Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 288 : Menceritakan sosok putih


__ADS_3

"Hayo, diem lu! makanya jangan sok bijak lu bego! yaudah ah gue mau mandi dulu, mendingan sekarang elu bantuin gue berdiri aja Dim, masalah ini biar gue yang atur semuanya, dan elu pada tinggal ikutin saran dari gue aja oke Bre," ucap Sultan yang lalu dia pun meyeruput susu jahe terakhirnya itu hingga habis.


Setelah Sultan bangkit dari tempat duduknya itu, Dimas dan Azmi pun lalu mengantarkan Sultan hingga masuk ke dalam toilet, namun pada saat itu mereka berdua malah ikut-ikutan masuk ke dalam toilet.


Entah kenapa mereka berdua masih saja berdiam diri di dalam sana sampai Sultan dibuat bingung oleh kedua temannya itu.


"Woii, bego! elu berdua kenapa masih diam aja di sini, yaudah sana pergi sebelum gue siram wajah kalian berdua pakai air panas ini, mau hah?".


Di dalam sana Sultan sudah siap menyiram kedua wajah temannya itu, namun dia hanya akan menyiram mereka dengan air dingin yang sudah dia siapkan di dalan gayungnya, dan bila mereka masih tetap kukuh, maka dia akan menyiram kedua wajah temannya menggunakan air panas yang berada di dalam ember kosong itu.


"Jangan takut Tan, kita berdua bakalan jagain elu kok, kita cuma takut aja elu jatuh Tan, sementara itu kondisi elu juga belum benar-benar pulih seutuhnya, makanya kedua teman elu ini akan tetap berada di dalam sini hingga elu selesai membasuh semua luka darah elu ini Tan," ucap Azmi dengan seketika membuat Sultan geli-geli sendiri.


"Azmi benar Tan," ucap Dimas singkat.


"Ahh, gila lu! emangnya gue bocah apaan! sana pergi sebelum air panas ini gue tumpahin semuanya ke arah wajah elu berdua," ucap Sultan sambil menyiramkan air dingin yang berada di dalam ganyungnya itu.


Kedua temannya akhirnya pergi juga dari dalam sana setelah Sultan menyiramkan air yang berada di dalam gayungnya itu tepat mengenai kedua wajah mereka.


Wajah mereka dan juga baju mereka semuanya basah gara-gara Sultan menyiramnya. Mereka pun mengganti semua bajunya yang basah itu, dan untung saja baju yang tengah mereka gunakan sudah basah dari awal, jadi mereka berdua tak merasa keberatan bila Sultan menyiramnya lagi.

__ADS_1


Mereka semua kini menunggu Sultan di ruangan tengah sampai Sultan ke luar dari dalam toilet. Berhubung pergerakan Sultan yang sekarang begitu lambat, jadi rekan-rekannya lebih memilih untuk bermain game online secara bersamaan terlebih dahulu.


Mereka tahu bahwa Sultan membutuhkan banyak waktu di dalam sana agar dia dapat membersihkan semua luka darahnya sampai bersih hingga yang terlihat hanyalah luka bekas baretnya saja.


Setelah khawatiran mereka menghilang, kini mereka semua tersadar bahwa mereka ingin menanyakan sosok putih yang sempat mereka lihat di jalan sepi tadi kepada Sultan.


"Ohh, iya Bre, elu ingat kagak sosok putih yang ada di samping Sultan waktu itu?" tanya Azmi membuat semua temannya sadar, bahwa yang dia lihat dapat mereka lihat juga.


"Gue pernah dengar cerita singkat dari si Sultan, katanya kakek dari ayah si Sultan dulu meninggal ketika si Sultan lahir, apakah sosok tersebut ada hubungannya dengan dia ya, gue engga mau asal bicara dulu Bre, soalnya gue takut salah," ucap Dimas membuat semua temannya penasaran.


....


Dimas tak ingin bercerita panjang lebar, namun temannya tetap memaksa dia untuk menceritakan semua kisah yang ada dikehidupan Sultan saat ini.


Sebenarnya Dimas takut bilamana nanti ada ucapan yang salah dia ucapkan, dan dia takut sosok putih tersebut akan datang menghampirinya serta menghantui alam pikirannya.


"Kayaknya sosok tersebut baik Dan, elu engga lihat apa waktu kita datang ke sana, tiba-tiba saja sosok tersebut tersenyum kepada kita, gue rasa senyuman itu bukan sebuah senyuman jahat dah, bahkan pada saat gue melihat senyuman itu tiba-tiba saja hati gue merasa adem dah sumpah," ucap Alam membuat semua temannya merasakan hal yang sama dengannya.


"Almarhum kakeknya dulu sangat ingin melihat Sultan tumbuh menjadi anak dewasa, namun waktu itu gue engga sempat mendengar satu patah kata lagi dari Sultan, dikarenakan waktu itu tetesan air matanya tanpa sengaja terjatuh di hadapan gue," ucap Dimas membuat hatinya agak sedikit tersentuh ketika dia mengingat sikap Sultan pada saat itu.

__ADS_1


Semua temannya terdiam, mereka semua berpikir bilamana hal tersebut dapat mereka rasakan, maka mereka pun dapat merasakan perasaan yang sama dengan Sultan.


Ketika Dimas menceritakan cerita singkat yang pernah dia dengar dari mulut Sultan itu seperti apa, mereka semua tiba-tiba mengundurkan niatnya untuk menanyakan hal yang telah mereka lihat sebelumnya di jalanan sepi itu.


"Kayaknya waktunya kurang tepat dah Bre, bilamana kita semua menanyakan siapa sosok putih itu kepada Sultan untuk sementara waktu ini," ucap Azmi sambil menundukan rendah kepalanya di hadapan semua temannya.


Namun, saat itu Sultan sempat bersembunyi di balik tembok pembatas antara ruangan tengah dengan ruangan toilet, dan waktu itu Sultan juga sempat mendengar semua ucapan dari mulut teman-temannya itu di sana.


Lantas Sultan pun menghampiri semua temannya dan dengan perlahan dia duduk bersama dengan mereka di ruang tengah.


"Ehh, udah selesai lu Tan, mandinya? kenapa elu engga bilang sama kita dulu kalau elu udah selesai membersihkan semua luka elu itu, dan sekarang elu mau minta apalagi sama kita Tan? elu mau langsung makan apa mau membahas soal rencana kita ini?" tanya Dimas terlihat tengah berbasa-basi di hadapan Sultan karena dia takut temannya itu mengetahui pembicaraan mereka di sana.


Sultan menghela napas panjang, dan dia pun tak ingin berbasa-basi lagi di hadapan mereka semua dikarenakan dia sudah mendengar pembicaraan mereka di sana.


"Sebenarnya gue ingin sekali melihat wujud asli dari sosok putih itu seperti apa Bre, namun sayangnya sosok tersebut engga pernah muncul di hadapan gue secara langsung, bahkan disaat gue masih kecil, sosok putih yang kalian bicarakan itu engga pernah mau menampakan wujudnya di hadapan gue."


"Padahal hal tersebut adalah hal yang ingin gue lihat, orang tua gue pernah berkata bahwa beliau adalah sosok pria tanggung, baik, murah senyum, dan dermawan."


"Maka dari itu gue ingin sekali menuruti sikap beliau, dan akhirnya gue bisa melakukannya, namun sayangnya beliau wafat setelah gue lahir, dan wafatnya beliau memiliki sebuah kesamaan di Bulan dan di Tahun yang sama pada saat gue dilahirkan, yakni pada Bulan Januari 2002."

__ADS_1


__ADS_2