
Setelah Sultan berkata seperti itu di belakang Alamsyah, dan kemudian mereka semua terbangun, serta terkejut melihat paginya di hari Jumat sudah hampir bersinar terang, akan hadirnya cahaya dari sang mentari.
Untung saja nasi yang dibuat semalam masih utuh, jadi mereka semua hanya tinggal memasak pokok menu makanannya untuk mereka santap.
Sementara itu, Rere memanggil nama Sultan untuk memastikan apakah dia benar-benar setia menunggunya di sana tanpa sedikit pun Sultan meninggalkannya.
"Assalamu'alaikum, kamu masih ada di sana kan Tan? gue udah selesai salatnya nih," tanya Rere yang tak langsung memegang ponselnya, dan lebih memilih untuk berbicara sembari merapikan perlengkapan alat salatnya itu.
Sebelumnya Rere memang sengaja menaruh handphonenya di atas kasur tidurnya dengan alasan, agar dia bisa lebih khusyuk dalam melaksanakan ibadah salat wajibnya itu di sana.
"Wa'alaikum Salam, syukur dah kalau emang elu udah selesai melaksanakan salat subuhnya itu di sana Be. Jadi gimana? sekarang gue udah boleh pergi kan?" tanya Sultan yang telah menghisap habis satu batang rokok dalam menunggu Rere.
"Emangnya elu mau ke mana sih Tan? lagian elu tega amat dah mau ninggalin gue gitu aja, padahal gue cuma ingin ngobrol sama kamu aja, itu doang kok, Tan."
"Apaan sih elu Re! rindu kok, gitu-gitu amat dah! lagian sebentar lagi juga gue pulang ke Sukabumi ini, udah itu elu mau maki-maki sampai elu merasa puas pun gue engga akan pernah melarangmu kok, bolot," ucap Sultan menyemangati Rere.
"Kamu yakin Tan? jangan sampai menyesal ya, soalnya nanti gue mau melampiaskan rinduku ini hingga mana elu merasakan arti dari kata menyesal."
"Gue engga yakin dah Re, tentang hal itu! coba elu bayangin sekarang, rasa letih yang sering datang menghampiri kehidupan gue ini, selalu saja menjauh pergi bilamana gue sudah bertemu dan melihat raut wajah cantikmu itu di sana secara langsung."
Ucapan manis, serta sikapnya yang manis itu telah membuat wanitanya semakin tak sabar, akan menunggu kehadirannya pada saat Sultan telah tiba di tempat persinggahan yang sebenarnya itu di sana.
__ADS_1
Rere menutup panggilan suara teleponnya itu atas dasar perintah Sultan sendiri, apalagi sekarang dia tengah berusaha menghilangkan sifat cemburuannya itu kepada Sultan, walaupun pada dasarnya Sultan tak terlalu mengharapkan perubahan wanitanya itu, namun akan tetapi alangkah baiknya Sultan mendukung usaha yang sekarang tengah dia jalani untuknya itu juga.
Sultan pun lalu masuk ke dalam ruangan kosan, tapi sebelumnya entah kenapa semua temannya melirik dirinya setajam, dan semenakutkan itu, atau jangan-jangan mereka semua sudah mengetahui keusilan dirinya.
Yang jelas di sana ia memang harus bisa untuk tetap tampil tenang, serta tampil lebih percaya diri lagi, seperti hal nya ketika ia di suruh untuk menjadi pemimpin barisan pada saat itu oleh pimpinan Perusahaan.
Dimas dan Alamsyah sempat bertanya kepada Sultan, sebelumnya dia pergi ke mana? soalnya mereka tak melihat dirinya ada di sana pada saat mereka semua telah terbangun dari tidurnya.
Sultan menjawab bahwa dirinya baru saja pulang dari mesjid, dan setelah itu dirinya berbincang bersama dengan imam mesjid di depan teras kosan.
"Woii ... abis dari mana elu Tan? perasaan belakangan ini elu sering ke luar dari dalam kosan dah," tanya Dimas terlihat tenang pada saat dirinya bertanya kepada Sultan.
"Iya Tan, elu abis dari mana tadi? perasaan gue lihat elu juga sering tidur tengah malam, bahkan gue melihat elu engga tertidur sama sekali," tanya Alamsyah menyela pembicaraan Sultan dengan Dimas.
"Gue baru aja pulang dari mesjid Lam, emangnya ada apa? perasaan elu semua kelihatannya pada benci banget dah melihat gue ada di sini," ucap Sultan sama tenangnya seperti temannya yang bernama Dimas itu di dalam sana.
Sultan hanya menjelaskan satu saja pertanyaan untuk mereka ketahui, bukan kerena Sultan tak mau menjelaskannya panjang lebar, melainkan apakah mereka semua akan perduli dengan jawabannya itu.
Bahkan Sultan pun sama sekali tak terlihat menakuti hal yang akan terjadi kepadanya, apa mungkin mereka akan mempermasalahkan hal ini, sepertinya itu adalah masalah yang tak harus dilebih-lebihkan oleh mereka.
Alamsyah kembali bertanya kepada Sultan, dan pertanyaannya tersebut berbeda dengan yang sebelumnya Sultan kira, yang di mana temannya itu hanya ingin bertanya apakah dia baru saja membuat masakan untuk mereka rasakan.
__ADS_1
"Ini semua kerjaan elu apa Tan?" tanya Alam singkat, dikarenakan Sultan pasti akan mengetahui ucapan yang akan dia berikan kepadanya selanjutnya.
"Abisnya gue kesihan melihat elu pada tertidur sampai semuanya mendengkur seperti itu, lagian gue juga engga tega membangunkannya, jadi maka dari itu gua lebih baik menyiapkan masakan untuk kalian santap," tanya Sultan yang mulai melihat senyuman dari raut wajah mereka di dalam sana pagi hari ini.
"Makasih Tan, elu baik banget dah," ucap seluruh temannya serentak bersamaan.
Tak lupa, Sultan pun memperlihatkan semua video hasil dari rekamannya sendiri, yang di mana dia merekam keadaan ruang kosan sebelumnya kepada mereka semua.
Mereka pun saling menuduh bahwa suara dengkuran Dimas lah yang paling keras, tapi dia menuduh bahwa suara dengkuran Azmi lah yang paling keras bunyinya.
Lantas mereka semua tertawa dengan lepasnya sambil meminta rekaman video tersebut kepada Sultan, namun Sultan sudah mengirannya dari awal, bahwa mereka pastinya akan meminta video tersebut, maka dari itu dia mengirim rekaman video itu kesuatu grup Whatsapp yang di dalamnya ada kontak Whatsapp dari Pak Mukhsin juga.
Grup itu adalah suatu grup bagi para siswa yang sekarang tengah melaksanakan tugas prakerinya di sebuah Perusahaan, yang memang sekarang tempat itu sudah menjadi pilihan untuk Sultan dan seluruh temannya melaksanakan tugas prakerinnya di sana.
"Aduh ... itu si Dimas sama si Azmi, sampai sebegitunya mendengkur karena kecapean ya, Tan," kata Pak Mukhsin dalam ketikan di grup Whatsapp.
"Iya Pak, saya juga sampai engga bisa tidur pada saat saya mendengarkan suara dengkuran mereka berdua," kata Sultan yang sama menulis dalam ketikan di grup Whatsapp itu juga.
Percakapan mereka di dalam grup Whatsapp itu tak berlangsung lama, dan terlebih setelah makan mereka semua harus segera membersihkan diri mereka masing-masing.
Untung saja Sultan telah membersikan dirinya lebih awal, dan lebih dulu dari mereka, jadi sekarang dia hanya tinggal menikmati sisa waktunya bersama dengan Rere.
__ADS_1
Hal yang lebih baik untuk dirinya pada saat ini memang akan selalu tertuju kepada Rere seorang saja, dan bahkan sebuah game pun tak dapat mengubah, ataupun menggantikan kebahagiaannya lebih dari berbincang bersama dengannya.
Dan siapa lagi kalau bukan bersama dengan Rere, sang bidadari tanpa selendang, sekaligus sang kekasih ciptaan terindah Tuhan Yang Maha Esa.