Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 101 : Keindahan Curug Ciberem


__ADS_3

Langkah kaki bunda terhenti dengan seketika, yang di mana beliau hanya ingin melihat kondisi para anak asuhannya itu di belakang sana, dan lantas bunda pun dibuat terkejut, bahwa Sultan dan anaknya Mawar itu tertinggal di belakang sana.


"Break! Sultan dan Mawar kemana? tunggu mereka dulu, kalau mereka belum datang dalam jangka waktu sepuluh menit, maka kita akan kembali ke belakang," ucap bunda yang berbicara kepada semua anak asuhannya itu di depan sana.


"Biar Danar yang kembali ke belakang aja bunda, kalian tunggu di sini aja," ucap Danar kepada bundanya dengan tatapan yang agak sedikit khawatir.


"Engga usah Danar, bunda percaya sama Sultan, mungkin dia lagi istirahat sama Mawar di belakang sana, kemungkinan besar, sebentar lagi mereka juga pasti bakalan sampai di sini."


Padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka akan segera sampai di lokasi, gemuruh suara air terjun sudah terdengar jelas di telinga mereka, dan bahkan air yang seperti air hujan yang berjatuhan di atas langit pun sudah mulai menyapa mereka.


Seluruh anggota team pun terduduk sembari terlamun, yang di mana ini bukan hari libur, dan pastinya hanya sebagian orang yang akan mengunjungi tempat ini, dan tentunya hari itu masih sepi pengunjung, sehingga mana bunda takut takan ada orang yang bisa menolong mereka berdua bilamana kedua anaknya itu sedang mengalami kesulitan dalam melakukan perjalanannya ini.


Tapp, tapp ....


Suara langkah kaki terdengar jelas, dan suara langkah kaki itu pun tak terdengar seperti seseorang yang sedang kelelahan, melainkan langkah kaki itu terdengar seperti seseorang yang sedang memberikan semangat kepada semua rekan teamnya itu di sana.


Dan ya, itu adalah suara langkah kaki Sultan, yang di mana tatapan itu dengan seketika tertuju kepada pria manis itu di sana, kenapa tidak! dikarenakan Sultan benar-benar menggendong kakaknya itu hingga ke tempat tujuannya.


Raut wajah khawatir bunda berubah, yang di mana senyuman itu diberikan kepada semua anak asuhanya itu di sana, dan dengan seketika mereka semua pun berdiri ketika mana Sultan telah hadir dengan keadaan fisik yang masih baik.

__ADS_1


"Gue bilang apa kan Teh? mereka semua pasti nunggu kita di sini, dan jadi teteh engga usah takut nyasar, soalnya ingatan ini masih ada dan belum pudar," ucap Sultan kepada kakaknya, yang di mana ia masih menggendong manis tubuh kakaknya itu.


Kakaknya hanya terdiam kaku, dan tentunya Sultan pun merasa sangat heran! kenapa dia mengabaikan ucapan Sultan tadi, padahal di jalan sana dia sempat tertawa bersama dengan Sultan, namun akan tetapi kenapa dia tiba-tiba terdiam tanpa kata.


Sultan pun sempat memberhentikan langkahnya itu, dan ia pun lalu menurunkan tubuh kakaknya itu dengan perlahan-lahan untuk memastikan keadaan kakaknya itu baik-baik saja.


"Detak nadinya normal, tapi kenapa dia engga sadarkan diri ya? apa mungkin dia tidur karena kelelahan? dasar kakak bolot! kalau gue engga sayang, udah gue tinggalin lu di belakang sana," ucap Sultan yang menunggu hingga kakaknya itu terbangun dari tidurnya.


Bunda menghampiri Sultan, dan lalu bunda pun menyuruh anak asuhannya itu untuk berjalan ke tempat tujuan terlebih dahulu, dikarenakan beliau sedikit agak takut kepada kesehatan Sultan, dan terlebih jalanan untuk pergi ke Curug Ciberem itu jalanannya tak selamanya datar, melainkan ada yang menanjak, dan ada yang menuruni.


....


"Bunda pernah bilang kepada Sultan untuk tetap menjadi pria kuat, dikarenakan tulang punggung keluarga berpacu kepada anak laki-laki," ucap Sultan yang langsung mencubit kedua pipi bundanya itu dengan sangat manis.


"Bunda itu heran sama kedekatan kalian Tan! bisa dibilang kalian itu bukan seperti adik dan kakak, melainkan ketika mana bunda melihat kedekatan kalian yang seperti ini, bunda merasa kalian itu adalah sepasang kekasih hati," ucap bunda yang membuat kakak angkatnya itu terbangun dari tidurnya.


Sultan tersenyum, dan lantas Teh Mawar pun juga ikut tersenyum ketika mana bundanya itu berkata seperti itu kepada Sultan di sana.


Saking kelelahanya kakaknya itu, hingga mana dia tertidur pulas digendongan Sultan, dan tentunya hal itu semakin membuat kakaknya itu merasa nyaman dan tak ingin melihat perpisahannya nanti itu terjadi.

__ADS_1


"Masa sih Bun? kalau gitu Mawar siap jadi yang kedua buat Sultan di sini dah," ucap Teh Mawar yang mengejutkan bundanya dengan Sultan.


"Dihh, geli dengernya gue Teh! engga ya, dan itu engga akan pernah terjadi pada gue Teh! lagian bunda mana setuju kan Bun?" ucap Sultan yang langsung mencubit pipi kakaknya itu dengan agak keras sedikit.


"Kamu lebih cocok bersanding dengan Rere sih Tan, tapi kalau kamu belum memiliki Rere, mungkin kamu cocok dengan Mawar juga, dan tentunya bunda pasti akan merestui hubungan kalian berdua, walaupun umur kalian cuma berbeda dua tahun," ucap bunda, yang di mana pipi anak wanita tertuanya itu kembali memerah.


"Bunda sih! kenapa malah bilang begitu! jadinya pipi dia memerah kayak begitu tuh," ucap Sultan kembali, yang di mana ucapannya itu membuat bundanya tersenyum.


Langkah kaki pun mulai kembali dilangkahkan, dan tentunya perjalanan pun akan segera usai, dikarenakan tujuan mereka untuk menyinggahi Curug Ciberem sudah berada di depan mata, hanya tinggal menuruni turunan, mereka pun sudah akan disuguhkan dengan permandangan alam hasil ciptaan Tuhan yang begitu besar dan indah.


Mereka semua di sana bukan hanya bisa melihat indahnya Curug Ciberem saja, melainkan mereka juga bisa melihat indahnya kedua Curug yang masih ada di sekitaran Curug Ciberem, yaitu Curug Cidendeng, dan Curug Cikundul.


Curug Cidendeng letaknya tak cukup jauh berada di samping Curug Ciberem, dan Curug Cikundul letaknya agak sedikit tersembunyi dengan aliran airnya lebih kecil dibandingkan dengan kedua Curug tersebut itu.


"Panorama Curug Ciberem, lebih indahkan bilamana dibandingkan dengan Panorama raut wajah mantanmu yang bodoh itu Teh?" ucap Sultan yang masih merangkul bahu kakaknya itu dengan manis di tempat sana.


"Ucapanmu bisa dipercaya ya, Tan, dengan seketika cepatnya, raut wajah dia telah hilang begitu saja, entah apa yang telah kamu lakukan kepada gue! namun tentunya itu adalah hal yang gue inginkan Tan," ucap Teh Mawar sembari menyandarkan kembali kepalanya itu dibahu Sultan.


Indahnya pelangi yang ditimbulkan oleh jatuhan air terjun yang berada sekitaran di Curug Ciberem itu, semakin memanjakan mata mereka semua, dan terlebih kakaknya itu sangat senang bila Sultan berada di sampingnya, dan tentunya kebahagiaan kakaknya itu takan pernah terasa lengkap bilamana dia tidak menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan.

__ADS_1


__ADS_2