Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 237 : Pria sederhana


__ADS_3

"Dasar temen kampret! perhitungan beut dah elu Tan, sama temen sendiri ini, kasih ruang dikit buat gue menyalurkan inspirasi gue kenapa Tan," ujar Maulana masih saja kukuh dengan pendapatnya yang salah itu.


"Sini, balikin rokok gue yang elu hisap itu Ul! bisa-bisanya elu bilang gue perhitungan! padahal selama ini engga ada pepatah yang menyebutkan sebuah inspirasi itu adalah tindak keburukan," ujar Sultan yang langsung mengambil rokok ditangan Maulana itu.


Sultan membuang rokok tersebut tepat di hadapan Alamsyah, dan ia menyuruh Alam untuk mematikan rokoknya itu dengan cara apa pun asalkan rokok tersebut mati.


Alamsyah mematikan rokok Maulana sembari menggerutu entah kepada siapa, namun dia terlihat begitu asik-asik sendiri bila Sultan memperhatikannya.


"Mati, mati, mati, udah Tan, rokoknya udah mati, mau sekalian sama si Maulananya juga kagak? kalau perlu gue bisa langsung bergerak nih sekarang," ucap Alamsyah sembari mematikan rokok Maulana dengan cara menepuk-nepuk rokok tersebut menggunakan tangan kanannya.


Sebenarnya Alamsyah berani menepuk-nepuk rokok itu setelah dia mematikan rokoknya. Di sana Alam menyuruh temannya yang bernama Dimas untuk memegang kedua tangan Maulana, dikarenakan dia orang yang memiliki postur tubuh yang paling besar.


"Ingat kata-kata teman gue yang bernama Sultan ini, apa yang sekarang kita miliki itu, semuanya adalah hasil dari usaha kita sendiri, apa mungkin kita akan menyia-nyiakan hasil yang sudah kita dapatkan ini begitu saja, hanya demi usaha yang baru lagi, elu rela meninggalkan usaha yang sudah membuahkan hasil itu demi mencari usaha lain yang belum tentu usaha itu akan membuahkan hasil yang sama seperti yang sudah kita kejar sebelumnya."


Ternyata Alamsyah masih mengingat kata-kata Sultan itu, dan terlebih dia mengucapkannya secara jelas tanpa ada satu buah kata yang dia lewatkan.


Sultan menggeleng-gelengkan kepalanya, dikarenakan ia terkejut kagum melihat Alamsyah mengurangi beban pekerjaannya yang sekarang ini untuk mengingatkan semua temannya agar selalu terfokus terhadap satu usaha yang telah membuahkan hasil yang baik itu.

__ADS_1


Tanpa Alamsyah sadari ternyata ucapannya itu sempat direkam oleh Yogi, dia memutar ulang rekaman video tersebut agar dia dapat memahami dengan jelas apa arti dan maksud dari kata-kata yang Sultan ucapkan kepada Alamsyah itu.


Yogi membuat status yang bertentangan dengan rekaman video dari Alamsyah itu, tak lupa dia pun mengirimkannya juga ke berbagai grup Whatsapp, terutama grup kelas.


"Lam, elu sama si Sultan kayaknya bakalan terkenal dah, abisnya video rekaman elu ini banyak mendapatkan respon yang baik dari para guru di sekolah, apalagi Pak Mukhsin, sepertinya dia sangat senang melihat perkembangan elu yang sekarang ini," ucap Yogi membuat Alamsyah tersenyum begitu lebarnya karena ulah dia, namanya menjadi terkenal di sekolah.


Rere juga mendapatkan notif dari grup Whatsapp, ternyata Yogi mengirim video tersebut hingga ke grup yang di dalamnya di isi oleh para ketua kelas sebelas.


"Pacar elu sekarang lebih asik ya, Re, dengan seketika para guru dibuat terkejut kagum, siswa yang dulunya sering bolos itu ternyata memiliki kelebihan juga, bahkan sekali dia menunjukan kelebihannya itu, semua wanita bisa terpanah melihatnya, jangan sampai kalah ya," kata Yogi berupa ketikan di grup ketua kelas.


....


Ternyata memang benar apa kata Sultan, dia adalah satu-satunya pria yang dapat meluluhkan hati seorang Rere, bahkan orang sepintar Yogi pun tak dapat memahami isi hatinya itu, apalagi mengambil hatinya dari Sultan.


Rere tahu kalau Yogi adalah siswa yang pintar, namun Rere tahu bahwa dia tak seperti Sultan, walaupun Sultan itu orangnya ceroboh, bodoh, dan agak sedikit nakal, akan tetapi dia adalah sosok pria jujur, kepandaian bisa dikejar hanya dengan cara belajar dengan giat, tapi kejujuran tak semua orang bisa memanami sifat tersebut sedalam seperti apa yang pernah Sultan ucapkan, bahwa dia sayang terhadapnya.


Sebelumnya Yogi pernah mendekati Rere pada saat Sultan belum mengenal wanitanya itu, tapi ternyata dia memang tak pernah memandang seorang pria dari statusnya apa di sekolah, pintarnya dia di sekolah, serta prestasi apa saja yang dia dapatkan di sekolah, dikarenakan dia menyukai sosok pria apa adanya, asalkan satu, yaitu mereka yang dapat mengubah kesedihan menjadi senyuman kebahagiaan.

__ADS_1


Andaikan Sultan tahu, sebenarnya Yogi lebih lama mengenal sosok Rere, dan andai saja Yogi tahu, sedangkan Sultan hanya membutuhkan waktu kurang dari satu Minggu, ia sudah bisa mengambil hatinya.


"Pacar elu itu ya, Tan, dari dulu hingga sampai sekarang, dia sama sekali engga pernah mau menghargai cowok setampan gue ini, padahal gue lebih lama mengenal dia bila dibandingkan dengan elu, tapi kenapa elu bisa semudah itu Tan, mendapatkan hatinya," ujar Yogi membuat Sultan tertawa tipis.


"Ngomong tuh sama air kopi! setampan apa pun elu, dia akan tetap memilih pria sederhana seperti gue, lagian bila dipikir-pikir gue lebih tampan dari elu dah, benarkan brader?" tanya Sultan, di mana semua temannya berpikiran hal yang sama dengannya di sana.


"Bukan hanya tampan, dia juga pria yang pengertian Yog, dari segi apa pun tingkat kecerdasan elu memang lebih unggul bila dibandingkan dengan kecerdasan dia, namun ternyata dia itu memiliki apa yang engga pernah elu miliki, yaitu sifat serta sikap yang selama ini menjadi incaran para wanita," ucap Dimas membuat Sultan tersenyum tipis.


Dimas ingin Yogi mengetahui betapa asik sifat Sultan itu, apalagi bila sekarang dia melihat tingkah lakunya pada saat temannya itu ada di Tangerang, mungkin Yogi akan berpendapat hal yang sama seperti dengannya.


Bila Sultan tak mengingatkan mereka semua, mungkin saja sekarang mereka takan sadar bahwa kedua temannya itu ternyata masih berdiam diri di luar ruangan kosan, dikarenakan kedua teman mereka itu tengah menjalani hukuman atas dasar kesalahan yang telah mereka perbuat.


Sultan membebaskan Akbar dari hukuman, namun alangkah geli pada saat Sultan melihat bibir temannya itu agak sedikit membesar, bukan karena bengkak, melainkan karena jepitan baju tersebut sudah lama mencengkram mulutnya.


Sultan tertawa lepas, rasanya kali ini ia harus lebih berhati-hati lagi terhadap Akbar, tapi bila dilihat dari sisi mana pun, Akbar sepertinya tak terlalu mempermasalahkan hal ini, apa mungkin dia sadar dengan kesalahannya sendiri, tapi sekarang Sultan hanya bisa menunggu waktunya itu tiba saja kepada dirinya.


"Geli beut gue lihat bibir lu! udah sana duduk, gue udah siapin beberapa butir es batu untuk bibir elu itu Bai, dan untuk elu Men, sisa waktu elu tinggal satu menit lagi ya, tahan sebentar lagi, jangan dulu mati lu," ucap Sultan yang tak habis-habis menertawakan ketidak beruntungannya nasib mereka berdiam diri di dalam sana untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2