Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 406 : Sulit untuk tertidur


__ADS_3

Ibu Sultan memanggilnya setelah mana ia telah melaksanakan salat zuhurnya itu di masjid sana, dan ibunya itu memberitahu Sultan bahwa Rere tadi menelepon beliau karena Rere merasa khawatir akan Sultan marah kembali kepadanya.


"Pacarmu tadi nelepon mamah, katanya kenapa kamu engga menjawab panggilan suara dari dia? Rere khawatir tuh sama kamu," ucap ibu Sultan.


"Bawel amat dah anak mamah yang satu ini! dia bilang apa aja sama mamah?".


"Telepon aja sendiri Tan, entar kamu juga bakalan tahu sendiri kok, lagian kenapa kamu engga angkat telepon dari dia? kesian Tan, jangan diemin dia, mamah udah sayang nih sama Rere, jadi kamu jangan coba-coba sakitin dia di sana."


"Bawel beut dah mamah gue yang satu ini," ucap Sultan sembari mencubit kedua pipi ibunya itu di sana.


Tak lama setelah Sultan masuk ke dalam kamarnya itu di sana, ia pun lalu pergi ke luar rumah kembali, untuk berdiam diri di sebuah sungai, yang di mana sungai itu letaknya tak cukup jauh dari rumah Sultan, hanya tinggal menuruni beberapa puluh tangga, ia pun telah sampai di tempat sana.


Suara gemuruh air sungai, serta dibarengi dengan gercitnya suara burung yang berkicauan di atas bukit sana itu, sungguh membuat mata tak bosan menatap keindahan alam, yang telah diciptakan dan diberikan kepada umatnya di bumi ini, begitu sangat indah.


Suara nafas pun ia hisap dalam-dalam, dan kemudian itu, ia pun lalu menghembuskannya dengan perlahan sembari melihat ke atas langit biru, yang di mana hari itu sungguh sangat bersahabat dengan dirinya di sana.


"Jangan butakan mataku Tuhan, karena aku masih ingin menatap indahnya negri ini, meskipun tuaku akan membuatku semakin lemah tak berdaya, namun lupaku untuk melupakanmu, takan pernah hadir dan takan pernah ada dalam hati ini," ucap Sultan yang masih menatap langit-langit di atas sana sembari menidurkan seluruh badannya itu, disuatu batu yang memang cukup agak panjang dan lebar juga.


Ia pun menatap kembali handphonenya itu di sungai sana, dan sebelum ia menelepon Rere, ia pun sempat menatap wajah Rere terlebih dahulu karena setiap inspirasi dan kata-kata manisnya itu, akan selalu tertuju pada raut wajah Rere seorang saja.

__ADS_1


Kringg, kringg, kringg ... suara handphone Rere menyala, yang di mana waktu itu, Sultan meneleponnya ketika mana hanya ada Teh, Fitri seorang saja di sana, dan yang di mana itu, dia sedang menemani Rere karena dia merasa bahwa dia memang harus menemani Rere di sana, dikarenakan Teh, Fitri hanya takut lamunannya itu akan membuat Rere menjadi semakin tak sadarkan diri saja.


"Pacarmu nelepon tuh Re? katanya kamu kangen sama dia bukan? yaudah angkat aja, lagian teteh juga lagi teleponan sama kakakmu ini di sana," ucap Teh, Fitri sembari mencolek pipi Rere.


"Apaan? kenapa baru angkat telepon dari gue? dan udah itu berisik lagi di sana! kamu lagi di mana?" ucap Rere yang tiba-tiba memarahi Sultan.


"Dih, elu yang apaan Re! orang baru aja nelepon, kok, udah dimarahin lagi! emang elu kagak kangen apa sama gue di sini Re? padahal itu main lama amat! kapan pulangnya coba, bukannya besok elu sekolah ya?" ucap Sultan yang sama bawelnya dengan Rere.


....


Suara yang Rere dan Sultan ke luarkan itu, sungguh membuat raut wajah Teh, Fitri tersenyum iri kepada mereka berdua di sana, dikarenakan sudah 1 Tahun lebih Teh, Fitri tidak bertemu dengan kakak Rere di negri Jepang sana.


"Sekalinya diangkat, malah kamu marahin Re! emang rindu kamu sama Sultan kayak gitu ya?" ucap Teh, Fitri kembali.


"Tetehmu juga pasti bakalan tahu Re, rasa rindu tanpa dikasih sebuah kabar itu gimana rasanya Re, dan terlebih bertemu dengan sesaat itu rasanya seperti salam perpisahan saja, benar kan Teh?".


"Yap, benar Tan, teteh setuju sama kamu."


"Tahu ah! kalian berdua sama aja resenya. Aku tadi nanya sama kamu Tan? itu kamu lagi di mana? perasaan suaranya berisik amat Tan."

__ADS_1


"Emang kamu engga denger apa Re? suara gemuruh air sama kicauan burung ini?".


"Gue tahu Tan, gue cuma mau mastiin aja kalau elu emang benar-benar ada di rumah, dan terlebih gue engga tahu kalau rumahmu itu deket sama sungai."


"Makanya Re, sini main ke rumah gue, dan terlebih sungai gue lebih indah bila dibandingkan dengan aliran sungai yang berada di rumah elu itu di sana."


"Kapan-kapan ya, Tan, aku masih malu soalnya."


"Gue udah kenal sama bapak dan mamah elu Re, masa elu engga mau gue kenalin sama bapak dan mamah gue juga di sini Re, itu kagak adil lah bagi gue Re!".


"Malu, tapi mau Tan, Rere mah emang gitu orannya, serba kagak jelas, jadi kamu jangan heran sama dia ya, sabar pokoknya Tan," ucap Teh, Fitri yang masih lebih memilih untuk membela Sultan di sana.


"Tahu ah, teteh diem aja udah! lagian urus aja pacar teteh yang ada di Jepang itu," ucap Rere.


Seyuman itu masih tetap utuh di keluarkan oleh Sultan dan Teh, Fitri di sana. Suara kekesalan yang Rere berikan kepada Sultan itu, masih tetap terdengar lembut ditelinga Sultan, dikarenakan Rere adalah wanita penyayang, yang di mana Rere takan pernah bisa berbicara menggunakan nada tinggi kepada Sultan.


Entah berapa lama perbincangan itu berjalan, hingga pada akhirnya tubuh Sultan kembali berdiri tegak, dan lantas Rere pun mematikan telepon suara itu, dikarenakan keluarganya itu akan segera pergi meninggalkan tempat tersebut itu di sana.


Langkah kaki kembali digerakan oleh Sultan, yang di mana langkah kaki itu kini mulai memijaki dan menaiki anak tangga, dan yang di mana anak tangga itu adalah suatu jalan untuk menaiki dan menuruni keberadaan sungai yang berada di atas rumahnya itu di sana.

__ADS_1


Pagi menyapa, hingga siang, dan sore hari pun kembali tak mendukung waktu, yang di mana malam lah yang akan selalu memberikan kedinginan, dan yang di mana kedinginan itu, akan selau membuat hati Sultan kembali terbelenggu karena di balik ketakutannya akan tertidur malam itu, ada suatu mimpi yang selalu hadir, dan membuat mimpi itu menjadi semakin buruk saja bilamana ia ingat-ingat kembali.


Insomnia, dia adalah lawan Sultan untuk saat ini, dan malam kelam, serta sunyi itu, akan selalu menjadi temannya untuk selamanya, bukan karena ia lemah, akan tetapi ia hanya berpikir bahwa mimpi itu adalah suatu peringatan! bahwa cinta, akan pergi pada waktunya, dan cinta akan datang kembali bila memang jodohnya.


__ADS_2