Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 271 : Bukan sebuah keseriusan


__ADS_3

Azmi datang menghampiri Sultan sambil menaruh handuknya itu di atas jemuran bambu yang menggantung di depan teras kontrakannya sekarang.


Pada saat Azmi akan masuk ke dalam kontrakan kembali, tiba-tiba dia melihat Sultan tengah tersenyum-senyum sendiri, lantas dia pun menanyakan hal yang sudah membuat temannya tersenyum lebar seperti itu di sana.


"Idihh ... kenapa lu Tan? kayaknya elu lagi senang sekarang ya, hal ini jarang gue lihat sumpah dah, senyuman elu itu adalah sebuah hal yang ingin gue miliki juga, di mana senyuman itu dapat dengan mudahnya mengambil hati sosok wanita cantik seperti Rere, bisa kali Tan, kasih tahu rahasianya agar gue bisa mendapatkan hati Dek Salma," ucapan Azmi membuat Sultan geli.


Senyuman Sultan kini mulai berubah dan memudar, ucapan dari temannya itu dengan seketika membuat Sultan merasa geli-geli sendiri.


"Ternyata ada juga ya, makhluk seperti elu di muka bumi ini Mi, geli gue dengerinnya sumpah! bahkan apa yang elu ucapankan itu terdengar lebih menggelikan bila dibandingkan dengan gue memegang hewan berlendir seperti siput, mendingan sekarang elu masuk aja sana, sebelum air susu panas ini gue tumpahin tepat diwajah elu."


Ucapan Sultan terdengar seperti keseriusan, di mana sekarang dia benar-benar memegang gelas yang di dalamnya ada air susu yang masih terasa panas pada saat dia tengah menyeruputnya.


Ternyata memang benar, Sultan tak segan-segan melempar gelas susu itu tepat ke arah kaki Azmi. Di sana Azmi terlihat begitu terkejut, dan untung saja gelas tersebut adalah gelas plastik, jadi Azmi tak perlu mengkhawatirkan hal yang telah Sultan lalukan terhadapnya karena tumpahan tersebut takan melukai kaki Azmi.


"Aihh ... udah gila apa lu Tan! gue kira elu lagi bercanda aja tadi, sampai kaget gue sumpah dah, padahal gue cuma bercanda Tan, kenapa elu terlihat sensitif seperti ini sekarang," tanya Azmi terlihat bingung, dan untung saja dia mau membersihkan tumpahan tersebut dengan kain lap yang ada di depan teras sana.


"Apakah wajah gue terlihat serius! mendingan sekarang elu siap-siap aja sana, sebelum gue mematahkan tulang rusuk elu itu sekarang."


Azmi masuk sambil membawa gelas yang Sultan lemparkan itu tadi, dan sekarang Azmi benar-benar tak mau membuat temannya itu marah lagi, hanya saja dia mengherankan sikap Sultan yang sekarang ini, mengapa Sultan menjadi pria yang sesensitif itu, padahal dia melihatnya sendiri bahwa tadi Sultan tengah tersenyum-senyum seorang diri di belakangnya.

__ADS_1


Setelah Azmi masuk Sultan pun tersenyum jahat, dikarenakan dari awal dia sudah mengetahui niat Azmi yang sebenarnya itu apa, dan akan mengarah ke arah yang seperti apa.


"Mampus lu Mi! emang enak gue kerjain, lagian gue udah tahu niat elu yang sebenarnya itu apa, seharusnya gue yang harus terlihat bingung di sini, kenapa tiba-tiba elu datang dan bersikap semenggelikan itu di hadapan gue."


Sultan masih saja tersenyum tipis, dia sangat puas karena telah menjahili Azmi, apalagi ketika Sultan melihat raut wajah Azmi, nampaknya Azmi benar-benar terkejut ketika dia melihat Sultan melemparkan gelas minumnya tanpa berpikir panjang lagi.


Sementara Dimas, di mana dia terbangun tanpa dia dibangunkan terlebih dahulu, dan rasanya sekarang wajah dia terasa sangat kasar sekali, lantas Dimas mengambil handphonenya dengan perasaan terkejut, bahwa sekarang wajahnya dipenuhi oleh tinta hitam.


....


"Ahh, sial! sepertinya ini ulah si Sultan sama si Azmi dah, soalnya orang-orang gila itu pada bangun lebih awal, awas aja ya! gue balas perlakuan elu ini nanti," ucap Dimas yang lebih memilih untuk pergi membersihkan tinta spidol hitam tersebut itu saja di dalam kamar mandi sebelum teman-temannya menyadari hal yang Dimas alami ini.


Tringg ....


Suara jatuhan sendok tersebut membuat Azmi terkejut dan tergelincir hingga dia duduk terdiam di bawah lantai toilet kontrakan sambil menepuk-nepuk celana pendeknya yang terlihat agak sedikit basah itu.


Untung saja sebagian air dari cuciannya itu sudah ada yang terbuang dan mengalir hingga ke lubang drainase atau lubang saluran air yang sering mereka jumpai di dalam toilet-toilet rumah.


"Ahh, dasar bodoh! elu ini gimana sih Dim, padahal celana ini baru aja gue pakai, perasaan belum nyampe berjam-jam dah gue memakainya, tapi dengan begitu lepasnya elu tertawa hingga elu engga sadar bahwa apa yang elu lakuin ini baru saja menambah perkejaan gue menjadi semakin bertambah dan menumpuk saja."

__ADS_1


Keluhan Azmi malah semakin membuat Dimas tertawa lepas saja, dan sebenarnya Dimas juga masih bisa membalikan ucapan dari Azmi itu, namun akan tetapi sebagaimana sikap yang dimiliki oleh Azmi, dia juga pasti dapat membalikan ucapan pembelaan dari Dimas itu kembali.


"Elu engga sadar apa Mi, bahwa apa yang telah elu lakukan terhadap gue ini juga memiliki hal yang sama dengan apa yang telah elu ucap kepada gue tadi."


Dimas benar-benar tak mau kalah, padahal tulisan dikeningnya sudah tertulis jelas bahwa apa yang Dimas lakukan itu adalah hukuman yang harus dia terima.


"Itu adalah hukuman elu bego! seharusnya elu sadar dari awal bahwa apa yang telah elu lakukan itu adalah sebuah hukuman, dikarenakan suara dengkuran elu itu engga terdengar seperti alunan lagu tidur, melainkan terdengar seperti suara gangguan dari setan saja."


Azmi pun tak mau kalah, mereka berdua akhirnya berdebat di dalam sana sampai mana Azmi yang memenangkan perdebatan itu karena Dimas memang harus mengakui semua kesalahannya.


Setelah Azmi selesai mencuci gelas milik Sultan itu, dia pun lalu membuatkan susu hangat untuk diberikan kepada temannya yang tengah duduk di depan teras.


Setelah itu Azmi baru bisa mengganti celananya yang basah di dalam ruang kontrakan. Sementara Dimas lebih memilih untuk mandi saja sebelum teman-temannya terbangun dari tidurnya.


"Dia mengira gue lagi serius, makanya dia mau membuatkan susu untuk gue lagi, dasar Azmi, masa iya gue semarah itu sama dia hanya karena dia mengharapkan sesuatu dari gue," ucap Sultan seorang diri sambil tersenyum tipis.


Sekarang yang harus Sultan hadapi adalah Rere, di sana dia harus memastikan apakah Rere benar-benar marah, namun dia sama sekali tak melihat kontak Whatsapp Rere aktif, jadi sekarang Sultan hanya bisa berharap wanitanya itu takan pernah menganggap candaan dari Sultan terlalu serius.


"Bilang aja kalau elu lagi senyum-senyum sendiri di sana Re, gue tahu sifat elu, gue udah lama mengenal elu Re, jadi tolong, jangan sesekali elu menganggap candaan gue adalah sebuah keseriusan, dikarenakan Rere gue bukan tipe wanita yang seperti itu," ucap Sultan seorang diri sambil tersenyum tipis seraya menyeruput susu hangat yang Azmi buat itu.

__ADS_1


__ADS_2