Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 243 : Jangan pernah melupakannya


__ADS_3

"Sebenarnya itu bocah berdua pada ke mana dulu sih! diteleponin kagak diangkat-angkat, dichat apalagi, engga ada balasan sama sekali dari mereka berdua, padahal gue udah sempat bilang agar mereka tidur di rumah gue aja, tapi mereka tetap kukuh ingin pulang dari sini."


Terdengar dari nada suaranya, di mana sekarang Dimas tengah terbingung-bingung sendiri melihat kedua temannya itu masih belum ada yang datang ke rumahnya.


Sementara Sultan di sana hanya bisa menatap jam tangannya itu saja berkali-kali sembari memastikan juga apakah ada panggilan telepon suara dari Rere.


Sebenarnya Sultan pun sama seperti Dimas, di mana ia juga tengah dilanda kebingungan, dari tadi pagi hingga sampai saat ini Rere masih belum mengabarinya.


"Lu lagi bingung? gue juga sama lagi bingung ini Dim, dari tadi pagi dia engga nelepon-nelepon gue lewat panggilan apa pun, yaudahlah lebih baik kita berangkat duluan aja gimana Dim? siapa tahu dua bocah itu bakalan nelepon elu balik," ujar Sultan mulai bergerak dari tempat duduknya sambil melentangkan tubunya itu juga dengan lepasnya.


"Engga biasanya mereka ngaret seperti ini dah, kalau begitu gue panggil ibu gue dulu ya, Tan, elu tahu sendirikan perasaan seorang ibu gimana bila kita tiba-tiba pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadanya," ucap Dimas mulai bangkit dari tempat duduknya sambil masuk ke dalam rumahnya.


Tak lama kemudian ibu Dimas datang, lantas Sultan pun berpamitam kepada beliau dan lalu Sultan juga mengecup tangan beliau sama seperti Dimas.


Namun, pada saat mereka akan pergi meninggalkan rumah, tanpa mereka duga akhirnya Azmi datang juga, tapi anehnya dia hanya datang seorang diri tanpa ada Wildan di sana.


Dimas bertanya kepada Azmi bahwa Wildan ke mana, bukannya semalam itu setelah mereka berdua pulang dari rumah Dimas, mereka Wildan sempat menyuruh Azmi beristirahat di rumahnya saja.


"Kok, elu datang sendirian Mi, emangnya si Wildan ke mana? bukannya selamam elu nginap di rumah dia, ya, tapi sekarang dia ke mana?" tanya Dimas penasaran.

__ADS_1


"Biasalah, knalpot motornya bocor lagi, jadi dia harus pergi ke bengkel dulu, kata dia kita pergi duluan aja, nanti dia nyusul ke rumah Alam," jawab Azmi kepada Dimas terlihat santai-santai saja, padahal mereka berdua sudah sangat lama menunggu kehadirannya di sana.


Alamsyah sudah memberi sinyal kepada semua temannya agar mereka segera datang, berhubung waktu perjalanan ini takan berjalan sesingkat yang mereka harapkan, jadi sebisa mungkin mereka harus segera tiba di rumah Alam.


Bilamana mereka menunggu waktu lebih lama lagi, jalanan di hari Minggu ini pastinya akan lebih ramai, dikarenakan itu adalah hari yang sangat tepat untuk digunakan sebagai hari berlibur.


Mereka semua telah berkumpul di rumah Alamsyah, tapi di sana hanya Wildan saja seorang yang belum berkumpul bersama dengan mereka di sana.


"Dim, mendingan sekarang elu telepon si Wildan, kalau sampai lima menit terakhir ini dia masih belum sampai juga, dengan sangat terpaksa kita harus tinggalin dia di sini, soalnya hari Minggu kemarin juga kita semua pun dicegat oleh kemacetan, belum di Cibadak, belum lagi di Bogor, pokonya nanti suruh dia ngejar kita aja," ujar Alamsyah satu pemikiran denagan semua temannya di sana.


Dan seperti yang pernah Dimas bilang sebelumnya, di mana dia lebih suka merespon ucapan seseorang dengan tindakannya, maka dari itu dia pun langsung menelepon temannya yang bernama Wildan itu tanpa mau menunggu waktu lebih lama lagi.


Kringg, kringg, kringg ....


Ponsel Wildan berbunyi, namun sayangnya panggilan telepon suara dari Dimas itu sama sekali tak mendapatkan respon apa pun dari Wildan, lantas Dimas mencoba menelepon dia untuk yang kedua kalinya.


Panggilan telepon suara yang kedua membuat Wildan sadar bahwa handphonenya berbunyi. Dia menjawab panggilan tersebut, dan apa yang Dimas ucapkan, itu tak menjadi suatu masalah baginya.


"Ke mana aja lu bolot? dari tadi gue teleponin juga, udah beres belum motor lu itu Dan, kita semua udah nunggu elu dari pagi, gimana kalau elu nyusul kita nanti?" tanya Dimas sambil menggunakan sarung tangannya, dikarenakan dia dan semua temannya akan segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Oke, nanti gue nyusul kalian? pokoknya kalian tungguin gue di terminal Cibadak aja, ini juga sebentar lagi kelar, setelah selesai, gua langsung berangkat," ucap Wildan dengan santainya menyuruh semua temannya untuk pergi lebih dulu meninggalkannya.


Panggilan telepon suara dimatikan, setelah mereka mendengar kabar dari Wildan, akhirnya mereka semua dapat pergi dengan perasaan damai tanpa harus memikirkan perasaan temannya itu akan seperti apa nantinya, apakah dia akan marah, ataupun malah sebaliknya, takan marah sama sekali.


"Ayo Bro, kita berangkat, nanti kita tungguin dia di terminal Cibadak aja," ucap Dimas kepada semua temannya.


"Titik pemberhentian dan titik peristirahatan kita semua sebenarnya ada di Bogor, kita engga bisa nunggu dia di terminal Cibadak, lebih baik kita nyicil di jalan aja gimana?" tanya Alamsyah yang memang dia juga takut bila perjalanannya ini akan berjalan seperti hari kemarin.


"Benar Bro, kita nyicil-nyicil sedikit aja, lagian si Wildan itu pasti bisa ngejar kita, diakan anak motor sejati, engga akan ada yang engga mungkin bagi dia untuk mengejar lajuan motor kita semua," ujar Azmi berpendapat hal yang sama seperti Alam, di mana dia pun mengikuti Dimas berjalan ke luar ruangan sembari menggunakan sarung tangannya juga.


"Oke, kita berangkat sekarang. Ohh, iya Lam, ke mana orang tua elu, kita harus pamitan dulu sebelum pergi bergerak, sama sekalian minta doa restu dari mereka juga agar perjalanan kita semuanya dilancarkan," ucap Sultan sembari menggunakan sarung tangannya juga di dalam ruangan rumah Alamsyah.


Alamsyah mengangguk, dia pun lalu menghampiri kedua orang tuanya agar ayah dari Alamsyah memberikan beberapa lantunan doa untuk mereka semua.


Doa bersama telah selesai, dan mereka semua pergi dari dalam ruangan rumah. Sebelumnya ayah Alamsyah sempat berbicara sedikit kepada teman-teman anaknya itu bahwa beliau selalu mendoakan kesehatan mereka semua di sana.


"Bapak doain, semoga nanti kalian bisa menjadi anak-anak yang sukses di dunia dan maupun itu di akhirat juga ya, pokoknya ingat pesan bapak ini, kalian jangan pernah sesekali melupakan ibadah salat wajibmu itu di sana, dikarenakan dengan hanya melakukan ibadah salat wajib tersebut, berarti kalian masih mengingat siapa beliau."


Itu adalah ucapan terakhir yang ke luar dari mulut beliau, dan apa yang beliau ucapkan itu mengarah kepada satu arah, yakni Allah, jangan pernah melupakan perintah baiknya sedikit pun, walaupun dalam keadaan lelah, bilamana mereka mengingatnya, rasa gundah dalam hati akan selalu terobati.

__ADS_1


__ADS_2