
"Gue tegasin sekali lagi, mendingan sekarang elu pulang aja sana! engga sepatutnya cewe berlaga sok hebat di depan orang-orang seperti mereka," ucap salah satu brandalan yang selalu menganggap remeh Aisyah.
"Yang elu maksud itu orang-orang bodoh bukan? ya, elu ada diantara mereka semua, dan mungkin elu adalah perwakilan dari mereka semua," ucap Aisyah dengan lantangnya berbicara bahwa lawan di hadapanya itu adalah orang bodoh.
"Oke, kalau emang itu mau lu, gue bakalan melawan elu hingga elu paham arti dari rasa peduli itu seperti apa, padahal gue udah menyuruh elu untuk pergi, tapi elu malah bersikap keras kepala seperti ini."
Sultan memang benar, mereka semua terlalu banyak berbicara, bila dia lawan dengan argumentasi, sampai esok hari pun takan pernah selesai.
"Ihhh ... bisa diam dan lawan aja engga sih! sakit telinga gue ini bego! lagian itu mulut udah sama cerewetnya seperti seorang cewe, perasaan gue juga cewe, tapi gue engga secerewet itu dah."
Aisyah sudah bingung harus berkata apalagi, sehingga dia pun lebih memilih untuk melawan duluan saja selagi lawannya terdiam sambil berbicara tidak jelas alasanya itu untuk apa, dan untuk siapa.
Bukk ....
Suara pukulan Aisyah terdengar jelas ditelinga Sultan, tak terlalu keras, hanya saja jarak dia dengan Aisyah tidaklah jauh, jadi Sultan dapat mendengarkannya dan dia juga bisa menyaksikannya secara langsung bahwa musuh yang tengah Aisyah hadapi itu ternyata hidungnya mengeluarkan darah.
Sultan tertawa sambil melawan dua musuh sekaligus, rasanya hati dia merasa geli-geli sendiri, sampai wajah dia hampir terkena pukulan dari lawannya, untung saja tawanya itu tak membuatnya lupa, jadi dia bisa melawan para brandalan itu kembali hingga mereka berdua terjatuh.
"Ternyata Sultan engga bohong sama gue, apa yang dia ajarkan kepada gue dulu benar-benar dia buktikan di hadapan gue langsung, gerakan itu adalah gerakan yang pernah dia ajarkan kepada gue, semoga nanti gue bisa mendapatkan pelajaran yang lebih banyak lagi dari dia," ucap Aisyah dalam hati sambil sesekali memperhatikan gerakan berkelahi Sultan.
__ADS_1
Posisi teman-teman Sultan berbalik semenjak Aisyah datang dan membantu mereka semua di sana. Mereka terlihat begitu bersemangat ketika mana melihat Sultan dan Aisyah bertarung melawan musuh bersama-sama.
Rasanya mereka pun tak mau kalah, hingga pada akhirnya posisi para brandalan itu semakin tersungkur jauh, bahkan apa yang pernah musuhnya itu ucapkan kepada mereka semua, kini ucapan tersebut malah menjadi malam petaka bagi para brandalan itu.
Seperti biasa setelah posisi semua teman-teman Sultan sudah bisa dianggap aman, mereka pasti akan mengeluarkan beberapa jurus andalan milik bersama, yakni menyandra satu orang untuk dikelitiki tubuhnya.
"Dim, coba bawa salah satu lawan elu itu ke hadapan gua sekarang juga, elu pastinya udah tahukan gue mau apain dia? pokoknya jurus kita ini jangan sampai dilewatkan begitu saja, sayang Dim, soalnya hal ini sangat jarang kita lakukan," ucap Alamsyah dengan tawa jahatnya.
Satu orang brandalan melawan semua teman Sultan, sementara Sultan dan Aisyah yang akan melawan sisanya hingga perkelahian dimenangkan kembali oleh mereka yang selalu dianggap remeh oleh lawan, padahal lawannya itu sudah dikalahkan oleh mereka semua, tapi tetap saja para brandalan itu masih tak mau mengakui kekalahannya.
....
Alamsyah menyuruh semua temannya untuk mengikatkan tali rapia yang sempat dia temukan di tempat perkelahian yang pertama.
"Sudah siap Lam, apakah kita sudah bisa memulainya sekarang juga? rasanya gue udah engga sabar ingin cepat-cepat menghilangkan rasa lelah gue ini," tanya Dimas begitu halus mengejek lawannya itu di sana.
"Tunggu kepastian pemimpin kita dulu. Tan, bagaimana nih, apakah kita boleh mengeluarkan jurus andalan kita ini sekarang?" tanya Alamsyah, di mana pertanyaannya itu tak direspon oleh Sultan karena Sultan tidak ada di sana.
"Lah ... ke mana pemimpin kita pergi! kok, dia engga ada di sana, udah itu dia engga bilang lagi sama kita kalau dia telah selesai membereskan semua pekerjaannya," ucap Alam dengan seketika dibuat bingung oleh Sultan yang pergi begitu saja.
__ADS_1
Sebenarnya setelah Sultan membereskan semua para brandalan itu, dia lupa bahwa dia harus mengantarkan teman wanitanya pergi ke warung untuk membeli makanan yang Aisyah sebut-sebut itu sebelumnya.
Tapi, itu tak lama, setelah teman-temannya menunggu sekejap, hingga pada akhirnya Sultan pun datang kembali bersama dengan Aisyah.
Ternyata mereka berdua hanya pergi untuk membeli beberapa minuman segar saja agar rasa haus setelah berkelahi itu menghilang.
"Nah, itu si Sultan, darimana aja lu Tan? jadi gimana nih, apakah kita boleh mengeluarkan jurus andalan kita sekarang?" tanya Azmi sudah tak sabar ingin tertawa lepas bersama semua rekan-rekannya.
"Engga ada inisiatipnya! apa-apa harus bilang sama gue dulu, bersikap lebih mandirilah sedikit saja, elu semua sudah dewasa, apa-apa harus elu lakuin sendiri, jangan terus-merus menunggu kepastian dari gue, apa pun yang elu semua lakuin, gue pasti setuju."
Sultan telah menjawab pertanyaan dari mereka semua, lantas mereka pun mulai memperlihatkan jurus andalan yang selalu mereka banggakan itu.
Mereka memang sengaja menunggu Sultan datang terlebih dahulu, dikarenakan mereka juga ingin memperlihatkan jurus andalannya itu seperti apa dan sebahaya apa kepada teman wanita kenalan Sultan itu.
Begitu lepasnya Aisyah tertawa, dan ternyata jurus terakhir yang mereka sebut-sebut itu mengarah ke suatu arah yang tidak jelas apa alasan mereka melakukan hal tersebut kepada semua lawannya.
"Apaan sih kalian ini, kagak jelas tahu gak! udahlah tuh, jangan mempermalukan harga diri seorang brandalan seperti dia dengan cara aneh yang kalian miliki ini, hihi," ujar Aisyah, di mana dia begitu lepasnya tertawa pada saat dia melihat tingkah laku para petarung jalanan yang ternyata mereka juga masih memiliki sikap lucu seperti ini.
"Itu adalah cara mereka menghilangkan semua beban perkelahiannya Syah, dengan cara tertawa lepas bersama seperti ini, rasa lelah dan letih itu tanpa sengaja hilang begitu saja. Tidak ada alasan lain yang harus dijelaskan, hanya saja ada satu yang harus kamu ketahui, yakni bahagia dengan cara sederhana."
__ADS_1
Penjelasan Sultan menyadarkan Aisyah, dan sekarang dia tahu apa itu arti dari rasa kebahagiaan yang sederhana serta dia juga mengetahui arti dari kebersamaan yang sesungguhnya itu seperti apa.
Pertarungan telah usai, ini adalah pertarungan terakhir bagi mereka semua, dan tentunya ini juga adalah kemenangan yang kedua kalinya bagi mereka juga.