
Apel pagi telah terlaksanakan, semua siswa pun mulai memasuki area dalam Perusahaan. Sultan bersama dengan teman-temannya kali ini ditemani oleh Aisyah, dikarenakan sekarang dia ditugaskan di tempat yang sama seperti Sultan, namun berbeda bidang tentunya.
Seperti biasa sebelum kembali bertugas Sultan dan seluruh karyawan akan dibariskan untuk melaksanakan briefing terlebih dahulu.
Setelah briefing terlaksanakan, Sultan pun mulai mengecek barang bersama dengan Bang Boa di dalam dan di luar gudang. Sementara Bang Falah masih mengecek barang dibidangnya sendiri, dan setelah tugasnya selesai, Bang Falah baru bisa membantu Sultan dengan Bang Boa di dalam gudang.
Bang Boa menyuruh Sultan naik ke atas rak barang untuk menata rapi barang yang tak lama tiba di dalam area Perusahaan.
Tak lama kemudian Bang Falah pun datang, mereka mulai mengambil tugas untuk mengirimkan barang rakitan ke area produksi.
"Maaf Tan, gue telat, soalnya barang gue masih numpuk di sana, ini juga gue baru selesai menghitung jumlah barang yang baru sampai tadi," ucap Bang Falah sembari membantu Sultan mengangkat barang yang tengah dia tata di dalam sana.
"Kagak apa-apa Bang, gue juga lagi ngerapihin barang sama Bang Boa, kebanyakan barangnya semua disimpan di luar ruangan gudang, jadi Bang Boa sama Bang Udin sekarang lagi ngambil barang di luar sana," ucap Sultan mulai merasa lega ketika mana dirinya melihat Bang Falah telah hadir di dalam sana.
Barang yang datang itu banyak sekali, jadi Sultan merasa lebih ringan melakukan pekerjaannya yang sekarang ini bilamana Bang Falah datang untuk membantunya.
"Pantas saja gue engga lihat mereka berdua di dalam sini Tan, ternyata mereka lagi ada di luar."
"Gue bingung dah Bang! kenapa Bang Boa sama Bang Udin tertawa-tawa berdua dari tadi pagi ya, gue jadi takut Bang kalau mereka punya hubungan spesial melebihi dari sekedar rekan kerja," ucapan Sultan dengan seketika membuat Bang Falah merasa geli-geli sendiri, kalaupun itu benar, semoga penyakit tersebut tidak menular kepada dirinya dan juga Sultan.
Bang Falah tertawa lepas, namun Sultan tak dapat menirukan tawa lepas dari Bang Falah itu di dalam sana. Sultan hanya terdiam sembari memikirkan ucapannya itu apakah benar, ia berharap semoga apa yang telah dirinya ucapkan tadi kepada Bang Falah itu tidaklah benar dan nyata adanya.
Bang Boa dan Bang Udin kembali ke dalam gudang, sementara Sultan dan Bang Falah menatap tajam raut wajah mereka berdua, dan sepertinya ucapan Sultan memang benar, mereka masuk ke dalam gudang dengan sikap yang tak biasanya.
__ADS_1
"Woii, kalian kenapa, ada yang salah dengan wajah gue? ohh gue tahu sekarang, kalian pasti lagi mengagumi ketampanan gue kan?" tanya Bang Boa yang tak menyadari pemikiran mereka di dalam sana.
"Iww! jijik gue dengernya Bo, elu mah lebih mirip disamakan dengan sepatu gue ini nih," ucap Bang Udin dengan lantangnya menyinggung perasaan Bang Boa, namun ucapannya itu tidak lebih hanyalah sebatas candaan saja.
"Kalian mendingan jujur sama gue dah, apakah elu pada sekarang lagi pacaran? astaghfirullah, Bang istighfar Bang, bukannya elu udah punya istri ya," ucap Bang Falah kepada Bang Udin.
"Sembarangan aja lu Lah! masa gue suka sama sepatu gue sendiri, ada-ada aja lu Lah," ucap Bang Udin merasa jijik dengan ucapan Bang Falah.
....
Setelah Bang Falah berucap seperti itu kepada mereka, dengan seketika Bang Boa pun menjauh dari Bang Udin, dan malahan Sultan yang tengah duduk di atas rak pun sempat memeluk tiang rak, dikarenakan dia takut nantinya akan dijadikan korban oleh mereka di dalam sana.
Tak mau membuang waktu lama, seperti biasa mereka semua kembali melaksanakan tugasnya dengan perasaan serba salah, di mana sekarang Sultan rasanya ingin segera cepat pulang dari sana, dan sementara Bang Falah ingin menetap diam dibidangnya saja tanpa mau membantu mereka lagi.
"Haii, sayang, kalian kenapa sih? dari tadi aku perhatiin kayaknya kalian berdua takut banget dah sama aku di sini," canda Bang Boa membuat Sultan dan Bang Falah merasa geli.
"Jangan deket-deket gue lu Bo! gue tabok lu ya, nanti!" ucap Bang Falah sudah siap memberikan tinjunya kepada Bang Boa.
"Jangan renggut masa depan gue Bang, gue masih ingin menjadi pria normal, kalau lu suka sama laki-laki, gue bisa kasih sepuluh pria yang mau sama lu," ucap Sultan mulai duduk menjauh dari Bang Boa.
"Emangnya ada Tan?" tanya Bang Falah.
"Ada Bang, banci jalanan yang sering minta jatah waktu satu jam, tapi pengen dibayar dengan harga satu juta," bisikan Sultan membuat Bang Falah tertawa lepas.
__ADS_1
Bang Falah mengira Sultan itu tak jauh bedanya dengan Boa, mereka berdua sama gilanya, namun Sultan tak sesableng Boa.
Perlahan Bang Boa mulai mendekati mereka yang tengah asik berbincang berdua, tanpa mereka sadari Bang Boa telah duduk dekat di sampingnya.
Bang Falah teriak ketakutan, teriakannya itu sudah sama dengan teriakan seorang perempuan. Sultan yang tengah duduk di sampingnya itu pun merasa terkejut karena mendengarkan teriakannya yang cukup keras itu di dalam sana.
Bang Udin berlari menghampiri mereka, staf pekerja dibidang Produksi pun ada yang ke luar juga, dan itu adalah Mba Sri.
Bang Boa pernah bilang kalau Mba Sri masih jomblo, dia memiliki darah keturunan sebagai orang Jawa, dia merupakan wanita tercantik di sana, bahkan orang-orang Produksi pun mengagumi kecantikannya.
"Kenapa lu Lah?" tanya Bang Udin terkejut.
"Si Boa ngerayu gue Bang," ucap Bang Falah membuat Bang Udin pergi dari dalam gudang.
Lantas Mba Sri pun bertanya juga kepada Bang Falah, mengapa Falah bisa teriak sekeras itu di sana. Mba Sri sempat menghampiri Bang Boa, namun Sultan menyuruhnya untuk pergi menjauh dari dia.
"Kenapa lu Lah? gue kaget ini," ucap Mba Sri berbicara dengan nada suara seperti biasanya, yakni suara lembutnya yang membuat semua pria tergoda ingin memilikinya.
"Si Boa ngerayu gue Sri," ucap Bang Falah membuat Mba Sri ketakutan.
"Mba, jangan deketin Bang Boa! dia itu gila!" ucap Sultan membuat Mba Sri menjauh dari Bang Boa.
Mba Sri kembali masuk ke dalam ruangan Produksi dengan tergesa-gesa. Sepertinya mulai dari sekarang Mba Sri takan pernah mendekati Boa lagi, bahkan menyuruh Bang Boa untuk mengirimkan barang ke Produksi pun dia tidak mau.
__ADS_1
Bang Boa bukannya takut dijauhi oleh semua orang, dan malah dia malah semakin tertawa lepas sembari merayu-rayu Sultan dan juga Bang Falah.