya elu jangan ke mana-mana dulu sebelum gue tiba di sana."


Sultan pun lalu bergegas pergi setelah dia mendengar ucapan dari Aisyah. Masalah ini bukan hanya akan menjadi suatu problem milik Sultan pribadi, siapa saja yang berhubungan langsung dengan para brandalan itu, semuanya akan kena resikonya, termasuk juga Aisyah.


....


Tak lama kemudian Sultan pun tiba di depan halaman tempat Aisyah singgah. Dia memarkirkan motornya tepat di hadapan raut wajah Aisyah.

__ADS_1


Sebelumnya Aisyah tak pernah melihat Sultan seserius itu, tentunya di sana Aisyah sangat takut, dikarenakan masalah yang sekarang ini bersangkutan dengan dia langsung.


"Ceritain masalahnya sama gue sedetail mungkin, kenapa elu bisa ada di sana, dan kenapa elu bisa tahu semua rencana yang tengah mereka buat itu, tapi benerankan elu engga apa-apa Syah? gue takutnya dia ngelukain elu lagi, pokonya awas aja kalau sampai gue melihat mereka benar-benar ngelukain elu! mereka akan tahu resikonya seperti apa bila mereka yang ngajakin main-main lebih dulu! jangankan ruangan rumah sakit, bahkan sampai peti mati pun akan gue berikan sebagai ruang tempat mereka untuk tertidur pulas nanti."


Tak hanya sampai di situ saja, tiba-tiba Sultan melihat ada seseorang yang sedang memperhatikannya di sana, lantas dia pun berlali ke arah orang tersebut, namun orang itu sadar bahwa Sultan tengah memperhatikannya.


"Woii, lagi ngapain lu bego di sana! kalau ada pesan yang ingin elu sampaikan kepada gue silahkan sampaikan saja, gue engga akan melukai wajah elu itu," teriak Sultan dengan seketika membuat orang tersebut itu berlari.


Sultan sempat mengejar orang yang berlari itu, tapi orang yang Sultan kejar berhasil lolos karena sebab di sana ada orang lain selain dia yang memang sengaja menunggu.


Sultan juga melihat dia melempar lembaran kertas yang di dalamnya berisi tulisan ancaman, namun Sultan sama sekali tak menakuti ancaman yang mereka berikan itu, dikarenakan orang yang bisanya hanya mengancam itu adalah contoh orang-orang pengecut.


..."Jangan bermain-main dengan orang-orang seperti kita! tunggu saja waktunya, dan bila waktunya telah tiba, maka apa yang kalian takutkan itu benar-benar akan terjadi tanpa kalian duga"....


Itu adalah isi tulisan dalam lembaran kertas milik musuh, apa yang mereka tulis hanya bisa membuat Sultan tersenyum jahat saja, dan ternyata mereka masih mau bermain-main dengan Sultan, memangnya para brandalan itu tak ingat tawa jahat yang sudah menghantui alam pikirannya pada saat mereka semua dikalahkan oleh rekan-rekan Sultan, bahkan Sultan pun masih mengingatnya hingga sampai sekarang ini, di mana wajah bonyok mereka, tundukan kepala mereka, serta seluruh tubuh yang bergetar itu memperlihatkan kelemahan mereka yang sesungguhnya.


"Ini ancaman dari mereka, kamu bisa melihatnya sendirikan, ternyata tulisan ini lebih jelek bila gue membandingkannya dengan tulisan yang gue buat sendiri," ucap Sultan sembari tertawa lepas seraya memberikan surat cinta dari para brandalan itu juga kepada Aisyah agar dia bisa melihat seberapa jelek tulisan yang dibuat oleh para brandalan itu.


Aisyah nampak bingung melihat Sultan begitu tenang dan sebegitu santainya merespon ancaman dari para brandalan itu tanpa sedikit pun Aisyah melihat ketakutan diraut wajah Sultan.

__ADS_1


__ADS_2