Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 149 : Sisi kepribadian


__ADS_3

Tertuju kepada Rere yang masih setia menunggu sosok pria berwajah sederhana, namun dia memiliki banyak sekali sisi kepribadian yang bisa dibilang sering berubah-ubah disetiap waktu berjalan.


Sifat menyebalkannya, hingga berubah menjadi manis dengan seketika cepatnya, itu adalah suatu rasa sayang yang selalu ia berikan kepada Rere.


Disetiap saat ia berkata cantik kepadanya, dan yang pastinya dia akan selalu tersipu malu. Berpura-pura menyembunyikan raut wajahnya itu dari pandangan Sultan, padahal Sultan selalu berpikir bahwa Rere akan merasa sangat senang bilamana prianya bersikap manis seperti itu kepadanya.


Mungkin waktu kepulangan Sultan takan lama lagi akan segera tiba. Rere sudah menunggunya di sana dengan sangat lama sekali.


Dia berharap Sultan akan menggenggam ponselnya itu sebentar dan sesaat saja, untuk mengingatkannya bahwa dia masih setia menunggunya tanpa lelah, tanpa merasa bosan sedikit pun.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara alarm Perusahaan akhirnya telah menyala, itu tandanya Sultan sudah boleh pulang. Pada saat ia pergi pulang menuju kosan, Rere sudah menunggu dirinya di dalam rumahnya itu di sana.


"Pulang juga dia akhirnya, kesian banget dah dia! udah jauh dari gue, udah jauh dari kedua orang tuanya, udah itu pulang juga sesore ini lagi, andai saja elu PKL di sini Tan, mungkin setiap saat gue mau masakin makanan untukmu," ucap Rere berbicara seorang diri, yang di mana dia berharap Sultan mendengarkan ucapannya itu.


Sultan berbicara dalam hati, ternyata suara raungan motor tadi itu, ternyata adalah suara dari ponsel miliknya.


Ia pun sempat mendengar ucapan manis dari Rere, dan lantas Sultan pun membalas ucapannya dengan begitu manisnya.

__ADS_1


Nada suara rendahnya itu adalah ciri khas yang selalu ia berikan kepada Rere bilamana ia ingin mengucapkan kata maaf kepadanya.


"Wahh ... kayaknya enak tuh Re, ngomong-ngomong gue kangen sama masakan elu itu dah, pokonya nanti kalau gue udah pulang dari sini elu harus masakin makanan kesukaan gue ya," Sultan membalas ucapan dari Rere, dan apa pun yang sekarang tengah dia harapkan itu, akhirnya terbalaskan juga.


Rere menutup mulutnya di sana, pipinya pun mulai memerah muda, menandakan kini dia tengah merasa malu kepada Sultan akan ucapan yang tadi dia berikan itu ternyata dibalas olehnya.


"Kok, senyap sih Re? kamu masih ada di sana kan? atau jangan-jangan elu cuma mau menguji seberapa baik tingkat kepekaan gue terhadap suara panggilanmu yang masih menyala ini kan?" Sultan benar-benar membuat Rere tak bisa berkata apa-apa lagi selain menahan rasa malunya itu.


Disepanjang jalan, Sultan berbincang bersama dengan Rere yang masih berteleponan lewat panggilan suara.


Untuk sekarang, Sultan bersama dengan seluruh temannya pulang ke kosan hanya bisa berjalan kaki saja, mungkin nanti mereka semua akan membawa motornya itu masing-masing sebagai sarana alternatif untuk menghemat uang jajannya juga.


Rere pun menyuruh Sultan untuk membawa motornya saja, lagian itu juga buat kebaikan Sultan sendiri, selain hemat dalam berkendara, dia pun bisa pulang lebih cepat, maupun itu pulang ke kosan, ataupun itu pulang ke rumahnya kembali.


"Engga kok, Re, ini semua emang kemauan kita, tapi mungkin ini semua ibaratkan aku mencintai kamu, yang di mana aku takan pernah merasa lelah, ataupun cape, dikarenakan besarnya cinta ini sudah seperti aku memelukmu, lelah dan letihnya tidak terasa, namun nyamannya sungguh sangat terasa."


....


Lagi-lagi, Sultan membuat Rere tersenyum, tapi sayangnya ia tak dapat menyaksikan senyumannya langsung, mungkin bilamana ia dapat melihatnya secara jelas, maka ia pun akan tersenyum sama seperti wanitanya itu.

__ADS_1


"Apaan sih elu Tan! engga jelas dari tadi siang dah! padahal kalau mau bilang rindu bilang aja, engga usah malu-malu kayak gitu ah," Rere memang polos, dia membercandai orang yang salah, sudah itu dia pun malah tertawa-tawa tidak jelas lagi.


"Kamu engga akan tahu Re, seberapa besar rindu gue saat ini kepadamu, mungkin kalau dibandingkan dengan puncak tertinggi dunia, seperti hal nya gunung Everest, gunung tersebut sudah tidak ada apa-apanya, mungkin juga bisa dibandingkan dengan tingkat kedalaman palung Mariana, itu juga belum sedalam rindu gue padamu ini Re."


Candaannya itu memang tak main-main, pantas saja Rere selalu mengalah bila soal urusan yang seperti ini, mungkin Rere takan pernah bisa membuat prianya tertawa lepas, namun bila soal urusan membuatnya tersenyum lebar, Rere jagoannya.


"Gue engga bisa Tan! gue lemah dan gue buta bila disuruh untuk melakukan hal yang sangat melucukan seperti ini," ucap Rere yang dengan lepasnya tertawa kepada Sultan, bahkan dia pun tak bisa menahan senyumannya itu kepada Sultan.


Semakin banyak senyuman itu hadir, semakin banyak pula pahala yang masuk ke dalam kehidupan mereka berdua.


Ternyata seperti inilah cinta, sungguh sangat mengasikan bilamana percakapan tak berhenti sampai di sini saja.


Sultan kembali berpikir, sepertinya tak ada wanita yang dapat membuatnya luluh selain Rere. Dia adalah satu-satunya wanita yang dapat membuatnya merasakan arti dari sifat nyaman, arti dari sifat rindu, serta arti dari sifat takut akan kehilangan sosoknya itu seperti apa.


"Banyakin belajar ya, biar sifat gue nurun sama elu, tapi nanti kalau udah nurun, jangan terlalu menyebalkan ya, soalnya elu bukan ahlinya bersikap seperti itu," ucapnya, yang padahal dia sangat takut bila nanti Rere mewarisi sifat menyebalkannya itu, maka mungkin dia pun tak lebih akan sama menyebalkannya seperti Sultan yang sering menutup sebuah panggilan telepon suara, bilamana seseorang dari mereka ada yang berkata tidak.


Kata tidak itu sebenarnya hanya sebuah candaan, bila ia berkata kepada Rere, apakah dia merindukan dirinya saat ini, dan bilamana Rere menjawab jujur pertanyaan darinya, maka panggilan suara itu masih akan tetap terus menyala, tapi bilamana dia menjawab tidak, maka dengan sangat terpaksa ia akan mematikan panggilan suara telepon tersebut.


Ia sedang berusaha mengajarkan Rere untuk selalu berkata jujur bila soal urusan hati, pertanyaan sesimpel, dan sesingkat itu pun dia masih bisa berbohong kepadanya, apalagi bila soal urusan hati yang terluka, mungkin dia takan pernah bisa menceritakannya kepada Sultan.

__ADS_1


Maka dari itu, Sultan sering mengingatkannya bahwa dia harus selalu berkata jujur, dikarenakan dia adalah pria yang tak suka dibohongi, apalagi yang berbohong itu adalah orang-orang terdekatnya.


"Tujuan gue itu ya, untuk menyaingimu Tan, masa elu engga mau melihat gue semenyebalkannya sepertimu sih Tan," Rere tersenyum jahat, dan dia telah berpikir bahwa apa yang Sultan takutkan itu adalah dia akan menyamai sifat buruk Sultan, yang selalu mematikan suatu panggilan apa pun dengan seketika tanpa sebab.


__ADS_2