
Perbincangan itu mungkin terhenti hanya sesaat saja, sesudah waktu isya telah terlewati. Seperti biasa di sana ada Rere yang sudah lama menunggunya sampai dia menghubunginya kembali.
Ia adalah Sultan, dia sempat tertidur sebentar, namun tak kunjung lama ia terbangun dari tidurnya yang memang belum terlalu lelap.
Rere terbaring di atas kasur kamarnya, dan yang jelas dia pasti tengah membayangi ataupun menunggu seorang Sultan hadir di malam sunyi, yang entah ia akan kembali menghubungi Rere, entah ia akan melupakan Rere, dikarenakan mungkin malam berkabut ini, Sultan tengah merasakan pegal disekujur tubuhnya sehabis pulang dari pekerjaan yang sangat melelahkan itu.
Sultan terbangun, ia pun dengan cepatnya membuka dan membaca pesan Whatsapp dari Rere, yang memang bilah status dikontaknya itu masih terlihat bahwa dia masih setia menunggu Sultan hingga mana ia kembali mengabarinya.
"Aihh ... kenapa gue bisa ketiduran ya! padahalkan ini baru pukul delapan dah. Rere pasti lagi nunggu gue di sana, kesian pacar gue ini, mungkin engga ada salahnya gue nelepon dia," ucap Sultan dengan seketika cepatnya ia pun segera mevideocall pacarnya, dikarenakan mungkin Rere sedang menunggunya di sana sembari terheran-heran akan memikirkan kenapa dirinya takunjung mengabarinya.
Suara panggilan videocall terus-menerus berdering, namun pada saat itu Rere tidak membunyikan nada dringnya, sehingga dia tak mendengar dan tak menyadari bahwa ada panggilan video yang masuk ke dalam handphone miliknya.
Berhubung Rere waktu itu Rere sempat ke luar dari dalam kamarnya, dikarenakan ibunya sempat memanggil namanya untuk menyuruhnya membatu mengerjakan tugas adiknya, yakni anak laki-laki dari ibunya yang ke tiga.
Ibunda Rere sempat mendengar suara jatuhan benda dari dalam kamar Rere, dan ternyata jatuhan benda tersebut itu berasal dari handphone milik anaknya yang ke dua, dan itu adalah Rere.
Beliau sempat melihat handphonenya, yang di mana panggilan video tersebut beliau lah yang menjawabnya sambil menyapa Sultan dengan lembutnya dan berucap apakah dia baik-baik saja di Tangerang sana.
"Ehh, assalamu'alaikum Mah, dikirain Sultan tadi yang menjawab teleponya itu anak mamah. Gimana kabar mamah di sana sekarang, mamah sehat kan?" sapa Sultan dengan lembutnya kepada beliau.
Sebenarnya tadi itu Sultan hampir saja mengucapkan kata-kata buruknya yang selalu ia ucapkan kepada Rere, contohnya ia sering berucap kata gue, elu, bego, bolot, namun setelah ia menunggu panggilan video itu hingga terhubung, dan ternyata yang menjawab panggilan video itu adalah ibunda dari Rere.
__ADS_1
Untung saja ia tak langsung asal berbicara, dan jadi ia tak perlu merasa takut ibunya melihat sifat asli seorang Sultan itu seperti apa.
"Wa'alaikum Salam, alhamdulillah mamah sehat kok, Tan, kamu gimana di sana, sehat juga kan?" beliau berbicara sama dengan nada suara lembutnya sembari tersenyum di hadapan Sultan.
"Alhamdulillah kalau mamah sehat, Sultan pun di sini sama sehatnya seperti mamah di sana sekarang," ia berusaha mengulur waktu dan tidak langsung menayakan keberadaan Rere.
"Maaf ya, kalau mamah lancang menjawab panggilan video dari Sultan, soalnya Rere lagi ada di depan ruang tamu bersama dengan adiknya."
Penjelasan beliau membuat Sultan tersadar, seberapa sibuk dia hingga menjawab telepon darinya pun sangat lama sekali. Namun, ia tak pernah menyalahkan wanita cantiknya itu, dikarenakan tak ada alasan bagi dia untuk mendahulukan adiknya terlebih dahulu, sampai mana dia benar-benar selesai dengan urusannya tersebut itu.
....
Ibu Rere menghampirinya setelah beliau berbincang bersama dengan Sultan. Beliau memanggil nama anak wanitanya sampai dia tekejut, kenapa Sultan bisa sangat dekat sekali dengan ibunya, padahal anaknya sendiri belum pernah merasakan kedekatan seperti hal nya Sultan.
"Kenapa dah harus masuk ke dalam kamar segala? padahalkan di luar juga bisa Be," ucap Sultan yang memang ia selalu merasa keheranan, kenapa disetiap saat dia meneleponnya, Rere pasti selalu masuk ke dalam kamarnya.
"Di kamar lebih tenang Be, lagian kalau gue tetap diam di luar sana, mungkin mamah gue bakalan bersikap menyebalkan sepertimu," ucapnya, membandingkan sikap dia bersama dengan ibunya.
"Kok, gue malah dijadikan bahan perbandingan ya! lucu lu Re, padahalkan yang lebih rese itu elu."
"Kok, gue sih Tan! yang ada itu mah elu dah, bukan gue yang cantik ini bolot!".
__ADS_1
"Bagaimana tidak Re, setiap saat gue melihat senyumanmu itu, hati gue merasa sedang berbicara bersama gue, entah berbicara apa? tapi dia sepertinya bilang kalau senyumanmu itu ibaratkan rindu yang terdiam menjadi pilu," ucap Sultan, yang sebenarnya dia ingin bertanya kepada Rere, apakah dia merakasakan hal yang sama sepertinya di sana.
"Jangan mulai dah lu Tan! gue tampar nih!" ucapnya kembali menjauhkan pandangannya dari wajah Sultan yang sangat menyebalkan itu.
"Emangnya elu sanggup nampar gue Re? palingan elu nanti bakalan nempel terus dah kalau udah bertemu sama cowokmu ini."
Entah berapa kali dia membuat Rere tersenyum dengan lebarnya seperti itu. Yang jelas dia adalah pria yang sangat menyebalkan, sampai-sampai wanitanya dibuat tak berkutik olehnya.
Rere berpikir, kenapa Sultan selalu bisa membuatnya masuk ke dalam suatu perasaan yang tak karuan, padahal selama prianya itu tinggal di sana, banyak lelaki yang berusaha mendekatinya, namun dia ... seorang Sultan adalah salah satu pria yang dapat membuatnya merasakan arti dari kata bahagia dalam kesunyian rasa itu seperti apa.
Rasa ingin bertemu memang selalu ada menghampirnya disetiap saat mereka berdua memikirkan kenangan manis dibalik cerita cinta, yang bisa dibilang cerita itu memiliki lebih banyak dukanya, daripada bahagianya.
Pertengkaran memang takan selamanya hidup abadi di dalam diri, dan bahkan bahagia pun takan selamanya hidup abadi di dalam dunia ini, terkecuali hidup bahagia selamanya sampai mereka semua dan seluruh keluarganya hidup serta bertemu di surga nanti bersama-sama saling mendampingi.
Itu adalah ucapan yang selalu ia ucapkan dalam doanya, yang di mana kebahagiaan di dunia hanya akan bersifat sementara, dikarenakan kebabagiaan yang sesungguhnya itu ada pada di dunia Allah yang paling terang cahayanya, yaitu surga.
"Tetap jaga senyumanmu itu, walaupun kebahagiaan di dunia ini hanya akan bersifat sementara saja," ucap Sultan yang sengaja menjeda sedikit perkataannya untuk menarik napas panjangnya terlebih dahulu.
"Jangan hanya temani aku di dunia ini saja Re, tetapi temani aku juga, hingga mana Tuhan mempertemukan kita di surganya nanti."
Ucapan terakhir Sultan membuat Rere paham, bahwa apa yang selama ini dia rasakan, benar-benar sama rasanya seperti yang sedang Rere rasakan sendiri.
__ADS_1
Yang di mana, rasa itu adalah rasa takut akan kehilangan sosok pria, serta sosok wanita yang telah mengubah gelapnya malam kelabu, sunyinya malam yang tak asing, dan juga bosannya menahan rasa dingin di malam hari itu menjadi terang, ramai, serta hangatnya rasa cinta yang telah mereka buat berdua selama ini.