Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 46 : Tertawa kembali


__ADS_3

Malam pun telah tiba, yang di mana Sultan telah melaksanakan semua kewajibannya di sana. Dan seperti biasa, Rere pun masih belum mengabari Sultan, yang padahal di mana ia tengah benar-benar menunggu Sultan di sana.


Kontak Whatsapp Rere terlihat sedang aktif, namun Rere di sana masih saja menghiraukan Sultan karena hari itu benar-benar membuat Rere merasa bimbang, akan prianya itu meninggalkannya di sana.


Kembali lah Sultan menduduki kursi yang berada di depan teras rumahnya itu. Malam itu, hujan pun tak terlihat akan turun lagi mengguyuri kota kecilnya tersebut.


Dan lantas Sultan pun masih menunggu Rere yang meneleponnya lebih dulu. Sultan sengaja membuatnya menunggu karena Rere adalah wanita perindu, dan jadi Sultan tak perlu mengkhawatirkannya karena beberapa menit lagi, Rere pasti akan bersikap manis kepadanya kembali.


Tak silam beberapa lama, dan akhirnya Rere pun mau mengalah kepada Sultan, lantas Sultan pun dibuat tersenyum oleh sikap Rere itu. Siapa sangka! Rere akan mengalah kepada Sultan, hingga pada akhirnya Rere pun menelepon Sultan lebih dulu di sana.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon berbunyi.


"Ada apa nelepon Re? kangen ya? makanya ... jangan sok-soan engga perduli gitu sama gue," ucap Sultan sembari tertawa di depan teras rumahnya itu.


"Elu mah gitu mulu dah Tan! tahu ah ... gue ngambek pokonya!" ucap Rere kepada Sultan.


"Hmm, lagian elu sih Re! emang elu kagak rindu sama gue gitu? perasaan marah-marah melulu dah! emangnya gue punya salah apa sama elu Re?".


"Hmm," gumam Rere singkat saja di sana.


"Nah kan, mulai kangen kan elu Re, sama gue. Lagian sih ... punya penyakit darah tinggi bukannya cepet-cepet diobatin, malah didiemin kayak gitu aja," ucap Sultan dalam hati.


"Udah, cuma hmm, aja? singkat amat sih bolot! hehe."


"Bodo amat! gue engga perduli! pokonya gue engga mau ngomong lagi sama elu Tan."

__ADS_1


"Ciee, ngomong-ngomong ... elu udah salat isya belum ni Be? kalau belum salat, elu salat dulu sana, nanti kita lanjutin lagi berantemnya," ucap Sultan dengan manis.


"Ihh, ini anak, rese banget dah! kok, dia malah mau ngelanjutin berantemnya sih! udah gila emang si bolot ini mah," ucap Rere dalam hati.


Lantas Rere pun menyuruh Sultan untuk menunggunya sebentar di sana karena pada dasarnya, dia belum melaksanakan kewajibannya tersebut di sana.


Sultan pun lalu kembali menunggu Rere, dan di sana Rere pun sengaja tidak menutup teleponnya itu karena ia merasa takut bahwa Sultan akan menelepon wanita lain selain dia.


Rere merasa curiga kepada Sultan karena Rere mengira Sultan itu sedang mempermainkannya di sana. Itu sebabnya kenapa Rere takut ia pergi jauh meninggalkannya, dan terlebih Rere merasa bahwa Sultan begitu inginnya pergi jauh dari sisinya, dan apakah itu adalah peringatan bagi dirinya! bahwa Sultan telah merencanakan sesuatu untuk pergi ke luar kota bersama dengan wanita lain.


Namun, itu bukanlah sifat Sultan, dan tentunya Sultan takan pernah bersikap tidak adil kepada wanitanya itu, dan terlebih Rere juga sudah mengetahuinya bahwa Sultan bukanlah tipe laki-laki yang seperti itu, hanya saja ia sedang merasa tak lagi percaya diri saja, akan kepergian kekasihnya itu nanti.


Alasan Rere itu memang terlalu berlebihan, dan Sultan pun di sana sedang berusaha untuk memahami wanitanya itu, supaya ia lebih mempercayai Sultan bahwa dia pergi ke luar kota hanya ingin mencari ilmu yang lebih dalam lagi.


Pertengkaran takan pernah bisa menyelesaikan masalah, dan maka dari itu, Sultan di sana tengah mempersiapkan cara agar wanitanya itu bisa membiarkan Sultan pergi jauh sebentar dari sisinya nanti.


3 Bulan bukan lah waktu yang cukup lama, dan perpisahan itu takan pernah membuat kisahnya ini hilang begitu saja, dan malahan kisah yang mereka buat akan semakin panjang saja karena jarak bukan hanya tentang perpisahan saja, melainkan bertentangan ke arah titik kebahagiaan yang takan pernah memudar, bilamana rasa sayang itu masih tetap ada dibenak mereka berdua kelak nantinya.


"Maaf ya, Tan, kalau aku kelamaan salatnya tadi."


"Baguslah Re, berarti elu khusyuk salatnya tadi, engga apa-apa Re, gue seneng lihatnya kok, tapi ... gue saranin lagi elu salatnya harus tepat waktu ya, Re, itu jauh lebih baik untuk kamu lakuin."


"Iya Tan, maaf, entah kenapa semangat gue ilang tiba-tiba," ucap Rere dengan nada renda.


"Gue engga akan pernah ninggali elu kok, Re, dan gue engga akan pernah berniat untuk pergi jauh dari sisi elu, dan terlebih gue berangkat sama teman-teman cowok gue Re, elu engga usah takut kalau gue janjian sama cewe lain di sana."

__ADS_1


"Tuh kan! dia bisa nebak isi hati gue, dan dia juga bisa nebak isi dalam pikiran gue itu apa," ucap Rere dalam hati.


"Apaan sih Tan! gue engga cemburu kok," ucap Rere gugup.


"Ini bukan soal cemburu loh Re, melainkan banyak hal yang harus dibahas lagi selain kata-kata cemburu."


"Elu engga akan pernah bisa bohong sama gue Re, hati gue selalu berkata bahwa elu sedang tidak baik-baik saja di sana, dan maka dari itu stop lah Re, elu engga usah bohong karena gue udah tahu sifat elu."


"Manjanya elu, manisnya elu, resenya elu, dan bahkan waktu tidur elu pun gue tahu Re, jadi ... elu engga akan bisa bohong lagi sama gue karena gue sayang sama elu di sana," ucap Sultan berbicara panjang lebar kepada Rere tanpa lelah.


"Gue suka tidur jam berapa coba?".


"Rere gue sering tidur jam 10, dan kalau lagi cape berat ... Rere gue sering tidur jam 8 atapun jam 9, dan kalau lagi susah tidur ... Rere gue sering tidur jam 11 ataupun jam 1."


"Bener sih ... tapi kalau makanan kesukaan gue, pasti elu engga tahu kan Tan?".


Sultan pun di sana tengah menggunakan waktunya itu dengan sebaik mungkin karena Rere sudah mulai masuk ke dalam zona nyamannya lagi, yang di mana zona nyaman itu kini sedang Sultan buat-buat sekarang, demi untuk menghibur Rere di sana.


"Elu pernah bilang sama gue bahwa elu suka makan daging landak beserta dengan durinya juga kan?".


"Hmm, apaan sih Tan! hehe, engga ada dih, itu mah elu kali Tan, jangan main asal tebak aja lu bolot! gue tabok! baru tahu rasa lu nanti," ucap Rere malam itu tertawa dengan lepas, ketika mana ia mendengarkan ucapan Sultan itu tadi.


"Gini kan enak Re, didengarnya. Udah ya, kali ini gue suka elu seperti ini, engga marah-marah mulu kayak orang gila, engga lempar batu ke kaca, dan sejujurnya gue takut tadi Re, kalau elu bakalan nuklir rumah gue nantinya."


Dan lagi-lagi, Rere dibuat tertawa kembali olehnya, dan sejujurnya itu adalah malam yang di mana rasa khawatir menjadi hilang sekejap mata.

__ADS_1


__ADS_2