
"Engga apa-apa kok, ambil aja," ucap Aisyah yang nampak dia sangat ingin Sultan menerima uang ganti ruginya, namun Sultan sama sekali tak mau menerimanya.
"Ini mah nominal uangnya terlalu kebesaran, yang ada nanti saya malah dituding korupsi lagi, engga usah repot-repot kak, saya ikhlas," ucap Sultan mengembalikan uang tersebut kepada Aisyah kembali.
Aisyah menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dan tersenyum ke arah Sultan sambil mulai mengabsen semua siswa yang tengah berbaris itu.
Satu persatu nama siswa telah disebutkan oleh Asiyah, bahkan nama Sultan pun tak lupa untuk disebutkan olehnya, padahal ia tengah berada di sisinya kala itu, tapi entah kenapa dia masih saja menyebutkan namanya sehingga Sultan pun terkejut mendengarnya.
Siswa yang lain pun masih mengolok-ngolok mereka berdua, dan bahkan teman dari Aisyah juga berbicara sama dengan apa yang Sultan tengah pikirkan itu.
"Padahalkan ya, dia ada di samping kamu sekarang Syah, kenapa kamu masih saja mengabsen, dan menyebut namanya," ucap teman Aisyah tersenyum-senyum sendiri, sehingga dia baru saja membuat temannya itu merasa malu karena Aisyah sudah mulai berani membuat lelucon kepada Sultan.
"Mungkin dia lupa kali kak, atau bisa jadi dia takut kalau misalnya nama saya engga diucapkan, nantinya akan terlewatkan," Sultan memotong pembicaraan Aisyah dengan seketika cepatnya, pada saat dia akan mengucapkan beberapa patah kata bahwa Aisyah benar-benar lupa, bukan melainkan sengaja ingin membercandai Sultan.
Tak lama setelah itu, Pak Rizki pun datang menghampiri semua siswanya yang sudah berada dalam sikap istirahat.
Pak Rizki pun lalu mengambil alih komando untuk memberikan sedikit instruksi serta pencerahan kepada semua siswanya, yang belakangan ini makin banyak saja siswa bolos dengan alasan sakit dan izin.
Tapi, itu bukan kepada teman-teman Sultan, melainkan kepada siswa yang sudah lama melaksanakan tugas prakerinnya di sana.
Teman-teman Sultan mana berani membolos di hari pertamanya PKL, dikarenakan absensi di Perusahaan itu lebih berharga bila dibandingkan dengan absensi di sekolahannya tersebut.
Sultan kembali memasuki Perusahaannya, dan sebelumnya ia sempat bersalaman bersama Aisyah dengan gaya salaman seperti saudara dekat, yakni saling mengepalkan tangan kanannya dan lalu mereka berdua pun saling meninjukan tangan mereka dengan pelannya.
Sesudah apel pagi terselesaikan, kemudian dilanjut lagi dengan briefing di dalam Perusahaan bersama dengan para karywan di sana.
__ADS_1
Seperti biasa Sultan hanya menunggu waktu istirahat dan waktu pulang tiba. Namun, sebelum itu tentunya dirinya harus menyelesaikan tugas bersama Bang Boa.
Tanpa sengaja Dimas masuk ke dalam area Sultan bekerja, yaitu area Raw Matrial. Dia memang sengaja datang untuk menemui Sultan yang tengah asik menghitung jumlah kabel flexible.
Berhubung Dimas belum mendapatkan perintah pekerjaan dari pendampingnya, dan jadi dia pun lebih memilih untuk menemani Sultan saja di dalam sana.
Itu semua mungkin karena dia merasa bosan berdiam diri sendiri, tanpa ada yang mengajaknya berbincang, dikarenakan semua temannya sedang sibuk membantu para karyawan bekerja dibagiannya masing-masing.
Dimas bertanya kepada Sultan, apakah dia mendapatkan kontak Whatsapp dari wanita yang bernama Aisyah itu.
Sultan berpikir untuk apa dia meminta kontaknya, lagian dia berbicara seperti itu kepada Aisyah hanya sebagai candaan saja tidak lebih.
"Bagi kontak Whatsapp dia dong Tan," ucap Dimas yang berharap Sultan akan membagi kontak Whatsapp dari Aisyah itu.
....
Dimas masih tidak percaya kalau Sultan benar-benar tidak meminta kontak Whatsapp dari Aisyah. Mungkin bukan hanya Dimas saja yang akan meminta kontak Whatsappnya itu, melainkan semua temannya pun akan memintanya juga.
"Bukannya elu tadi minta kontak Whatsappnya ya, Tan? jangan bohong lu Tan," ucapnya masih tidak mempercayai omongan Sultan itu.
"Emangnya elu kagak kapok apa Dim, dimarahin terus-menerus sama pacar lu waktu kemarin itu? gue aduin juga lu nanti Dim!" Sultan mengancam Dimas, dan dia pun meminta dia jangan mengadukan hal ini kepada pacarnya di sana.
"Lagian nanti juga dia akan ada di sini Dim, soalnya dia bilang bakalan ditugasin di sini, kurang lebihnya selama satu Bulanan lagi lah," ucap Sultan kembali.
"Emang dia PKL berapa lama lagi Tan?".
__ADS_1
"Gue kan udah bilang tadi bego! satu Bulan lagi. Sebelumnya maaf nih ya, gue mau nanya sama elu, emangnya dia mau gitu kenalan sama elu?" ucap Sultan dengan seketika menumbangkan semangat Dimas.
"Elu mah suka gitu dah Tan! engga ada salahnya kan gue berjuang dulu buat dapetin kontak Whatsapp dia."
"Berjuang untuk mendapatkan kontak Whatsapp seseorang ya, hmm ... gue engga salah dengar kan Dim?" tanya Sultan singkat saja kepada Dimas.
"Kenapa emangnya Tan," balasan Dimas hanya membuat Sultan bingung saja.
"Elu itu aneh Dim! udah punya satu, cukup aja satu, engga usah mencari pendamping yang lain, semua orang beranggapan tidak cukup bila hanya mencintai satu wanita saja, ataupun satu pria saja," Sultan menjeda ucapannya sejenak.
"Ini semua tentang rasa kepercayaan Dim, bila elu beranggapan seperti itu, berarti elu tak sungguh dalam bersinggah di dalam hatinya untuk saat ini."
Itu bukan ucapan terakhir Sultan, dia hanya menjeda sedikit saja kata-katanya untuk dilanjutkan bila Dimas sudah berhenti tersenyum.
Senyuman Dimas terlihat belum tulus, dan sepertinya otak dia telat dalam merespon ucapan Sultan dengan baik. Lantas, Sultan akan kembali berbicara bilamana teman dekatnya itu sudah bisa mencerna semua ucapannya.
"Elu engga tahu kan kalau dia jodohmu atau bukan? maka dari itu tingkatkan lagi rasa kepercayaanmu itu, lagian ya, Dim, kenapa banyak orang yang gagal dalam menjalani suatu hubungan, dikarenakan ini, hati mereka terlalu lugu, mudah terpikat dengan seseorang yang mungkin orang tersebut tidak mencintai lu."
"Cinta itu sebenarnya tidak buta Dim, kalau bukan kita yang membuatnya buta, banyak arti dari kata itu, tetapi mencintai dengan setulus hati hanya memiliki satu arti saja, yakni arti dari rasa sayang yang sesungguhnya," ucapan terakhir Sultan sungguh membuat hati Dimas tersentuh, dan bahkan Bang Boa pun sempat mendengarkan ucapan Sultan tersebut.
Bang Boa menghampiri Sultan dan juga Dimas, dia pun merasakan hal yang sama dengan apa yang sekarang sedang Dimas rasakan juga.
Dia duduk di samping Sultan dengan wajah yang agak sedikit kelelahan, namun Sultan dengan seketika cepatnya mengobati sikap kelelahannya itu.
"Gila-gila! baru pertama kali gue tersentuh dengan ucapan elu itu tadi, belajar dari siapa lu Tan?" tanya Bang Boa yang membuat Sultan terkejut, sejak kapan dia ada di sana.
__ADS_1