
Penjelasan yang sangat panjang itu tak membuat Aisyah bosan dalam mendengarkan semua ocehan Sultan itu, beda hal nya dengan ocehan Sultan yang sebelumnya, di mana awalnya Aisyah mengira bahwa temannya itu takan pernah sanggup membantunya hanya karena sifat Sultan yang terlalu menyebalkan.
Akan tetapi, sekarang Aisyah benar-benar mengubah arah pandang buruknya itu kepada Sultan setelah dia melihat sosok pria rese seperti Sultan itu ternyata memang bersungguh-sungguh ingin membantunya, walaupun pada dasarnya kebingungan Sultan sendiri pun belum terleraikan sampai saat ini.
"Itulah gue Syah, dan itu alasan dia mau menerima sosok pria seperti gue ini, dikarenakan gue dapat mengubah beberapa sifat serta sikap ini menjadi pria rese, pengertian, lucu, bawel, hingga sampai bersikap seperti orang tidak waras pun gue bisa melakukannya asalakan satu yang engga boleh gue lupakan, yakni tetap membuatnya tersenyum lebar."
"Makasih ya, Tan, mungkin nanti gue akan mencoba untuk bersikap seperti yang elu bilang tadi itu," ucap Aisyah singkat, di mana ia hanya bisa memperhatikan raut wajah teman prianya itu saja sambil tersenyum tipis.
Pada saat Aisyah melihat raut wajah Sultan, ternyata dia benar-benar bisa memegang ucapannya itu, bahkan Sultan dapat mengalahkan egonya sendiri dengan cara tetap bersikap sabar.
Bila dipikir-pikir oleh Aisyah posisi Sultan lebih rumit bila dibandingkan dengan posisinya sekarang, di mana bisa dibilang seorang wanita dibuat menunggu oleh seorang pria itu adalah hal biasa, tapi hal ini malah berbalik, di mana seorang pria rantauanlah yang dibuat menunggu oleh pacarnya sendiri.
Bahkan yang lebih mengherankannya lagi sebelum Sultan pergi ke Tangerang, Sultan sempat bertemu dengan wanitanya, dan pertemuannya itu berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan, sampai mana harapan tersebut terlaksanakan hingga senyuman pun terukir jelas diingatannya.
Namun, sangat disayangkan sekarang Sultan terbelenggu bersama dengan sebuah kabar yang hilang berhubungan dengan waktu, sehingga arti dari menunggu sebuah kabar berubah menjadi rasa sabar.
"Sekarang bego! bukannya nanti, soalnya arti dari kata pasti akan terjadi itu jauh lebih indah didengar dan dirasakan bila dibandingkan dengan menanti hal yang tidak pasti akan terjadi."
"Percayalah, menghadapi resiko tidak akan selamanya tertuju ke arah keburukan, melainkan menghadapi sebuah resiko itu juga bisa mencerminkan pendirian kita yang sesungguhnya, dan pendirian itu tidak lain adalah istilah dari sosok jiwa yang pemberani."
__ADS_1
"Menghadapi masalah seperti ini sama saja dengan kamu berkelahi seperti tadi, jangan mau ditaklukan oleh lawanmu, dan jangan pernah berharap dikalahkan oleh cinta, dikarenakan kamu adalah pemilik dari cinta itu."
Lagi-lagi Sultan cerewet di hadapan wanita yang entah dia itu siapanya dia, rasanya Sultan memang terlalu terbawa suasana, dikarenakan sudah sekian lama dia tak menemani teman-teman wanitanya curhat, dan hal itu sudah lama tak terjadi semenjak Rere hadir untuk menemani dirinya.
"Jangan mulai deh! bukannya kita berdua baru aja saling terdiam, tapi kenapa elu malah cerewet lagi di hadapan gue, sebenarnya ucapan elu itu tadi masih gue pikir-pikir dulu Tan, jangan elu tambahkan lagi pelajarannya ya, soalnya otak gue udah mulai buta."
Entah berapa jam waktu yang sudah mereka berdua habiskan untuk berbincang di depan sana, namun akan tetapi rasanya mereka tak ingin membiarkan waktu yang sekarang ini mudah berlalu, bukan karena mereka berdua saling mencintai, tapi karena mereka ingin menghabiskan waktunya untuk mengurus semua masalahnya yang belum terselesaikan juga.
....
"Widihh ... sejak kapan kamu bawa cireng Syah, kayaknya enak nih, boleh gue makan kagak?" tanya Sultan basa-basi padahal dia sudah mengetahui makanan tersebut sudah ada sejak Aisyah datang menghampirinya.
"Tapi, gue mau minta tolong sama lu, tolong elu dulu yang cobain cemilan ini, bukan apa-apa, gue takutnya elu nuangin racun lagi ke makanan ini."
Aisyah tak mau banyak berkata-kata dan dia lebih memilih untuk menuruti suruhan dari Sultan saja, dikarenakan dia takut bilamana membalas ucapan Sultan, maka nanti perdebatan itu akan terulang kembali.
Aisyah mengambil satu cireng itu untuk dia makan, lantas dengan seketika Sultan pun mencicipi langsung cireng buatan Aisyah itu setelah dia mencicipinya lebih dulu.
"Enak juga ternyata ya, sejak kapan kamu bisa bikin cemilan seenak ini, gue kira tadi setelah gue mencobanya gue akan mati, tapi ternyata engga." canda Sutan.
__ADS_1
Candaan Sultan yang sekarang membuat Aisyah benar-benar jengkel, padahal dia sudah mau menuruti apa yang temannya itu minta sekarang, tapi di sana Sultan masih saja tersenyum-senyum tipis sambil meledeknya.
"Gue kira resenya udah ilang semenjak gue membuktikan bahwa makanan gue ini bersih dan dibuat tanpa racun yang dapat mengambil nyawa elu, tapi ternyata gue salah, seorang Sultan memang takan pernah bisa mengubah sifat resenya ini begitu saja, sangat disayangkan ya, padahal tadi sudah manis loh, tapi kenapa sekarang malah menjadi pahit dengan seketika, rasain nih!."
Lagi-lagi Aisyah mencubit lengan Sultan, apalagi sekarang cubitannya itu malah bertambah menjadi lebih keras, sehingga lengan Sultan tak dapat merasakan rasa apa-apalagi, bahkan kulitnya itu hampir saja terkelupas.
Aisyah pun ternyata bisa bersikap seperti Rere, cubitannya sudah setara dengan dia, untung saja Sultan tahu bagaimana caranya menjaga perasaan bersalah seseorang.
"Gila emang dia ini! cubitannya hampir saja membuat semua tubuh gue mati rasa, udah itu cubitannya setara dengan cubitan pacar gue di sana," ucap Sultan dalam hati sambil sesekali mengelus-elus lengan yang tadi sempat dicubit oleh Aisyah itu.
Elusannya sengaja Sultan sembunyikan perlahan demi perlahan karena dia tak mau sampai Aisyah melihat raut wajahnya yang menyimpan rasa kesakitan itu.
Bilamana Sultan menunjukan hal tersebut, maka Aisyah akan mengejeknya tanpa ampun, jadi ia lebih memilih untuk berpura-pura kuat.
"Sakit ya, Tan? makanya jangan rese sama gue! ini baru cubitan doang loh Tan, belum sampai gue mematahkan tanganmu," ledek Aisyah yang membuat Sultan tertawa.
"Coba aja kalau bisa! gue engga takut Syah, apalagi lawannya anak imut seperti elu ini, palingan sekali lempar aja elu udah masuk jurang."
Sultan membalas ledekan dari Aisyah, nampaknya ledekan sosok Sultan terdengar lebih menyayat hati, apalagi suara tawanya dengan seketika menghantui pikiran Aisyah.
__ADS_1
Aisyah berpikir kalau Sultan bukan lawan yang pantas untuk dia hadapi sekarang, di mana seorang Sultan yang sebenarnya itu adalah dia yang tak mudah dikalahkan, dan dia yang tak pernah mudah menyerah kepada siapa pun itu lawannya.