
Duarr ....
Suara itu adalah suara pintu yang ditendang oleh Sultan, dan tendangannya itu juga sempat membuat salah satu tubuh teman Aisyah terpental cukup jauh.
Saat itu teman Aisyah tengah menutup pintu kontrakannya, tapi dengan seketika di sana Sultan malah membukanya lagi dengan tendangannya tersebut sampai membuat si penutup pintu itu terpental hingga ke arah belakang.
Pria itu terkejut, dan sekarang dia hanya bisa duduk terdiam sambil berpikir apakah orang-orang itu adalah sekumpulan para brandalan yang sempat menodongnya.
"Widih ... ada jagoan nih, ampun Bang! kita engga berani sama abang seriusan, tapi kalau emang itu kemauan abang-abang semua, kita juga engga bisa tinggal diam Bang, pokoknya jangan salahkan kita bilamana wajah tampan abang-abang ini pada bonyok semuanya."
Ucapan dari teman Aisyah itu hanya membuat Sultan tertawa tipis saja, dan ternyata orang-orang lemah seperti mereka juga masih bisa mengancam sosok serigala yang bringas di sana.
Padahal Sultan tahu bahwa orang-orang seperti mereka itu bisanya hanya bermain dengan kata-katanya saja, sementara mentalnya tak sebesar dengan ucapannya.
Krakk, krakk ....
Suara itu adalah suara dari leher yang Sultan gerakan ke dua arah yang berlawanan, hingga mana lehernya yang sekarang terasa lebih ringan saja bila Sultan bandingkan dengan menit yang lalu sebelum dia menggerakannya.
"Gue engga salah dengarkan! orang-orang seperti kalian ternyata bisa membuat lelucon semenggelikan ini juga, elu semua engga sadar apa hah, orang-orang yang ada di hadapan kalian ini semuanya adalah sekumpulan serigala yang haus akan darah."
__ADS_1
"Mereka itu adalah orang-orang yang memegang erat sebuah tindakan, dan asalkan kalian semua tahu aja, bahwa teman-teman gue ini tidak suka berbasa-basi, apalagi sampai beradu argumentasi."
"Hal tersebut adalah hal yang membosankan, jadi kalian semua tahukan apa maksud kita semua datang ke sini! ya, dikarenakan kita ingin menyampaikan sebuah salam dari hati yang sudah elu semua sakiti."
"Hitungan mundur dimulai ... satu, dua, tiga."
Dengan seketika Sultan memukul wajah teman Aisyah pada saat dia melontarkan ucapan yang terakhirnya itu. Dan ternyata memang benar, ucapan teman Aisyah tak sebanding dengan mentalnya, makanya orang-orang itu lebih memilih untuk berdiam diri, sementara Aisyah tengah berjuang seorang diri untuk melindungi dirinya sendiri.
Bukk ....
Suara pukulan Sultan membuat semua teman Aisyah terdiam, dan untung saja pria yang sempat dia pukul itu adalah orang yang tepat, di mana orang itu adalah pria yang telah membuat Aisyah menangis.
Kini Sultan tidak perlu lagi menyimpan perasaan bersalahnya, dikarenakan dia telah memukul orang yang tepat, dan orang itu juga harus membayar semua air mata yang jatuh itu dengan hukuman yang setimpal.
Ucapan yang ke luar dari mulut Sultan itu merupakan sebuah cerminan hidup bagi mereka semua, dan apa yang dia ucapkan itu adalah sebuah pengingat bahwa mereka hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan mereka hidup untuk orang-orang yang mereka cintai juga.
Dan terkadang seorang teman memang selalu dijadikan tempat pelampiasan saja disaat mereka sedang sendiri, tapi seorang teman yang baik takan pernah meninggalkan temannya, meskipun mereka tak saling memahami, namun akan tetapi kebersamaan itu adalah titik di mana tawa dan canda dapat mereka rasakan seberapa nyaman mereka duduk di zona itu sekarang.
....
__ADS_1
"Gue engga berharap orang-orang seperti kalian ada dibarisan gue, dan gue hanya membutuhkan orang yang benar-benar tahu apa itu arti dari sebuah pertemanan, dan arti dari saling melindungi satu sama dengan yang lainnya."
"Asalkan elu tahu aja, kedatangan kita ke sini itu bukan untuk mencari masalah dengan kalian semua, dikarenakan teman-teman gue adalah sekumpulan orang-orang yang cinta akan kedamaian, bukan cinta terhadap kerusuhan."
"Sampai kapan pun gue engga akan membiarkan elu semua bertingkah semau kalian, apalagi sampai kalian melukai hati teman-teman kalian sendiri, bila hal tersebut sampai terjadi lagi, elu semua udah tahukan resiko yang akan elu semua terima seperti apa? hari ini kalian lolos, tapi tidak dengan hari-hari yang akan datang, bila elu semua tetap bertingkah semau kalian, maka rumah sakit akan menjadi tempat kalian untuk tertidur pulas."
"Tugas gue di sini udah selesai, gue beserta teman-teman gue izin pamit dulu, Assalamu'alaikum," ucap Sultan sembari pergi meninggalkan tempat persinggahan mereka.
Dengan serentak mereka pergi dari dalam ruangan tersebut, hingga pada akhirnya mereka bisa bertemu lagi dengan teman-teman Aisyah.
Sebenarnya Alamsyah sangat kecewa, dikarenakan Sultan tidak memberikan izin untuknya memukul semua teman-teman Aisyah di dalam sana.
Sultan tahu, bila dia membiarkan semua temannya itu ikut campur, maka yang ada teman-teman Aisyah bisa dibuat babak-belur oleh mereka.
Sultan memang sengaja membiarkan tenaga teman-temannya itu tetap utuh agar nanti mereka semua dapat berkelahi semau mereka, dan terlebih ancaman itu entah akan berjalan kapan, hanya saja waktu itu pasti akan berjalan di malam hari, namun serangannya masih tak dapat dipastikan pukul berapanya, tapi yang terpenting bagi mereka sekarang adalah bersiap siaga hingga waktunya telah tiba.
"Udah selesai Tan, apakah kita semua boleh pergi sekarang? soalnya situasi di luar sini masih belum aman, bila kita terus-menerus berdiam diri di sini, yang ada para brandalan itu akan kembali berulah lagi," tanya Dimas yang terlihat begitu mengkhawatirkan keselamatan para wanita-wanita itu di sana.
"Udah Dim, gue juga berpikiran hal yang sama seperti elu tadi, lebih baik elu semua anterin mereka sampai tempat tujuan," ucap Sultan begitu lega karena nanti rekan-rekannya akan bertambah semakin banyak lagi.
__ADS_1
Rekan yang Sultan maksud itu adalah teman-teman Aisyah dan juga teman-temannya yang ada di Sukabumi. Sultan berniat memanggil seluruh temannya itu dikarenakan dia tahu bahwa teman-temannya yang berada di Sukabumi pasti akan senang mendengarkan sebuah kabar yang bertentangan langsung dengan perkelahian.
Setelah Sultan memukul teman-teman Aisyah itu, dengan seketika dia melihat tatapan penuh keberanian dari raut wajah mereka semua, dan mungkin nanti malam mereka akan datang ke tempat persinggahan Aisyah? ataupun esok hari, yang jelas Sultan mengetahui pasti bahwa mereka semua akan datang untuk memberikan semua tenaganya itu demi membantu menyelesaikan semua masalah yang tengah sosok Aisyah hadapi sekarang.