
Setelah mereka semua berada di dalam Gor sekolah, lantas panitia lain pun dibuat bingung! mereka semua yang ada di dalam Gor sekolah terheran-heran! kenapa bisa siswa nakal itu sedisiplin ini.
Kang Rizab pun di sana selaku ketua Pramuka dan selaku panitia OSIS pun tersenyum, ternyata Sultan benar-benar menepati janjinya untuk membuat nama baik Pramuka semakin di lihat oleh semua guru-guru yang ada di sekolah.
Sultan pun lalu membariskan mereka semua dengan rapi tanpa ada suara sedikit pun yang terdengar di dalam Gor tersebut. Sultan pun lalu maju ke depan ketua OSIS untuk melapor bahwa anggotanya kini sudah berada di dalam Gor semua, tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Lapor Kang, semua anggota saya sudah berada di tempat, tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun," ucap Sultan kepada ketua OSIS dengan lantang.
"Laporan saya terima, kembali ke tempat."
Setelah itu, Sultan lalu menyuruh anggotanya untuk duduk dan lalu menyuruh semua anggotanya itu untuk tertib. Sultan bersama dengan Rere pun lalu pergi ke belakang untuk duduk di kursi yang telah di sediakan oleh panitia OSIS.
Kang Rizab, Kang Rio, Kang Dekri, dan Fadli lalu datang mengahampiri Sultan yang tengah duduk di belakang bersama dengan Rere. Mereka semua adalah kakak kelas yang sama-sama mengikuti organisasi Pramuka juga.
"Kamu udah ngasih racun apa sama mereka Tan? kok, mereka bisa menjadi sedisiplin ini sekarang?" ucap Kang Rizab kepada Sultan dengan terheran-heran.
"Padahal ya, Kang, Rere juga bisa nanganin mereka semua, Rere adalah wanita yang sangat tegas! sehingga semua siswa nakal itu takut sama dia Kang," ucap Sultan yang berusaha merendah kepada kakak kelasnya itu.
"Bohong dia Kang! dia datang ke kelas sambil nendang pintu kelas dengan kencang, dia juga masuk ke kelas sambil bawa penggaris besi yang panjang, dan sehingga mereka semua takut sama dia Kang," ucap Rere menjelaskan semua sebabnya.
Semua kakak kelas itu tersenyum ke arah Sultan, mereka pun lalu meninggalkan mereka berdua di sana. Dan tak lama setelah itu, seluruh siswa baru lain pun mulai berdatangan, mereka pun lalu masuk ke dalam Gor dan duduk sesuai arahan panitia.
Tak terlalu lama menunggu, dan akhirnya ibu Yeli pun datang sebagai guru pertama yang memberikan arahan kepada calon siswa-siswa baru.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, katanya ada kelompok yang masuk lebih dulu sebelum bell masuk berbunyi ya? coba angkat tangannya kelompok tersebut," ucap ibu Yeli.
Dan dengan seketika, kelompok lain mengangkatkan tangannya kerena mereka merasa bahwa kelompoknya datang terlebih dahulu bila dibandingkan dengan kelompok dari Sultan.
Dan di situ lah titik permasalahan pun terjadi! yang di mana, kelompok Sultan tak mau mengalah dengan kelompok sebelah karena mereka merasa bahwa ucapan kelompok sebelah itu tak masuk di akal oleh seluruh kelompok Sultan.
Sultan pun masih duduk terdiam di belakang mereka karena ia merasa bahwa permasalahannya belum terlalu serius untuk di leraikan.
"Kalian deretan siswa-siswa nakal! mana bisa kalian datang lebih awal daripada kita di sini!" ucap seorang siswa dari kelompok sebelah yang sedang mempropokasi mereka.
"Jaga ucapanmu siswa bodoh! justru di sini kita paling awal datang! kalian bilang seperti itu apakah tidak malu! apa urat malu elu udah putus ya, haha," ucap seseorang siswa dari kelompok Sultan.
Suasana pun mulai memanas di dalam Gor, dan sehingga Sultan pun berdiri untuk melerai kelompoknya, supaya tak terjadi keributan di dalam sana.
....
Sultan pun berusaha menggeretak kelompoknya dengan hanya berdiri saja tanpa memarahi mereka. Disuatu sisi Sultan pun merasa jengkel terhadap kelompok sebelah, namun disuatu sisi Sultan juga tak ingin melihat kelompoknya masuk dan terjerumus ke dalam masalah yang baru.
Lantas kelompok Sultan pun terdiam ketika melihat Sultan berdiri menghampiri mereka. Namun, siapa sangka! ternyata di dalam sana Sultan membela kelompok sebelah karena ia merasa bahwa jalan terbaik hanya cukup merendah saja kepada mereka.
Ini bukanlah permainan Sultan, dan tentunya ia membiarkan kelompok sebelah untuk mengambil gelar yang diberikan oleh ibu Yeli sebagai kelompok paling disiplin.
"Kenapa Akang malah membela mereka?" ucap seorang kelompok dari Sultan.
__ADS_1
"Ini bukan permainan kita! kita tunggu waktunya saja untuk mempermainkan mereka kembali," ucap Sultan yang sedang berusaha menenangkan kelompoknya.
Rere hanya duduk terdiam di belakang karena ia tahu bahwa Sultan adalah pria yang sangat pandai, semua bisa dia lakukan demi melihat kelompoknya itu diakui oleh seluruh siswa dan maupun oleh seluruh guru-gurunya tersebut.
"Kalian yang tertib di sini ya, jangan sekali-kali kalian melawan mereka! kita akan bisa mempermalukan mereka kembali dengan cara kita sendiri."
"Dan pegang ini! itu adalah lebaran surat materi yang akan ibu Yeli sampaikan di sana, dan kalian hanya perlu menjawab pertanyaan ibu Yeli saja dengan cara melihat bocoran dilembaran kertas ini oke."
"Kita buktikan kepada mereka bahwa kita juga bisa bermain kotor! ini hanya untuk awalan saja, pokoknya setelah ini kalian bisa mendapatkan gelar kelompok teraktiv," ucap Sultan sembari memberikan kertas bocoran itu kepada mereka.
"Jangan pernah main-main dengan seorang Sultan! atau nanti kalian akan tahu akibatnya seperti apa!" ucap Sultan dalam hati sembari menoleh ke arah kelompok sebelah.
Setelah itu, ia pun lalu duduk kembali bersama Rere di belakang, lantas Rere pun meliriknya dan berpikir! bahwa dia pasti bisa memberikan dampak baik bagi kelompoknya dan juga dirinya sendiri.
Di sana Sultan hanya bisa tersenyum ketika mana ia melihat kelompoknya begitu aktiv. Seluruh pertanyaan yang diberikan oleh ibu Yeli mereka jawab semuanya dengan benar. Dan bahkan kelompok lain pun tak diberi peluang untuk menjawab pertanyaan dari ibu Yeli.
"Apa yang kamu udah lakukan sama mereka Tan? kok, tiba-tiba mereka bisa jadi pandai dengan seketika!" ucap Rere sembari mencubit Sultan lagi dan lagi.
"Kamu sih! terlalu cantik untuk dipandang, jadinya kan aku cepet-cepet merubah sikap ini demi untuk membuatmu terkagum-kagum bahwa Sultan adalah pria yang sangat romantis. Tapi ingat! romantisnya hanya ke kamu saja," ucapnya sembari menoleh ke arah Rere dengan sesaat.
"Kagak nyambung bolot! hehe."
Kali ini Sultan mendengar Rere tertawa kembali, dan di sana ia merasa sangat senang ketika melihat wanitanya itu kembali ceria di hadapannya.
__ADS_1
"Haii, ucapku untuk menyambutmu, sang pujaan hati. Tertawalah sesukamu, hati ini mewakili perasaanmu sekarang, jiwa ini terbangun sesat! ketika mana aku melihatmu kembali tersenyum dan tertawa lagi. Karena kamu lah aku kehilangan arah pandang, karena kamu lah aku bisa merasakan takut, dan karena kamu juga aku mengetahui apa itu arti kata rindu," ucap Sultan dalam hati sembari menatap Rere yang sedang tertawa dengan lepas itu.