
"Jadi, sekarang rencana elu apa Tan? apakah kita akan tetap menjalankan rencana yang pertama," tanya Alam berbicara sambil tersenyum jahat di hadapan Sultan.
Huuhh ....
Suara hembusan rokok yang Sultan keluarkan dengan perlahan itu, dengan seketika membuat semua temannya terdiam tanpa kata.
Mereka terdiam karena mereka tahu bahwa Sultan pasti akan mengeluarkan pendapatnya hingga mana pendapatnya itu memang salah satu usul yang harus mereka semua patuhi.
Di sana Sultan memang merupakan salah satu orang yang paling mengerti dengan kemauan semua rekannya itu, namun di sana dia juga dapat memahami perasaan mereka seberat apa bilamana mereka semua harus mematuhi rencana yang telah dia buat sebelumnya.
"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, kita akan tetap memakai rencana penyergapan, dan selebihnya itu terserah kalian semua, kalian mau apakan mereka pun gue engga akan melarang kalian."
"Sebenarnyakan gue udah bilang dari awal bahwa gue engga mau mengatur semua rencana penyerangan kali ini, dikarenakan sebab gue berkeinginan untuk melepaskan semua beban tanggung jawab gue kepada kalian semua."
"Pokoknya jika memang kalian mau mengubah rencana penyergapan ini menjadi rencana penyerangan, gue engga akan pernah mau mempermasalahkannya."
"Tapi, ada beberapa hal yang memang harus kalian perhatikan dari kejauhan hari sebelum kalian berkelahi dengan para brandalan itu nantinya."
"Bila kalian semua memang tetap kukuh ingin berkelahi secara langsung, semua itu pasti akan ada resikonya, dan tentunya resiko tersebut akan mengakibatkan dampak yang begitu buruk bagi keselamatan kalian."
Mereka semua masih terdiam kaku, apa yang Sultan ucapkan itu memang benar, mereka takan pernah tahu apa yang akan terjadi kepada mereka semua disaat mereka semua sedang berkelahi dengan para brandalan-brandalan gila itu.
Pada dasarnya perkelahian ini bukanlah perkelahian yang resmi dan menggunakan hukum tertentu yang memiliki beberapa aturan di dalam perkelahian tersebut.
__ADS_1
Yang Sultan takutkan para brandalan itu akan menggunakan beribu-ribu cara kotor seperti halnya secara diam-diam ternyata mereka menyimpan salah satu benda tajam.
Tapi, sebenarnya itu kembali lagi kepada mereka yang ingin memenangkan pertarungan dengan cara yang sah tanpa mereka menggunakan alat bantuan sedikit pun.
Sultan pun pasti akan menelusuri kembali hal yang sekarang tengah dibicarakan oleh para brandalan-brandalan itu di sana yang apakah nantinya rencana mereka akan berubah ataupun masih akan tetap sama dengan hari-hari yang telah berlalu.
"Apa yang Sultan ucapkan itu memang benar Bre, memang tidak ada salahnya kita tetap memakai rencana penyergapan, intinya dia cuma tidak ingin melihat salah satu diantara temannya ada yang mengalami musibah yang lebih berat dari musibah yang telah dia alami sebelumnya."
Azmi memang benar-benar memahami serta merasakan hal yang sama seperti apa yang tengah Sultan pikirkan untuk saat ini.
Sekarang semua temannya setuju dengan usul Sultan, namun tentunya Sultan juga masih belum menceritakan satu hal yang telah dia lihat sebelumnya tadi kepada mereka semua.
Dan ya, hal tersebut merupakan sebuah hal yang telah menimpa adik malang yang sebelumnya sempat dipalak oleh para anggota brandalan-brandalan itu.
....
Ucapan Dimas membuat semua temannya bertanya-tanya, sebenarnya ada masalah apalagi yang sudah Sultan lihat sekarang ini di jalanan sana tadi.
"Masalah apalagi sih Dut? coba elu jelasin sedetail mungkin sama kita masalahnya seperti apa," ucap Wildan yang terlihat nampak geram sekali kepada temannya itu dikarenakan Dimas hanya membicarakan masalahnya sedikit demi sedikit saja.
"Yang lebih jelasnya lagi mendingan sekarang elu tanyain aja masalahnya kepada Sultan, kata dia tadi dia mau menceritakan masalah ini sekalian, siapa tahu kalian ingin membalaskan dendamnya juga," ucap Dimas sambil tersenyum jengkel dikarenakan tanpa sengaja dia mengingat hal itu kembali.
Sekarang mereka semua tak ingin menanyakan hal untuk yang kedua kalinya kembali. Lantas mereka semua terdiam sambil menatap tajam wajah Sultan dengan harapan dia akan menceritakan semua hal yang sudah dia lihat sebelumnya tadi di jalanan menuju pergi ketitik tempat perkumpulannya saat ini.
__ADS_1
Sultan tak mau ambil pusing, dia pun tak mau mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari semua rekannya itu dikerenakan sebabnya pertanyaan mereka pasti akan terdengar sama ditelinganya.
"Syah, gue mau pinjam charger handphone elu bolehkan? soalnya semua bukti ada di dalam rekaman video itu, tapi sekarang handphone gue mati."
"Siapa tahu kalian semua ingin melihat hasil dari videonya, makanya biarin handphone gue terisi dulu hingga sampai beberapa persen aja oke," ucap Sultan sembari memberikan handphonenya kepada Aisyah.
"Boleh Tan, tunggu sebentar! tapi, awas aja lu kalau elu sampai rese lagi dan diam-diam menceritakan masalah ini pada saat gue lagi ada di dalam sana, pokoknya gue akan membongkar rahasia kalian kepada para brandalan-brandalan gila itu!" ancam Asiyah dengan begitu cepatnya dia pun lalu masuk ke dalam ruangan kontrakannya.
Tak lama kemudian Aisyah pun kembali menghampiri semua temannya di depan sana sambil duduk manis diposisi awalnya lagi.
"Jadi begini, tadi sesudah Dimas pergi ninggalin gue dititik tempat yang kedua, tiba-tiba saja gue melihat ada seorang anak kecil yang katanya dia mau beli beras buat ibunya di rumah."
"Dan kebetulan waktu itu gue sempat ada di sekitaran tempat tersebut, iseng-iseng memperhatikan gerak-gerik para brandalan gila itu."
"Tanpa gue sadari mereka semua benar-benar mintain uang dari anak kecil itu, dan jumlah uangnya pun lumayan cukup banyak juga."
"Di sana gue merasa kasihan, dan untungnya dia jalan berhadapan langsung dengan wajah gue, alhasil gue nyuruh dia untuk duduk di dekat gue."
"Andai saja tadi gue engga ingat sama sekali dengan misi gue ini, mungkin mereka semua udah gue hajar, namun sayangnya gue hanya bisa berdamai dengan keadaan gue yang sekarang."
Setelah Sultan menceritakan masalah itu, dia pun lalu tertunduk sedih. Dia menyesali semua sebab mengapa bisa seorang Sultan terdiam kaku tanpa melakukan sesuatu disaat orang-orang sedang membutuhkan bantuannya di sana.
Semua temannya merasa geram, dan ucapan yang sebelumnya Dimas lontarkan itu memang benar nyata terasa adanya, bahwa mungkin bila Sultan menyetujui semua rekan-rekannya untuk berkelahi secara langsung dengan para brandalan itu, mereka semua pasti takan pernah mau membiarkan salah satu diantara para brandalan gila itu ada yang lari dari hadapan mereka semua.
__ADS_1
Sebenarnya Sultan pun sudah tak mau memikirkan rencana penyergapannya setelah dia mengingat kejadian yang sudah menimpa anak malang itu di sana tadi.