Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 425 : Waktu ku untukmu


__ADS_3

Sultan pun kembali duduk di kursi kelas itu sembari menuliskan absensi kehadiran untuk Akbar, yang di mana waktu itu ia menuliskan absensi ketidak hadiran Akbar di dalam sana dengan alasan sakit.


Dan setelah itu, ia pun lalu kembali mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya itu tadi, dikarenakan semua materi pembelajaran, sudah disampaikan semua oleh guru mata pelajaran yang pertama.


Tak silam beberapa lama, bell istirahat sekolah pun berbunyi, dan lantas Sultan pun kembali menggenggam handphonenya itu karena ia begitu sangat penasaran, kenapa Rere menelepon dirinya disaat keadaan Sultan tengah dilanda kegentingan.


"Aihh ... ini anak emang bawel ya! kenapa juga lagi dia spam chat sebanyak ini? apa ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan sama gue di sana ya," ucap Sultan dalam hati sembari menelepon kontak Whatsapp Rere dengan sesegera mungkin.


Dan ternyata, status online dikontak Whatsapp Rere itu adalah status, yang di mana kala itu Rere benar-benar menunggu Sultan di sana, dan dia sama sekali tidak membuka kontak Whatsapp teman-temannya yang lain, dikarenakan dia hanya mengharapkan kehadiran Sultan saja.


"Lama amat sih Tan! kemana aja kamu? padahal tadi itu aku sempat meneleponmu loh Tan, tapi kenapa kamu engga menjawabnya? apa kamu marah sama aku ya, Tan? karena aku sering merepotkanmu," ucap Rere kepada Sultan sembari menundukan kepalanya itu dengan sikap yang entah dia sedang memikirkan apa di sana.


"Aku selalu ada kok, Be, dan aku engga akan pernah kemana-mana karena tempat tujuanku itu nanti adalah rumahmu di sana Be," ucap Sultan berbicara kepada Rere sembari tersenyum seorang diri di dalam ruangan kelasnya itu.


"Ada apa nelepon Be, apakah ada hal penting? kalau hal nya hanya sekedar rindu, sepulang sekolah aku bakalan datang menemuimu lagi di sana," ucap Sultan kembali.


"Buat apa aku rindu sama anak rese seperti kamu! dan aku tuh bukan lagi rindu Tan, tetapi aku cuma bingung aja sama kamu Tan! kenapa aku telepon dari tadi kamu engga mau mengangkatnya?".


"Aku ceritain nanti di rumah ya, Be, soalnya aku di sini lagi belajar, dan bentar lagi mau masuk, ini aku ada di dalam kelas kok, Be."


Tutt ....


Suara telepon dimatikan oleh Sultan, dikarenakan kali ini Rere yang menyuruhnya untuk mematikan teleponnya lebih dulu, etah itu karena apa, dan yang jelasnya Rere lagi merindu buta kepada Sultan, namun dia malu untuk mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya di sana.

__ADS_1


Kringg, keringg, kringg ....


Suara bell masuk sekolah telah menyala, dan Sultan di sana kembali belajar seperti biasa lagi, dan tentunya ia mengharapkan bell pulang sekolah berbunyi kembali.


Tak silam beberapa lama, dan Sultan pun hanya perlu menunggu waktu pulang sekolah itu tiba, yang di mana ia sangat menunggu waktu itu, dikarenakan ia ingin kembali menemui kekasihnya yang tengah sakit itu.


Beberapa jam telah berlalu, dan ia hanya perlu menghabiskan 3 jam lebih waktu untuk menunggu dirinya bisa pulang kembali menemui Rere, dan beristirahat kembali untuk memulai hari-hari manisnya itu bersama dengan Rere.


Kringg, kringg, keringg ....


Suara bell yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa itu, kembali menyala, dan alangkah senangnya semua siswa di dalam sekolah itu, bahkan kawan-kawan Sultan semuanya bersorak keras, akan menunggu hal itu tiba menyapa mereka kembali di dalam sana.


....


Dan sementara itu di sana, Rere telah menunggu Sultan itu hadir kembali menemuinya dengan dibawakannya segelas ninuman, yang di mana minuman itu adalah jus mangga yang dia buat sendiri, dan tentunya itu adalah suatu sikap perhatian dari Rere yang dia berikan untuk membuat Sultan semakin betah kepada dirinya.


Suara motor tua begitu terdengar jelas ditelinga Rere, yang di mana dia pun mendengar suara Sultan yang sedang berbicara dengan ibunya itu di luar ruangan rumah.


"Asalamu'alaikum," ucap Sultan yang langsung mengecup tangan ibu dari Rere itu, dikarenakan beliau memang ada di depan teras rumah itu di sana.


Ibu Rere menjawab salam dari Sultan, dan lalu beliau pun menyuruh dirinya untuk masuk ke dalam rumah, dikarenakan Rere telah menunggu kehadiran Sultan dari jam 2 siang menjelang sore hari.


Namun, di sana sebelum ia masuk ke dalam rumah, Sultan pun sempat menggendong adik bungsu dari Rere itu terlebih dahulu, dan justru ia pun membawanya masuk ke dalam rumah, dikarenakan ibunya akan pergi ke luar sebentar untuk membelikan anak bungsunya itu pamper.

__ADS_1


"Haii, lagi apa di sana? udah itu menyorang diri lagi, emang engga ada yang nemenin kamu ya? kesian dah pacar gue yang cantik ini," ucap Sultan sembari menggendong adik bungsunya itu.


"Kok, dia bisa ada sama kamu sih Tan? ibunya ke mana? balikin lagi ke ibunya sana," ucap Rere sembari menatap Sultan yang begitu dekat sekali dengan adik bungsunya itu di sana.


"Ibunya lagi pergi ke warung sebentar Re, jadi engga apa-apa lah, adikmu ini biar gue yang urus, dan terlebih gue suka beut gendong adikmu ini, dan ini semua itung-itung gue lagi latihan aja Re," ucap Sultan yang membuat Rere tersenyum lebar.


Rere tersenyum, dan tentu saja dia pun merasa malu-malu sendiri dengan apa yang Sultan ucapkan itu tadi kepada Rere.


Dan tentu saja Rere merasa bahwa Sultan sudah memberikan kode keras kepadanya, bahwa ia sudah tak sabar menunggu hari kelulusan itu tiba.


Suara langkah kaki terdengar jelas ditelinga mereka semua di sana, dan yang di mana ibunya itu menghampiri kediaman mereka berdua, dan setelah itu ibu Rere hanya ingin mengambil anaknya kembali, dikarenakan beliau ingin mengganti baju anaknya itu.


Dan kembali lah Sultan berbincang dengan Rere, yang di mana seolah-olah mereka berdua sedang berada di tempat yang begitu jauh dari rumahnya, dikarenakan pertemuan dan perbincangan itu membawakan suatu keadilan rasa, serta kehangatan rasa.


"Aku tahu kalau kamu rindu Re, dan itu engga perlu kamu sembunyikan, dikarenakan itu percuma, dan kamu di sini sudah lupa apa ya, bahwa pacarmu ini adalah pacar yang selalu mementingkan keadaanmu lebih dulu," ucap Sultan sembari menatap Rere dengan tajam.


"Hmm," Rere hanya berguman, dikarenakan Rere tak mau banyak berbicara kepadanya, dan terlebih dia tidak bisa membohongi pacarnya itu, bahwa dia sekarang memang tengah merindukan dirinya.


"Mulutmu hanya bergumam, dan berarti aku benar, bahwa kamu tengah rindu akan hal yang akan bisa membuatmu tersenyum kembali."


"Bohongku adalah rasa untuk membuatmu peka terhadap diriku ini Tan, dan tentunya kamu lebih peka dan tak perlu dipekakan terlebih dahulu, dikarenakan kamu itu memang lebih baik daripada aku di sini," ucap Rere yang malu menatap wajah Sultan, padahal sebenarnya dia sangat ingin menatap Sultan, namun apa daya sikap seorang pemalu seperti Rere, dan jadi dia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya itu dengan sesaat saja terlebih dahulu, sebelum Sultan yang menyuruhnya dan mendekatinya untuk menatapinya dengan setajam mungkin.


Hari masih panjang, dan hari kemarin pun masih ada, bahkan hari itu takan pernah cepat habis, dikarenakan waktu itu masih menunjukan sikap terbaiknya untuk Sultan dan Rere yang tengah merindu itu.

__ADS_1


__ADS_2