
Berhubung Aisyah sekarang di tempatkan di dalam ruangan yang sama dengan Sultan, dan jadi sekarang mereka berdua pun bisa berbincang terlebih dahulu.
Lagi pula waktu itu, Sultan juga tengah bersantai-santai di dalam ruangan sembari menunggu jam makan siang, serta menunggu waktu azan salat zuhur telah dikumandangkan.
Dengan senang hati Aisyah membatu Sultan menghitung jumlah kabel plexible, dan di sana tentunya Sultan memberikan sedikit pemahaman yang dia dapat dari Bang Boa sebelumnya.
Aisyah berbicara kepada Sultan, berapa jumlah kabel yang harus dia ikat, ataupun yang harus dia pisahkan. Sultan pun tentunya takan menjawab asal pertanyaan yang Aisyah berikan kepadanya.
"Saya mau bantu juga boleh kan Bang? kalau di lihat sih kayaknya asik tuh," tanya Aisyah sembari tersenyum tipis kepada Sultan.
"Emm ... tunggu sebentar ya, jangan ke mana-mana oke, soalnya saya harus menanyakan masalah ini terlebih dahulu kepada karyawan pendamping saya di sini," ucap Sultan dengan nada rendahnya.
Sultan beralih ke ruangan gudang yang sebelahnya, dikarenakan Bang Boa sedang ada di sana bersama dengan teman-temannya yang lain.
Ia duduk di dekat Bang Boa sembari membisiki telinganya. Lantas dia pun membiarkan Sultan mengambil alih tugasnya, dan dia pun boleh menyuruh seseorang membantu dirinya bekerja.
Sultan memang bekerja penuh waktu atas dasar kemauannya sendiri, dengan alasan ia ingin selalu dipekerjakan sama seperti karyawan di sana.
Sultan pun berbicara kepada Pak Tami, agar supaya beliau menganggap Sultan sama seperti karyawan di sana, ia bahkan tak mau dipanggil sebagai seorang siswa saja.
Lantas, ia pun kembali menghampiri Aisyah dan membiarkan dia membantu dirinya. Ia hanya menyuruh wanita itu mengerjakan pekerjaan yang tidak menyangkut pautkan kekuatannya.
"Mohon kerja samanya ya, Aisyah hanya perlu menghitung dan mengikat kabel ini sebanyak sepuluh ikatan saja jangan lebih oke," ucap Sultan cukup singkat, namun itu sudah bisa membuat Aisyah lebih dari hanya sekedar memahaminya.
__ADS_1
"Jadi, boleh nih Bang? makasih ya, saya siap menerima apa pun perintah dari abang asalkan abang jangan memarahi saya bilamana saya salah," ucap Aisyah sangat lucu, apalagi nada suara yang dia ke luarkan itu agak sedikit terhentak, sebagaimana semua orang sedang merasa malu.
"Jangan malu-malu! anggap saja saya teman yang sudah lama kenal sama kakak."
"Sifat abang memang berbeda dari yang lainnya ya, dan mungkin bila saya disuruh memilih, siapakah yang lebih asik untuk diajak berbicara dengan saya, dan pastinya abang lah yang akan menang," Aisyah sudah mulai menganggap Sultan sebagai temannya, dikarenakan ucapan yang dia berikan itu sudah mulai terdengar jelas, tanpa adanya kata-kata patah seperti awal dia mengenal Sultan.
"Tunggu! sepertinya saya lebih nyaman dipanggil Tan, ataupun elu aja dah. Mungkin nama panggilan itu terdengar sedikit agak tidak ramah, tapi nanti nama panggilan itu pasti akan terdengar ramah dengan sendirinya bilamana kita membiasakannya dalam mengucapkannya."
Raut wajah Sultan tidak menimbulkan reaksi yang sepesial, ia hanya memberikan senyumannya itu, tidak lebih untuk membalas senyuman dari Aisyah saja.
Bisa dibilang dia merupakan sosok pria yang memang sering kali mementingkan kebahagiaan orang lain terlebih dahulu, ketimbang dengan dirinya yang merasakan arti dari kata bahagia itu terlebih dahulu.
Entah itu Visinya ataupun Misinya, yang jelas dia sangat suka melihat orang lain bahagia, apalagi yang membuat mereka bahagia itu adalah dirinya sendiri.
Bang Boa datang menghampiri Sultan, dan dia pun lalu menyuruh Sultan untuk berhenti melakukan pekerjaannya itu sebentar saja, dikarenakan jam makan siang takan lama lagi akan segera hadir menyapanya.
"Tan, elu kerjanya rajin amat dah! makan dulu yu, walaupun jam makan siang engga akan lama lagi hadir, mungkin elu bisa memanfaatkan waktu ini untuk rebahan sejenak," ucap Bang Boa dengan santainya mengajak Sultan beristirahat di jam kerjanya.
Bang Boa memang tidak ingin melihat dia bekerja sekeras ini, bukan karena dia merasa iri dengannya, melainkan karena dia hanya takut Sultan akan jatuh sakit nantinya.
Dan terlebih saat ini Sultan memang sedang berada jauh dari jangkauan kedua orang tuanya, maka tak heran kenapa Bang Boa selalu mengingatkan Sultan untuk menjaga kesehatannya itu di sini, yang jelas itu adalah rasa sifat empatinya terhadap Sultan.
"Sebenarnya gue juga engga terlalu mengharapkan seberapa mampu elu bisa mengerjakan pekerjaan ini di sini Tan," ucap Bang Boa jujur kepada Sultan.
__ADS_1
"Siap Bang, tapi sebelumnya saya mau minta maaf nih ya, ngomong-ngomong elu ngajak gue makan apa emang elu udah engga sanggup lagi ya?" tanya Sultan sembari tertawa kepada Bang Boa.
Arti dari kata tak sanggup itu adalah tak sanggup lagi menahan rasa lapar. Kata tersebut sering dingunakan oleh Sultan dan para karyawan yang lain untuk menutupi hal itu dari pimpinan Perusahaan.
"Hidung gua engga akan tahan Tan, bila sudah mencium bebauan semur danging rendang di luar sana, emangnya elu kuat apa Tan?" tanya Bang Boa sembari tertawa di hadapan Sultan dan juga Aisyah.
Bang Boa memang sudah menganggap Sultan seperti dia menganggap semua teman-temannya di sana, dan jadi dia takan mungkin secepat itu merasa tersinggung dengan apa ucapan yang telah Sultan lontarkan tadi kepadanya.
Tak lama kemudian, Dimas pun datang menghampiri Sultan kembali, seperti biasa dia juga ingin mengajak temannya itu untuk pergi mengambil jatah makanannya di luar ruangan Perusahaan.
Berhubung Dimas ingin berkenalan dengan Aisyah, dan di sana Sultan pun mengenalkan Aisyah kepada temannya yang memang temannya itu juga sempat meminta kontak Whatsapp dari Aisyah.
"Kebetulan elu ada di sini Dim, kenalin ... dia Aisyah, dan Aisyah, kenalin ... dia teman saya Dimas," ucap Sultan mengenalkan Dimas kepada Aisyah.
Dimas merasa tersanjung, tapi Aisyah sama sekali tak merasakan hal yang sama dengan Dimas, apa mungkin dia hanya akan merasakan hal yang sama bila dirinya berkenalan dengan Sultan saja.
Tapi, sebenarnya itu adalah hal yang tak harus dipermasalahkan, lagi pula sekarang Sultan telah menebus janji yang sebelumnya dia pernah ucapkan di dalam hatinya untuk memperkenalkan Dimas kepada wanita yang ingin dia pintai kontak Whatsappnya itu.
Lantas, Sultan pun mengajak Dimas untuk pergi mengambil jatah makanannya bersama dengan Aisyah, ini adalah hari keberuntungan Dimas, dan mungkin semua teman-temannya akan mengharapkan hal yang sama seperti Dimas, bilamana mereka semua ada di sana saat ini.
"Katanya elu engga mau memperkenalkan gue sama dia Tan, tapi kenapa elu malah ngenalin gue sama dia?" tanya Dimas penasaran.
"Ini adalah hari baik elu Dim," ucapan Sultan penuh tanda tanya, sehingga Dimas merasa heran dan ingin menanyakan arti lengkap dari ucapannya itu.
__ADS_1
Namun, Sultan tetap saja terdiam, andai saja Dimas tahu arti dari kata itu hanya sebatas ucapannya saja, bukan melainkan suatu misteri yang harus dia pecahkan juga.