
Dimas terkejut! dia tidak bisa mengelak lagi karena pacarnya sudah mengetahui perbincangan mereka dari awal. Namun, ada sisi bagusnya dia mendengarkan ucapan dari Sultan. Hingga pada akhirnya kekasih Dimas bisa merasakan seberapa perduli dan seberapa erat dia memegang janjinya.
"Malam kemarin Dimas lirik-lirik cewe lain Teh, soalnya di depan jalan sana ada acara pasar Minggu setiap satu Minggu sekali," ucap Sultan yang membuat semangat Dimas menjadi menurun.
"Jangan bercanda Tan! lu gila apa ya! main nuduh-nuduh gue seperti itu aja tanpa adanya bukti yang jelas!" ucapan Dimas sungguh membuat Sultan tertawa, dikarenakan dia mempunyai bukti rekaman suara semalam.
Panggilan suara telepon Sultan tak terjeda, disebabkan dia bukan menelepon Rere lewat panggilan video, dan jadi ia bisa sesuka hati membuka menu apa saja asalkan Sultan tidak mematikan teleponnya.
Sultan memutar suara rekaman Dimas yang semalam, dan dia pun tak bisa mengelak lagi, ataupun membuat alasan yang lain lagi, dikarenakan Sultan memiliki semua buktinya.
Ia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran untuknya supaya Dimas mengerti bahwa membohongi isi hati seseorang itu tidaklah baik.
"Kenapa lu engga ikut kita ke luar Tan? padahal di depan sana banyak cewe cantik, tapi sayangnya elu lebih memilih untuk berdiam diri di sini sendirian," ucapan itu adalah rekaman suara dari Dimas, yang di mana dia tidak menyadari hal tersebut bahwa Sultan benar-benar merekam suaranya.
Dimas terdiam dan Sultan pun tersenyum jahat. Lantas Rere bersama dengan pacar Dimas tercengan takjub melihat Sultan bisa secermat itu dalam mengambil suara rekaman dari Dimas.
"Parah lu Dimas! berani ngebohongin pacar sendiri! seharusnya lu bilang jujur aja, dia engga akan marah sama elu kok, tapi gue engga tahu juga sih," Sultan tersenyum bersama dengan Rere, dan ia pun di sana menjauhkan pandangannya dari Dimas.
"Parah kamu Tan! bukannya belain temen kamu, tapi elu malah menjerumuskan dia," ucap Rere yang memang dia pun tengah menahan rasa ingin tertawanya.
Rere sekarang sadar, betapa harus dia mempercayai pacarnya itu, dikarenakan ucapan Dimas pun membuat dirinya semakin yakin, bahwa Sultan pergi ke Tangerang itu bukan semata-mata dia ingin bertemu dengan wanita simpanannya di sana, melainkan dia memang benar-benar ingin melaksanakan tugas prakerinnya tersebut.
__ADS_1
Setelah Sultan membuktikan omongan Dimas, ia pun tak dapat membiarkan temannya itu terdiam membelenggu, dan lantas Sultan membantunya supaya pacarnya percaya kepada Dimas.
"Engga ada yang harus dipermasalahin Teh, lagian ucapan Dimas yang semalam itu tidak menceriminkan dirinya ingin mencari pendamping baru di sini," Sultan menjeda ucapannya sejenak untuk mengambil napas panjang, dikarenakan masalah ini menyangkut pautkan dengan masalah hati seseorang.
"Kita mengambil tugas prakerin jauh bukan semata-mata ingin berliburan, ataupun mencari wanita lain di sini, melainkan kita mengambil tugas prakerin jauh dikarenakan saya pribadi pun ingin merasakan seberapa mandirinya saya, dan seberapa kuat hati saya bisa meninggalkan orang tua beserta pacar saya di Sukabumi," itu adalah sifat seorang Sultan yang sangat menyebalkan, tapi itu hanya ada pada pandangan Rere, bukan ada pada pandangan orang lain selain teman terdekatnya.
Dimas beserta dengan pacarnya pun saling meminta maaf dan saling menermai kekurangannya masing-masing tersebut. Sementara Sultan, dia terlihat sangat bahagia melihat Dimas sebahagia itu karena ulah Sultan yang hampir membuatnya terjatuh juga, namun pada akhirnya Sultan bisa menghilangkan rasa ketakutannya itu dengan secepat mungkin.
....
Di sisi lain Rere sangat mengagumi sifat baik yang Sultan miliki itu, dan dia benar-benar bisa mempercayai bahwa Sultan memang pria dambaannya yang dapat memegang janjinya begitu erat untuk dirinya, siapa lagi kalau bukan Rere.
"Astaghfirullah, sampai kaget gue Be! gue kira kamu masih marah sama gue karena rasa cemburumu itu yang terlalu berlebihan," ucapnya, yang di mana sekarang Sultan bisa merasakan rasa kepercayaan Rere mulai timbul dan mulai hadir menemaninya kembali.
"Sini peluk! jangan lama-lama di sana ya," ucapan manis itu membuat Sultan tersenyum lebar.
"Aihh ... jangan sok manis deh lu Re! gue engga mau dengerin ucapanmu itu, yang ada nanti gue malah sulit untuk menghapus rasa rindu ini."
Pipi mereka saling memerah, apalagi pipi Rere, yang di mana Rere merasa malu karena telah mengucapkan ucapan yang dapat membuatnya enggan untuk menatap raut wajah Sultan, dikarenakan dia pasti akan mengejeknya dengan sangat lepas.
"Jangan sampai ucapanmu itu membuatmu merasa malu di kala nanti gue akan pergi menemuimu kembali di sana Re," ucap Sultan yang semakin membuat Rere malu.
__ADS_1
"Ya, kamunya jangan begitu dong sama gue Tan! gue jadinya malu kan bego!" ucapnya dengan jujur.
"Sejak kapan kamu bisa selembut ini sama gue Be? gue jadi bingung dah sama lu! perasaan baru kali ini gue denger suara lembutmu itu."
"Gue salah ya, Tan?".
Suaranya mulai berubah kembali. Begitu mudahnya dia terpancing dengan ucapan menyebalkan dari Sultan, namun dia takan pernah bisa membiarkan hal yang sangat langka ini mudah berlalu begitu saja.
"Jangan mudah berlalu hanya karena rindu, ke luarkanlah semua sifat aslimu untuk mengungkapkan rindu yang sebenarnya itu apa? dan karena apa? gue mengharapkan lebih sifatmu yang seperti ini, yang mungkin sifat seperti ini hanya akan datang sekali setiap rindu menyapamu," ucapnya penuh perasaan, sehingga Dimas sangat mengapresiasi sifat manis yang dia miliki tersebut.
"Anak siapa sih kamu Tan? kok, bawel ya!".
"Gue kan udah bilang sebelumnya sama lu bego, jangan pernah menanyakan gue itu anak siapa? dikarenakan elu sudah mengenal dekat keluarga gue di sana."
Rere tertawa dengan lepasnya kepada Sultan. Ia adalah Sultan, si pria rese yang selama ini selalu dia anggap menyebalkan, dan bahkan lebih dari hanya sekedar kata menyebalkan.
Namun, dia bisa belajar dari sifatnya tersebut bahwa arti dari kata bahagia yang sesungguhnya itu adalah dia yang dapat menerimai semua apa pun kekurangan prianya, maupun itu menerimai kelebihannya juga.
Kesederhanaan rasa yang membuat mereka bisa merasakan arti dari kata bahagia yang sesungguhnya. Bukan karena harta, ataupun tahta yang sekarang mereka incar, melainkan cintalah yang kini sedang Sultan dan Rere rasakan.
Setelah itu Sultan pun lalu pergi berpamitan kepada Rere, dikarenakan waktu salat zuhur akan segera tiba menyapanya kembali, dan terlebih sehabis ia pulang dari Perusahaan yang esok akan ia singgahi, ia sama sekali belum membersihkan diri.
__ADS_1