
Sebenarnya Azmi pun memiliki perasaan khawatir yang sama seperti Alamsyah, namun yang membedakan mereka ada pada prinsip mereka masing-masing, di mana Azmi lebih cerdas dalam menjaga egonya sendiri, sementara Alamsyah dia terlalu mudah terbawa suasana emosi.
Yang Alamsyah pikirkan di sana hanya Sultan seorang, sementara dirinya sendiri dia lupakan, hal tersebut memang harus ada dan harus mereka tanami di dalam hatinya sendiri, namun bilamana dia terlalu mengikuti kemauan egonya sendiri, maka sampai kapan pun masalah ini takan pernah berjalan sesuai dengan harapan mereka semua.
"Bila bukan karena perintah dari elu Tan, mungkin gue engga akan terlihat lemah seperti sekarang ini, maafin gue ya, Tan, gue engga bisa berbuat apa-apa," ucap Alamsyah dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
Azmi dan Dimas menghampiri Alam sembari merangkul bahunya, mereka berdua terus saja mengingatkan Alam agar dia bisa menjaga dirinya sendiri untuk Sultan.
"Tenang aja Lam, gue tahu siapa Sultan, dia itu bukan tipe pria yang mudah menyerah, apalagi sebelum masalah teman-temannya terpecahkan, dia akan selalu berdiri di samping kita sampai semua masalah temannya terselesaikan," ucap Dimas sambil merangkul bahu Alam.
"Gue tahu Lam, bahwa sekarang Sultan ada di depan sana dan lagi tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, pastinya elu tahu sebabnya apa Lam, dikarenakan kita semua datang demi dia di sini," ucap Azmi sambil merangkul bahu Alam seraya tersenyum menatap bayangan Sultan yang masih tertinggal di jalanan sana.
Alam mengangguk dan tersenyum, dia tersenyum karena dia sudah mengetahui reaski yang akan Sultan berikan kepada semua temannya itu seperti apa.
Dan sekarang mereka berjalan tanpa mendorong motornya itu lagi dikarenakan sebab suara lemparan tersebut terdengar tak begitu jauh.
Pada saat mereka melihat Sultan, dengan seketika mereka dibuat terkejut oleh sosok bayangan putih yang tengah berdiri di samping Sultan.
"Lam, Lam, bayangan putih ada di samping Sultan, cepat berikan alunan doa agar bayangan itu hilang," ucap Wildan terlihat panik sambil mendorong tubuh Alam yang sepertinya dia juga sedang merasakan perasaan takut yang sama.
__ADS_1
"Jangan dorong-dorong bego! gue juga lagi takut ini," ucap Alam dengan seketika mendorong tubuh Wildan hingga dia terhempas dan jatuh.
Sosok bayangan putih itu adalah sebuah gambaran yang berwujud seperti sosok manusia asli yang sudah berumur, bisa dibilang sosok bayangan tersebut merupakan sebuah wujud kakek-kakek.
Bayangan tersebut tersenyum kepada mereka semua, dan lalu setelah itu bayangan tersebut pun menghilang bagaikan ditiup oleh angin.
"Bayangannya tersenyum Lam, apa mungkin bayangan itu adalah penjaganya," ucap Dimas mulai merasa lega dikarenakan sosok itu bukan sosok yang ingin melukai temannya.
Situasi pun mulai membaik, hingga pada akhirnya mereka berlari menghampiri Sultan yang tengah terbaring lemas di depan sana seorang diri.
Seperti yang mereka duga sebelumnya, di mana Sultan pun tertawa lepas melihat semua temannya datang untuk dirinya.
Sultan terlalu menganggap remeh lukanya, hingga mana teman-temannya dibuat bingung, mengapa dia selalu terlihat bahagia meskipun dalam keadaan terluka parah seperti itu.
....
Ucapan Sultan itu diabaikan oleh teman-temannya, dikarenakan hal yang terpenting bagi mereka sekarang adalah membantu membangkitkan tubuh Sultan terlebih dahulu.
"Elu engga apa-apakan Tan? maafin gue karena gue udah telat menjemput elu," ucap Dimas sambil memberikan air untuk Sultan minum.
__ADS_1
"Para brandalan itu udah keterlaluan! pokoknya awas aja, bila gue melihat salah satu dari mereka berkeliaran di jalanan, mereka semua bakalan gue habisin," ucap Alam terlihat begitu berapi-rapi.
"Sekarang bagaimana Tan, apa kita mau terus-terusan terlihat lemah seperti ini hah! mereka sudah melampaui batas Tan, apa yang terjadi dengan elu ini, pokoknya para cecunguk itu harus membayar semuanya," ucap Ujeng sembari memukul keras jalan aspal di sana.
Mereka semua lebih cerewet dari seorang wanita, sampai-sampai air yang hampir masuk ke dalam tenggorokannya itu pun dia ke luarkan kembali karena sebab airnya terasa agak sedikit pahit.
"Cuihh ... air apaan ini Dim? kok, rasanya agak sedikit pahit seperti gue melihat raut wajah elu ya," ucap Sultan sembari melepehkan air yang sempat dia minum itu.
Dimas terlihat bingung, padahal air itu adalah air bening biasa yang sering Sultan minum juga, bahkan Dimas pun sempat menggunakan air bening itu untuk menyeduh kopi hitamnya, dan rasanya pun tidak ada yang berubah sama sekali.
"Masa iya sih Tan, perasaan air ini air baru dah, perasaan waktu itu gue juga sempat meminum air ini, tapi rasanya tetap sama kok, apa jangan-jangan ini efek dari elu habis berkelahi saja kali Tan," ucap Dimas sambil mencoba air tersebut itu, namun pada saat dia mencobanya, rasanya pun tetap sama.
Sultan berpikir apa mungkin yang membuat air itu menjadi pahit pada saat dia telan jangan-jangan dikarenakan sebab dia terlalu banyak menghirup alat pernapasan yang dia buat itu, dan terlebih dia juga sempat menambah beberapa semprotan cairan Hand Sanitizer di dalam botol yang dia jadikan sebagai alat bantu untuk membantu saluran pernapasannya agar tidak pecah itu.
Berhubung Dimas sudah berbaik hati kepadanya, jadi dengan sangat terpaksa dia meminum air itu meskipun rasa pahitnya masih juga belum menghilang.
Sekarang kondisi Sultan mulai agak sedikit membaik setelah dia meminum air pemberian dari temannya itu. Sultan sengaja terdiam sejenak sambil sesekali mengatur saluran pernapasannya lagi.
"Tan, gimana keadaan elu sekarang, udah mulai membaikan? dan sekarang mau elu apa Tan, mau langsung pulang atau elu mau beristirahat dulu di sini sampai keadaan elu benar-benar membaik," tanya Azmi yang mulai begitu lega melihat temannya masih bisa tertawa.
__ADS_1
"Lebay lu ah! kayak bukan anak SMK aja, lagian gue engga apa-apa kok, padahal tadi itu gue cuma lagi ngantuk aja, dan setelah itu gue malah ketiduran dikarenakan si Jagur tiba-tiba mati begitu aja," ucap Sultan yang masih berpura-pura terlihat kuat di hadapan mereka semua.
"Jangan sok kuat lu Tan! gue tahu para cecunguk itu datang ramai-ramai dan menghantam elu menggunakan alat pukul seperti ini secara bersamaankan?" tanya Wildan sambil menunjukan kayu balok yang patah kepada teman-temannya di sana.