
"Bila sewaktu-waktu aku lupa siapa diriku yang sebenarnya, aku mau minta tolong sama kamu Tan, tolong ingatkan bahwa aku adalah pacarmu, dan hanya milikmu saja."
"Aku cuma takut bilamana nanti ketika aku benar-benar lupa siapa diriku yang sebenarnya ini, dan tanpa sengaja aku telah mengucapkan sebuah kalimat yang memang itu engga pernah kamu ingin dengarkan sebelumnya."
"Maka dari itu aku mau minta tolong sama kamu, tolong ingatkan aku bilamana aku melupakan janji yang selama ini sudah kita buat hingga sampai sejauh ini itu ya, Tan."
Ucapan yang begitu panjang mulai ke luar dari mulut Rere, entah kenapa dengan seketika dia melontarkan ucapan tersebut begitu saja, bahkan Sultan bingung, perasaan apa yang telah Sultan bahas sebelumnya sudah sangat jelas, bahwa Sultan lebih menyayanginya daripada seorang temannya.
"Kamu menyerahkan semua itu kepadaku seolah-olah aku itu adalah seseorang yang paling benar, justru sebaliknya Be, yang seharusnya mengingtkan aku ketika mana aku lupa siapa diriku itu adalah kamu."
Sultan tak mau kalah dengan Rere, ia menyalurkan pendapatnya juga, bahkan pendapat Sultan akan jauh lebih panjang dari pendapat yang Rere buat.
Berbincang di motor memang bukan suatu perkara yang cukup mudah juga untuk dilakukan, di mana telinga begitu sulit untuk merespon ucapan dari kedua pendapat itu secara jelas.
Apa yang mereka dengar sering kali meleset jauh ke mana-mana, misalkan Sultan bilangnya kenapa, dan Rere malah membalas ucapannya itu dengan kata-kata iya saja.
Sultan dan Rere memang sering terdiam, dan diamnya itu adalah rasa tak pahamnya mereka dalam mencerna semua ucapan yang telah mereka lontarkan itu.
Untung saja ada sosok hati yang masih bisa merasakan seberapa dalam ucapan yang mereka ke luarkan tersebut di jalanan sana.
__ADS_1
"Jadi begini, sosok seperti Rere bisa dibilang dia merupakan sosok pasangan yang paling sabar, dan bahkan rasa sabar yang kamu miliki itu lebih mengungguli rasa sabar yang aku punya sekarang," ucap Sultan sambil sesekali menatap raut wajah Rere.
"Aku hanya akan menjadi pengingatmu ketika mana kamu melupakan siapa penciptamu itu saja Be, dan selebihnya aku hanya berharap kamu akan sadar sendiri tanpa harus aku beritahu bahwa apa yang kamu perbuat terhadapku semuanya itu salah dimataku."
"Aku mungkin berpikir, bahwa selama ini apa yang kamu berikan kepadaku sudah cukup, dan kamu sama sekali tak pernah membuat suatu kesalahan sesering diriku."
"Sewaktu-waktu kamu akan berubah! tapi itu adalah hal yang takan mungkin sanggup untuk kamu lakukan Be, dikarenakan aku tahu kamu orangnya seperti apa, dan yang aku takutkan, yaitu ucapanmu akan berbalik kepadaku Be, jadi aku mohon sama kamu, tolong bimbing aku dengan sikap sabarmu agar aku tak salah arah dalam mencintai sosok bidadari seperti dirimu ini."
"Pesan terakhirku untukmu, aku sayang kamu, tetaplah menjadi sosok Rere yang aku kenal seperti ini ya, jangan pernah kamu merubahnya hanya karena rasa sayangku terhadapmu ini dari waktu-kewatu sering bertambah lebih cepat dari hari sebelumnya."
Rere menatap kaca spion motor Sultan, dia mengangguk kurang lebih dua kali anggukan seraya menatap raut wajah Sultan juga di sana.
....
Beberapa jam telah berlalu, tepatnya pada pukul 10 malam, di mana mereka telah memasuki kawasan Kota Sukabumi, dan takan lama lagi mereka juga akan segera tiba di dalam rumah Rere.
Yang pastinya Sultan akan masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya sebentar saja untuk memastikan apakah nanti ibunya akan memarahi dia ataupun malah sebaliknya.
Terlihat ibu Rere tengah menunggu Rere di depan teras rumah sambil menggendong anak bungsunya yang belum tertidur.
__ADS_1
Sultan dan Rere mengucapkan salam bersamaan, beliau sempat terkejut, dikarenakan Sultan benar-benar mengantarkan anaknya sampai rumah.
"Assalamu'alaikum, mamah sehat? maaf ya, kerena selama dua Minggu ini Sultan engga bisa jagain anak mamah serta datang menemui mamah juga di sini," ucap Sultan dengan lembutnya sambil mengecup tangan ibunya itu di depan teras rumah.
"Wa'alaikum Salam, alhamdulillah Tan, seperti yang kamu lihat sekarang, kita semua baik-baik aja di sini tanpa sakit sedikit pun, kalau anak mamah yang satu ini bagaimana? sehat juga kan pastinya, seharusnya Sultan engga perlu tuh mengatarkan Rere hingga sampai ke Sukabumi," ucap beliau sama lembutnya dengan cara Sultan menyapa ibunya itu di sana.
"Sebelumnya Rere juga udah sempat bilang ke dia kalau dia boleh mengantarkan Rere hanya sampai stasiun aja, tapi ternyata dia malah mengantarkan Rere hingga sampai ke rumah ini, padahal dia bilang hanya sampai Bogor, tapi yang ada dia malah ngeyel untuk tetap mengantarkan Rere sampai Sukabumi," ucap Rere sambil menatap raut wajah prianya itu dengan tatapan manisnya.
"Sultan cuma takut kalau nanti anak mamah ini mengalami suatu hal yang emang hal tersebut engga pernah Sultan inginkan sebelumnya, maka dari itu Sultan lebih memilih untuk tetap mengantarkan anak mamah ini pulang hingga sampai ke Kota Sukabumi."
Alasan Sultan memang tak salah, namun beliau mengira bahwa dia terlalu memaksakan dirinya sendiri demi untuk melihat seorang Rere baik-baik saja.
Beliau menyuruh Sultan untuk masuk ke dalam rumahnya sebentar saja, tapi dengan berat hati Sultan menolak ajakan dari ibunya itu, dikarenakan ini bukan waktu yang tepat untuk bertamu dan bersinggah di dalam rumahnya walaupun itu hanya sesaat saja.
Seperti biasa Rere mengantarkan Sultan ke depan gang rumahnya terlebih dahulu sebelum dia benar-benar beristirahat di dalam rumahnya.
"Yaudah, aku pulang dulu ya, Be, hati-hati di jalan, dan ingat satu hal lagi! jangan lupa sebelum tidur ambil air wudu, terus udah itu gelar sajadah, pakai mukenanya, dikarenakan kamu belum melaksanakan ibadah salat isyamu di sini," ucap Sultan sambil menatap raut wajah Rere dengan manisnya.
"Engga salah tuh! seharusnya kamu yang hati-hati di jalan pulang Be, dan kamu juga jangan sampai melupakan ibadah salat wajibmu itu juga tuh di dalam rumahmu nanti, salam untuk mamah, bilangin ucapan terima kasih aku ini karena dia telah membesarkanmu hingga aku bisa bertemu denganmu setelah dewasa seperti ini," ucapan Rere ternyata lebih lembut bila dibandingkan dengan ucapan Sultan.
__ADS_1
Sultan mulai menyalakan motor tuanya, dan setelah itu dia pun pergi meninggalkan Rere di belakang sana sendirian. Sebelumnya Rere sempat melambaikan tangannya di hadapan Sultan langsung, Sultan pun membalas lambaian tangannya itu dengan senyuman manisnya.